Dari Mimpi Anak Kampung: Sekolah Rakyat Terluas yang Mengubah Tanjung Alam

Penulis -

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 13:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Batusangkar, Prokabar – Di tengah hamparan sawah dan bukit yang familiar, Nagari Tanjung Alam, Kecamatan Tanjung Baru, Tanah Datar, tengah menyiapkan sesuatu yang jarang terjadi di Sumatera Barat. Bukan pabrik atau jalan tol, melainkan sekolah. Sekolah Rakyat terbesar di Indonesia, dengan kapasitas 3.000 siswa dan investasi Rp1,5 triliun, berdiri di atas tanah 23 hektare. Angka yang membuat banyak orang bertanya-tanya: kenapa justru di sini?

Jawabannya tidak datang dari langit. Ia datang dari mimpi seorang anak nagari yang dulu main bola di lapangan, mengaji di surau, dan selalu jadi ketua kelas sekaligus juara satu di SD depan rumahnya.

Dony Oskaria, putera asli Gantiang Bawah, Tanjung Alam, membawa mimpi itu pulang.

“Beliau punya mimpi menjadikan nagari asalnya, Tanjung Alam sebagai desa yang sejahtera,” kata Ketua DPRD Tanah Datar, Anton Yondra, di Tanjung Alam, Sabtu (8/8/2026).

Anton mengingat masa kecil Dony yang sederhana.

“Waktu itu tak ada TK di sini, sekarang ada.” katanya.

Tanah 23 hektare itu sendiri punya cerita. Dari 543 nagari induk di Sumatera Barat, hanya 219 yang masih memiliki tanah ulayat. Sisanya sudah beralih jadi tanah negara atau dilepas ke investor. Tanjung Alam memilih jalan berbeda. Ulayatnya dilepas bukan untuk kebun sawit, melainkan untuk bangku sekolah anak-anak dari keluarga miskin.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Prosesnya lewat musyawarah adat bajanjang naiak, batanggo turun, melibatkan niniak mamak, kaum, dan warga.

Legalitas adat berjalan seiring hukum negara. Bersih, tanpa konflik.

Kampus sekolah itu lebih luas dari banyak kampus perguruan tinggi. Bandingkan saja dengan UNP Air Tawar yang menampung puluhan ribu mahasiswa di lahan sekitar 34 hektare. Sebuah Sekolah Rakyat, kampusnya sekelas universitas.

Tanahnya berasal dari keluarga besar Dony Oskaria.

Dony sendiri tumbuh di kampung dengan ritme desa yang biasa: main ke sawah, malala ke bukit, tidur di surau. Di SD yang pagi untuk anak SD dan sore untuk PGA, ia selalu unggul.

“Tidak bisa kami mengalahkannyo doh,” kenang Erman, kawan sekelasnya dulu yang kini menjadi Sekretaris Kecamatan Tanjung Baru.

Kelas IV ia pindah ke Padang, lalu merantau jauh ke Jakarta. Tapi kampung tak pernah lepas dari ingatannya.

Kini mimpi itu menemukan jalannya. Sekolah Rakyat yang dibangun dengan investasi Rp1,5 triliun itu bukan sekadar gedung.

Baca Juga :  ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

“Ini untuk memutus rantai anak kelompok rentan agar bisa bersekolah seperti yang lain. Negara mesti hadir untuk anak bangsa,” kata Dony.

Program Presiden Prabowo ini menargetkan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Semua gratis: pendidikan, asrama, makan, seragam, buku, hingga layanan kesehatan. Secara nasional sudah 166 titik beroperasi di 34 provinsi dengan hampir 16 ribu siswa. Targetnya 200 titik pada 2027. Dan yang terbesar dari semuanya berdiri di Tanjung Alam.

Angka Rp1,5 triliun di Sumatera Barat dalam sepuluh tahun terakhir jarang sekali ditanam untuk pendidikan. Pabrik Indarung VI Semen Padang Rp4 triliun, Tol Padang-Sicincin hampir Rp10 triliun, panas bumi Muara Laboh bertriliun-triliun. Semuanya semen, jalan, dan perut bumi. Baru kali ini uang sebesar itu masuk ke sektor pendidikan.

Dampaknya akan terasa jauh di luar pagar sekolah. Dengan 3.000 siswa yang hidup 24 jam di asrama, dapur sekolah menyiapkan 9.000 porsi sehari. Beras hampir satu ton per hari, telur 3.000 butir, ayam dan ikan berton-ton sebulan. Belanja dapur saja mencapai Rp3–4 miliar sebulan.

Ditambah gaji 400–500 guru dan tenaga pendukung, plus belanja keluarga yang menjenguk tiap akhir pekan, jasa cukur, laundry, hingga fotokopi, putaran uangnya bisa mencapai Rp5 miliar sebulan atau Rp55–70 miliar setahun.

Baca Juga :  Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Angka yang sebanding dengan APBDes puluhan desa. Petani, peternak, pedagang pasar, hingga tukang ojek ikut kebagian.

Satu sekolah, seribu periuk nasi.

Tanjung Alam yang berpenduduk sekitar 9.000 jiwa akan berubah menjadi semacam kota kecil. Bukan karena gemerlap lampu, melainkan karena uang yang berputar.

Lokasinya yang dekat Batusangkar, Payakumbuh, dan Bukittinggi menjadikannya titik pertumbuhan baru di tengah tiga kota tersebut.

Dony juga menyiapkan “taman hutan” seluas 15 hektare di lahan yang sehamparan dengan sekolah sebagai objek wisata.

Masjid, pasar, kantor walinagari, dan kantor KAN akan dipermak. Lapangan bola, basket, dan badminton turut dibangun. Nagari itu akan tampak jauh lebih rancak.

Orang Minang punya pepatah: satinggi-tinggi tabang bangau, suruiknyo ka kubangan juo. Sang ketua kelas yang dulu jalan kaki ke Tabek Patah itu kini pulang. Membawa sekolah, membawa hadiah, mengubah rimba jadi taman hutan, dan menggerakkan roda ekonomi. Itulah efek domino Sekolah Rakyat di Tanjung Alam.

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo
ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia
Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI
Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok
Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut
Jelang Muktamar Muhammadiyah, 10 PWM Sepakati Risalah Bukitinggi
Rahmat Saleh Dorong Keterbukaan Tata Niaga Impor Gula
ADPI Sukses Launching IADP melalui Technical Guidance Book Chapter Writing – Springer.
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 14:08 WIB

Indonesia Cetak Sejarah, Juara Perdana FIFA ASEAN Cup 2026 di Hadapan Presiden Prabowo

Senin, 5 Oktober 2026 - 17:39 WIB

ADPI Lakukan Kunjungan Persahabatan ke Faculty of Education, Universiti Kebangsaan Malaysia

Rabu, 30 September 2026 - 17:37 WIB

Perkuat Ekosistem Digital Aviasi, IAS Hadirkan Layanan Airport Assistance Joumpa di wondr by BNI

Rabu, 23 September 2026 - 10:46 WIB

Rahmat Saleh Salurkan Bantuan Tanggap Darurat untuk Korban Galodo di Solok

Selasa, 22 September 2026 - 12:04 WIB

Calon Ketua Umum DPP AMPI Zigo Rolanda Perkuat Silaturahmi dengan Kader Sumut

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB