Oleh:
Yuwanda Efrianti
Mahasisiswi Komunikasi Penyiaran Islam
Afdal Salputra
Mahasiswa Hukum Keluarga
Uda Uni Duta Kampus UIN Imam Bonjol Padang 2025
Tidak semua yang sunyi itu mati. Beberapa hanya sedang menunggu giliran untuk bicara lebih keras. Dan COVID-19, sayangnya, bukan tipe yang tahu diri. Ia bukan sekadar virus ia adalah karma yang menyamar, datang membawa cermin dan mengajak manusia menatap wajahnya sendiri.
Minggu ke-20 tahun 2025. Indonesia baru saja turun dari 28 ke 3 kasus mingguan. Statistik yang katanya menggembirakan. Tapi benarkah penurunan itu menandakan keselamatan? Atau hanya senyap sebelum badai? Thailand, Hongkong, Malaysia, Singapura, empat negara tetangga kembali sesak napas. Sementara Indonesia? Baru batuk-batuk kecil, tapi kita tahu, penyakit besar selalu dimulai dari gejala ringan yang diabaikan.
Varian MB.1.1 kini jadi lakon utama di panggung epidemiologi. Namanya memang terdengar seperti model HP murahan, tapi daya rusaknya bisa membuat sistem kesehatan bertekuk lutut. Di India, varian NB.1.8.1 naik pangkat kasus melonjak lima kali lipat. Bukan karena ganas, tapi karena cepat. Virus ini bukan pembunuh ia pelari estafet yang menyerahkan tongkat ke tubuh-tubuh lengah yang terlalu sibuk mencari filter Instagram terbaik.
Kementerian Kesehatan Indonesia sudah mengeluarkan surat edaran. Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, juga mengirim sinyal darurat. Tapi surat edaran tinggal surat, jika masyarakat lebih percaya pada trending topic ketimbang hasil laboratorium. Tak hanya itu, sembari melihat ke akun Instagram @folkative, saat ini sebagian besar menjadikan peringatan itu bahan stand-up comedy dadakan.
“Sudah vaksin tiga kali, masih nambah kah?”
“Mungkin vaksin TBC nyasar ke Covid.”
“MUAK!”
Kalau muak bisa menyembuhkan virus, Indonesia sudah bebas sejak 2020. Tapi sayangnya, ironi tidak menyembuhkan. Satire tidak membangun antibodi. Dan sinisme hanya membuktikan satu hal, kita semakin cerdas membuat lelucon dari luka yang belum sembuh.
Inilah negeri yang katanya paling cepat bangkit dari pandemi. Tapi di balik pembangunan fisik yang megah, rumah sakit diam-diam mulai kehabisan oksigen. Dunia medis bekerja dengan alarm yang tidak pernah berhenti berbunyi, sementara dunia maya sibuk membuat polling “mau pakai filter pelangi atau monokrom buat story vaksin?”
Dulu kita dipaksa mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker. Sekarang? Kita lebih takut cuan orang lain daripada virus itu sendiri. Masyarakat sudah tidak takut mati, tapi takut ketinggalan tren. Lalu ketika pemerintah mengingatkan, kita bilang “lebay”. Ketika korban kembali berjatuhan, kita bilang “ah, kebetulan”.
Beginilah jadinya jika pandemi dijadikan meme, bukan pelajaran. Vaksin dianggap mantra gagal. Padahal dari awal tidak pernah menjanjikan imunitas abadi hanya jaring pengaman agar tidak jatuh terlalu dalam. Tapi kita hidup di zaman di mana suntikan dianggap bisa menggantikan logika. Satu kali suntik langsung jadi manusia super: kebal dosa, penyakit, dan kebodohan.
Ketika dunia lain membangun kolaborasi, edukasi, dan empati, kita sibuk adu teori konspirasi. Negara lain memperkuat sistem informasi dan laboratorium, kita memperkuat komentar netizen dengan punchline yang lebih menghibur dari isi berita itu sendiri. Ketika fakta tidak lagi meyakinkan, yang menang adalah siapa yang paling lucu.
Tapi biar kami beri tahu COVID-19 tidak pernah bercanda. Ia bukan selebgram yang haus perhatian. Ia tidak mencari viral. Ia hanya ingin hidup, dan cara hidupnya adalah dengan menghuni tubuh manusia yang lalai.
Bumi tidak perlu gempa besar atau tsunami untuk mengingatkan manusia siapa yang berkuasa. Cukup setetes lendir di hidung, dan seluruh peradaban bisa tumbang seperti domino. Dunia sedang mencoba normalisasi, tapi lupa: normal yang dulu adalah hasil dari kesadaran, bukan keacuhan.
Jika seluruh peradaban ini adalah kapal, maka COVID-19 adalah lubang kecil di lambung yang pelan-pelan membesar. Dan ketika semua masih sibuk selfie di dekat kapal sambil bilang “semua sudah aman”, jangan salahkan siapa-siapa kalau kapal akhirnya tenggelam tanpa sempat berpamitan.
Karena yang paling mematikan bukanlah virusnya. Tapi keyakinan kolektif bahwa segalanya sudah selesai.
Padahal belum. Bahkan belum dimulai.
















