Padang Panjang, Prokabar – Menjual berbagai motif tikar busa, dilakoni oleh para “Sales” asal Tebing Tinggi dari rumah ke rumah. Mereka berkeliling ke berbagai daerah di Sumatera dan sempat singgah di Kota Padang Panjang. Berharap rupiah untuk menafkahi keluarga.
Alfian, akrab disapa Pian tampak lelah waktu ditemui di kota Padang Panjang. Di pinggir trotoar di arah jalan Kantor Lurah Koto Panjang, pria 30 tahun itu tampak menyelonjorkan kakinya yang penat setelah berjalan menjajakan tikar busa, di sekitaran Kota Serambi Mekah. Sesekali ia usap peluh yang telah membasahi muka dan sebagian badan, berharap setelah penat lepas akan kembali melanjutkan perjalanan.
Saban hari, Pian biasanya berjalan sendiri, namun kali ini ia ditemani sohibnya Hendra (30), karena ponselnya yang baru saja hilang. Pian dan temannya menyandang berpulun-pulun tikar, penuh di kedua tangan dan punggungnya.
Kulit muka yang kusam berminyak, rambut pirang tersengat matahari, tak ia hiraukan demi menyambung kebutuhan hidup.
“Saya tak begitu tahu jalan jalan di Kota Padang Panjang, nanti susah juga kembali ke tempat kumpul karena gak ada HP, hilang kemarin, untung teman saya mau berbarengan ,” kata pria asal Tebing Tinggi itu.
Hingga sore, dagangannya tak kunjung laku. Biasanya kalau tak laku dan butuh uang, Pian terpaksa berhutang dengan juragan yang mempekerjakan mereka.
“Kalau gak ada yang laku, terpaksa ngutang buat makan sama bos,” ungkapnya.
Pian dan Hendra merupakan “sales” tikar. Bersama lima orang temannya, dia menjual berbagai motif tikar busa dari rumah ke rumah.
Dengan sistim bagi hasil, mereka menyetorkan setiap rupiah hasil dagangnya ke juragan yang membawa mereka keliling Sumatera. Harga tikar bervariasi dari Rp150 ribu hingga Rp500 ribu. Setelah di Kota Padang Panjang mereka berencana ke Sungai Rumbai. Pian ini mengaku sudah 14 tahun menjadi sales. Dia telah mengelilingi banyak daerah di Sumatera.
“Saya sudah 14 tahun keliling Sumatera jualan tikar, dibawa sama bos, kami satu kampung, asal Tebing Tinggi Sumatera Utara,” Katanya.
Pian bisa mengantongi Rp1 juta atau lebih untuk menafkahi anak dan istrinya setiap bulan. Namun terkadang Pian harus pulang tiga bulan sekali, karena hasil yang dibawa belum mencukupi.
Pian berharap suatu saat bisa berdagang dengan mandiri di kampung halamannya agar dekat dengan keluarga.
“Harapannya suatu saat saya bisa mandiri. Punya usaha walaupun tidak besar, tapi bisa dekat dengan keluarga,” pungkasnya. (eym)
















