Trending | News | Daerah | Covid-19

Ekonomi

Dampak Virus Corona, Nyaris Ancam Sendi Perekonomian, Ini Kata Warga Pessel

Dibaca : 282

Pesisir Selatan, Prokabar – Dampak penyebaran virus corona kini mulai nyaris mengancam pada sendi-sendi perekonomian bagi warga Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumbar.

Dampak ini dirasakan lansung oleh Pedagang di pasar-pasar tradisional mulai merasakan gejala penurunan omset penjualan.

Salah seorang pedagang di Pasar Inpres Painan, Resi (42) mengatakan, gejala penurunan itu mulai terasa sejak dua pekan terakhir. Hal itu seiring dengan merebaknya isu pandemik corona.

Nasrul Abit Indra Catri

“Orang pada takut ke luar rumah, sehingga pasar menjadi sepi. Apalagi selama ini daya beli juga turun,” ujarnya pada Prokabar.com Senin (23/3).

Menurutnya, penurunan omset penjulan mencapai 50 persen. Jika sebelumnya, jual beli per hari bisa mencapai Rp800 ribu, namun saat ini hanya berkisar dari Rp400 ribu sampai Rp300 ribu saja.

Bahkan, beberapa harga bahan pokok mulai beranjak naik. Seperti gula, misalnya. Jika sebelumnya hanya Rp15 ribu per Kilogram, kini mencapai Rp18 ribu per Kilogram. Kenaikkan akibat pasokkan yang minim.

Selaras dikatakan, Midra, Opet (39) mengatakan, penjualan dalam dua pekan terakhir mengalami penurunan drastis.

Apalagi, sejak adanya imbauan larangan ke luar rumah dan pengalihan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah, sehingga pasar menjadi sepi pengunjung.

“Tapi mau bagaimana lagi, mungkin itu yang terbaik untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa di Pessel,” ujarnya.

Kondisi seperti itu juga dirasakan, Alwi (32) salah seorang ojek mengakui adanya penurunan pendapatan. Jika hari-hari biasa, omset yang mereka dapat berkisar Rp50-Rp70 ribu.

Saat ini, untuk mengumpulkan uang Rp30 ribu per hari saja sudah susah. Biasanya pelanggan ojek mayoritasnya siswa sekolah dan ibu-ibu rumah tangga. “Sekarang mereka tidak ke pasar lagi,” tuturnya.

Demikian juga halnya dengan nelayan tangkap. Syafril (49) mengatakan, lemahnya penjualan. Hasil tangkapan kini banyak yang tersimpan, khususnya kualitas eskpor.

Harga dari agen pengumpul di Padang sudah tidak sesuai lagi dengan biaya melaut. Seperti tenggiri, saat ini harga di penampungan turun menjadi Rp32 ribu per Kilogram. Padahal, modalnya mencapai Rp42 ribu per Kilogram.

Agen pengumpul beralasan, semua kargo ekspor tutup. Permintaan dari negara-negara pengimpor juga turun, sehingga stock di gudang penampungan menjadi menumpuk.

“Ya, mau bagaimana lagi. Kalau dijual di pasar lokal, tentu makin parah. Hanya segelintir orang saja yang sanggup beli ikan kualitas ekspor itu di sini,” ujarnya.

Namun, imbauan untuk tidak ke luar rumah selama 14 hari ternyata belum berdampak pada pedagang beras.

Salah seorang pedagang beras Tirza (65) menyatakan penjualannya masih seperti biasa. Harga-harga beras dari berbagai jenis dan kualitas belum mengalami kenaikkan. Saat ini, beras Solok masih tetap Rp15 ribu per Kilogram. Untuk beras Pessel di kisaran Rp13 sampai Rp14 ribu per Kilogram.

Sedangkan beras Thailand Rp11 ribu per Kilogram. “Soal pasokkan, hingga awal triwulan I 2020 ini belum ada gangguan. Inshaa Allah masih lancar, baik dari Solok, maupun dari Pessel sendiri,” tegasnya.

Mereka berharap, pemerinta, baik pusat sampai ke daerah bisa mencarikan solusinya. Jika tidak, nasib rakyat kecil makin terjepit. Sementara, mata pencaharian hanya itu semata.(min)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top