Opini

Demokrasi yang Luka Perlu Diobati

Oleh : Bambang Putra Niko

Ketua Panwascam  IV Jurai, Pessel 

 

Kedaulatan rakyat! Kekuasaan tertinggi yang seutuhnya itu dipegang kokoh ditangan rakyat. Rakyat memiliki big power untuk menentukan pilihan dalam memilih calon-calon pemimpin di negeri ini.

Melalui suara rakyatlah, kekuasaan itu diwakilkan kepada orang-orang yang diberi amanah dan tanggung jawab agar bisa memperjuangkan pekik masyarakat dari penderitaan yang menggurita.

Kesejahteraan,kesehatan, pendidikan dan segala aspek yang menyangkut dengan kehidupan masyarakat banyak pada umumnya diperjuangkan melalui pemimpin-pemimpin yang dipilih oleh rakyat.

Tapi fakta berbicara lain. Arus berbalik arah. Jika dilihat, tidak semua perjuangan itu terus diupayakan. Bukan tidak ada, tetapi yang terjadi lebih banyak memperjuangkan keinginan lain ketimbang aspirasi rakyat.

Praktek demokrasi yang digadang-gadangkan sudah luka. Ia tengah cedera serius. Sobeknya semakin lebar bahkan inveksinya menjalar karna lambat mengobati.

Semua terlihat syarat akan kepentingan. Siapa dapat apa, rugi atau berlaba. Dan ia diawali dengan hitung-hitungan.

Seiring pelaksanaan demokrasi yang telah dilewati seolah berubah arti. Seolah baik, tapi belum tentu baik. Seolah hukum telah tegak dengan seadil-adilnya, tapi faktanya lain.

Pengenalan  demokrasi dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat tak seperti itu lagi. Yang terjadi tampak sebaliknya, apa itu? dari rakyat, oleh pemenang dan untuk pemenang pemilu. Inilah demokrasi yang luka.

Hal itu tidak boleh dibiarkan. Ia akan semakin berbahaya. Yang kaya semakin kaya, si miskin multi derita. Kekuasaan yang diamanahkan disalahgunakan. Sumpah dan janji mulai melupa. Janji manis menuai kepahitan.

Semangat awal untuk membawa perubahan dihitamkan oleh nafsu yang tak berhingga karna kursi kekuasaan telah berhasil dicapai. Kondisi ini juga terus memperburuk demokrasi, rakyat kecewa dengan tindak-tanduk yang tak merakyat.

Harapan!!! demokrasi harus betul-betul ditegakkan. Rakyat memilih hendaknya penuh dengan rasa kesadaran dan hatinurani. Cerdas memilih, tidak mudah dipengaruhi, dan mampu melupakan faktor kepentingan pribadi.

Demokrasi yang digadang-gadangkan direpublik ini tahun ke tahun menjadi perbaikan dan pembelajaran. Evaluasi, bila itu buruk. Perbaiki bila itu salah. Sebab belajar dari kesalahan merupakan hal lumrah sebagai pertanda tidak ada yang sempurna. Jangan membiarkan yang sudah rusak bertambah rusak dan yang kotor semakin kotor.

Masyarakat perlu pendidikan politik sehingga bisa memahami akan kekuatan demokrasi itu sendiri. Karna pada prinsipnya demokrasi tersebut adalah partispasi masyarakat yang menggunakan hak pilihnya untuk menentukan calon pemimpin berdasarkan self willing tanpa ada paksaan dan ditopang faktor x dengan tujuan membawa perubahan lebih baik dari segala aspek.

Jangan berniat untuk mencederai demokrasi ini. Bila demokrasi sudah cedera, tentu saja pemimipin pemerintahan yang dihasilkan melalui pemilihan umum itu tidaklah baik. Tidak baik karna cara-cara yang diupayakan untuk meraih kursi kekuasaan bukan lagi berdasarkan demokrasi yang seutuhnya.

Memilih sesuai keinginan hati, iya. Itulah kedaulatan rakyat. Tapi yang menyebabkan demokrasi itu cedera ada pada faktor luar dengan iming segala rupa, sehingga konsistensi pemilihan dari seorang pemilih berubah haluan demikian cepatnya.

Sebetulnya, hal itu bisa saja tidak terjadi apabila kekokohan dan kekuatan pemahaman politik masyarakat memadai. Ada tiga tanggung jawab yang dapat diperkokoh untuk memperbaiki kualitas demokrasi ini lebih pulih. Pertama, kesadaran masyarakat pemilih, partai politik, dan penyelenggara pemilu.

Relevansi tanggung jawab tersebut saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Tanpa didasari kesadaran pemilih, tanggung jawab penyelenggara pemilu dan partai politik dalam memberikan pendidikan politik tidak berfungsi. Oleh sebab itu, tiang utama berada pada rasa kesadaran masyarakat akan demokrasi.

Demokrasi yang cedera harus segera diobati. Tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Luka yang berdarah segera dibalut, diberi obat supaya lekas sembuh. Jangan sampai luka itu menganga semakin besar dan menimbulkan inveksi.

Demokrasi yang cedera bisa membunuh. Tidak adanya usaha pengobatan lebih baik maka membuat demokrasi itu mati. Nafasnya akan terhenti, berdosa bila sakit tak diobati.

Saat ini telah tiba masanya tahun politik untuk menyonsong pemilu serentak tahun 2019. Rakyat bakal memilih secara serentak pada lima kotak suara yaitu memilih calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Kota serta pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.

Besar harapan kedaulatan rakyat tidak dipengaruhi oleh segelintir oknum peserta pemilu yang menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. One man one vote, semua orang memiliki hak suara yang sama. Oleh karenanya, mari menggunakan satu suara itu dengan bijak untuk kebaikan bersama.  (*)

 

Berani Komen Itu Baik
Loading...
To Top