Pariaman, Prokabar – Wisata edukasi selalu menjadi kunjungan paling menarik bagi sekelompok keluarga dan muda-mudi. Selain menikmati suasana liburan dan pemandangan indah, wisata ini juga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan tentang alam sekitarnya.
Seperti di Komplek Konservasi Penyu di Desa Apar, Pariaman Utara, Kota Pariaman. Konservasi ini lahir berdasarkan SK nomor 334/523/2010 oleh Walikota Pariaman, tepatnya 20 Oktober 2010. Pada tahun 2013 terbentuklah UPT. Konservasi Penyu dan Pulau-pulau yang berada dikawasan pencadangan ini.
Fungsi utamanya adalah melindungi sistem penyanggah kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis flora dan fauna. Selain pemanfaatan kelestarian ramah lingkungan, juga untuk penelitian, pendidikan serta wisata bahari sehingga berdampak positif terhadap ekonomi kreatif masyarakat.
Aksa Prawira, aktivis peduli lingkungan di Kota Pariaman sekaligus petugas di Konservasi Penyu menyebutkan hampir seribu wisatawan tiap hari berkunjung di Konservasi Penyu ini. Selain melihat dan mengamati beragam penyu, di sini juga tersedia tempat penetasan dan perawatan hewan yang dilindungi tersebut.
Tidak hanya penyu, kata Aksa, di sini juga telah dibuat jembatan hutan mangrove di sekitar komplek. “Setelah menanam Taman Terumbu Karang di Pulau Ujuang Pariaman, kami terdiri dari Komunitas Tabuik Diving Club (TDC) bekerja sama dengan PT. Pertamina (DPPU) Minangkabau membangun Jembatan Hutan Mangrove sepanjang 50 meter.
Tujuan utama kami melindungi habitat flora dan fauna yang ada dalam hutan mangrove. Hutan ini hampir punah karena sering dibabat sama masyarakat akibat ketidaktahuannya tentang pentingnya hutan mangrove bagi kelestarian alam,” Kata Ketua TDC tersebut.
Selain itu lanjutnya, Taman Hutan Mangrove juga dapat dimanfaatkan wisatawan untuk berlibur di sini. Menikmati kesejukan alam sambil mengenal lebih dekat hutan mangrove. Karena di jembatan tersebut juga disediakan papan informasi 8 jenis mangrove yang ada di lokasi tersebut.
“Berdasarkan daftar hadir, pengunjung setiap harinya hampir mencapai ribuan setiap hari berkunjung ke sini. Akibatnya, masyarakat sekitar selaku pedagang merasakan keuntungan adanya Konservasi Penyu dan Taman Hutan Mangrove tersebut,” tutut Aksa.
Untuk tahun 2018 ini, PT. Pertamina akan kembali menambah pembangunan Jembatan Hutan Mangrove sepanjang 50 meter ditambah menara pemantau.
Yulimar Putri Safari (38) salah seorang pengunjung asal Muaro Bungo, Jambi mengatakan baru pertama kali ke Konservasi Penyu dan Jembatan Hutan Mangrove mengaku senang berlibur ke sini. Selain memberi edukasi kepada anak-anaknya, suasana asri alam mangrove serasa menyejukan mereka.
“Kami senang melihat dan merasakan suasana di sini. Selain sejuk juga mendapatkan pengetahuan tentang macam-macam mangrove,” kata Yulimar.
Taman Mangrove, lanjut ibu muda tersebut adalah salah satu taman pelindung dari abrasi laut. Selain itu, banyak hewan pantai yang hidup di dalamnya. Hewan tersebut juga dapat dikonsumsi dan bernilai ekonomis pula pada masyarakat.
“Sudah memang selayaknya hutan ini dilindungi dan dimanfaatkan sebaik-baiknya, sehingga berdampak positif pada masyarakat secara luas,” tutup Yulimar. (rud)
















