Di Nagari Ini, Kabau Padati masih Awet Lestari

Penulis -

Rabu, 4 Juli 2018 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang Pariaman, Prokabar – Di era zaman sudah canggih ini, ternyata masih ada masyarakat yang memanfaatkan Kabau Padati sebagai sarana pengangkut barang. Contohnya saja di Korong Ujuang Pambatang, Nagari III Koto Aua Malintang Batu Basa, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar.

Bila kita berkesempatan melintasi jalan alternatif Sungai Limau menuju Lubuk Basung, saat berada di Kecamatan Aua Malintang, akan sering melihat dan bertemu Kabau Padati tersebut. Salah satu alat pengangkut barang yang sudah ada sejak zaman pra-kolonial hingga zaman penjajahan Belanda.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Yuzalman (56) salah seorang pemilik Kabau Padati tersebut menyebutkan, sudah 15 tahun memiliki dan menjadi mata pencariannya. “Alhamdulillah,
dengan gerobak atau pedati ini anak-anak saya sudah tamat Kuliah dan SMA. Anak pertama sudah berkeluarga, anak kedua saya sudah tamat kuliah dan bekerja di RSU Puwakarta, Jawa Barat. Sedangkan anak ke-3 dan ke-4 Kembar dan baru saja tamat SMA,” ungkap Bapak asal Ujuang Pambatang ini.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Saat ini, lanjutnya, di Nagari III Koto Aua Malintang, ada tiga orang yang memiliki Kabau Padati. Pertama saya, kedua di Korong Padang Lariang bernama Ayun (55) dan terakhir Boneh (50). Alat angkut barang ini masih sangat dibutuhkan untuk mengangkut padi, jagung, sawit atau hasil pertanian lainnya. “Daerah perbukitan ini, masih banyak motor atau mobil yang belum bisa melewati jalan perkebunan. Sehingga Kabau Padati masih sangat dibutuhkan masyarakat. Makanya, transportasi ini masih bertahan hingga saat di sini,” terang Yuzalman.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Untuk sekali angkut, ia diupah masyarakat Rp50 ribu. Rata-rata angkutan bisa mencapai 3 kali dalam sehari. Namun sering pula tidak mendapatkan jasa angkutan barang tersebut.

Bila tidak ada permintaan, Bapak berumur 56 tahun tersebut membajak sebidang sawah, cukup memenuhi kebutuhan keluarganya. “Dan selagi masyarakat masih membutuhkan Kabau Padati, disanalah Transportasi Tradisional ini akan tetap hidup,” tutupnya. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB