Catatan Usil: Ketika Marawa Menghilang di Papua

Penulis -

Jumat, 8 Oktober 2021 - 22:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Rizal Marajo

Para atlet Sumatra Barat masih berjuang, bertarung, dan berlomba di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2021 Papua. Medali demi medali mulai dikantongi oleh kontingan Tuah Sakato.

Luar biasa, ada yang dapat emas, ada yang mengamankan perak, dan ada pula yang cuma kabagian perunggu. No problemo, asal dapat medali pasti naik panggung untuk menerima pengalungan medali dan upacara penghormatan pemenang.

Berada di moment The medals ceremonies seperti itu, adalah saat-saat terindah bagi seorang atlet. Di podium itulah mereka mengekspresikan semuanya. Ada kegembiraan, keharuan, pastinya sebuah kebangggaan dengan berbalutkan atribut dan seragam kontingen yang super keren.

Tak terkecuali bagi atlet-atlet Sumbar yang berjuang di arena PON Papua kali ini. Sayangnya, ada yang menggelitik, menimbulkan pertanyaan, sekaligus agak miris, tatkala melihat atlet-atlet Sumbar ada di podium medali.

Salah satu pertanyaaanya, seragam kontingen atau training pack Sumbar itu ada berapa warna?

Begini, Iwan Samurai menerima medali dengan jacket warna putih, tapi pakai bawahan hitam. Beda lagi dengan atlet taekwondo Delva Reski yang berjaket putih, bawahannya juga putih saat menerima medali.

Baca Juga :  Futsal Porprov Sumbar 2026; Tanah Datar dan Padang Pariaman Pastikan Tiket 8 Besar

Sebelumnya, atlet gantole Nsr.Yalatif menerima medali emas pertama Sumbar dengan jacket warna hijau. Ada juga atlet senam putri bergaya dengan jaket hijau muda.

Kalau saja tak ada logo Tuah Sakato, pasti orang akan menilai itu jacket Sumatra Utara atau Jatim yang identik dengan warna hijau. Pokoknya terlihat gado-gado, pelangi,  dan “gaje” training pack Sumbar di hajatan PON kali ini.

Paling miris, ketika atlet angkat besi Pardani menerima medali perak dengan masih memakai celana pertandingan, dengan jaket warna Biru. Sepertinya tak ada emblem berbau Sumbar di jaket tersebut. Apakah atlet ini tak punya seragam kontingen?

Berbeda dengan dua pemenang lainnya dari Lampung dan Jawa Timur, yang tampil begitu rapi, komplit dengan seragam kebanggaan kontingen mereka masing-masing.

Mungkin ini hal sepele, mungkin tak dianggap penting juga. Faktanya di sebuah pesta olahraga, seragam adalah identitas.

Baca Juga :  Turunkan 627 Atlet dan Oficial, KONI Tanah Datar Bidik Posisi Tiga Besar Porprov XVI 2026

Seharusnya tak layak dianggap hanya remeh temeh, jika sudah menyangkut urusan identitas dan kebanggaan daerah.

Setiap daerah pasti memiliki suatu identitas yang membedakan dengan daerah lain, termasuk Sumatra Barat, yang lazim dan bangga disebut sebagai Ranah Minang atau Ranah Bundo.

Identitas daerah, merupakan satu ciri yang dimilki satu daerah yang secara filosofi membedakan daerah tersebut dengan daerah lain, termasuk soal warna khas kebanggaan daerah.

Di Bali misalnya, perpaduan tiga warna yang menjadi khas daerahnya adalah kombinasi merah-Putih-hitam, yang disebut Tridatu. Riau juga bangga dengan warna khas daerahnya, hijau-kuning-merah, yang merupakan simbol warna khas Melayu di Riau.

Sumbar juga punya “Marawa”, dengan warna khas Merah-hitam-Kuning, yang menjadi simbol atau identitas yang sarat filosofi bagi Orang Sumbar atau orang Minang.

Kembali masalah training pack atau seragam kontingen tadi, sepanjang sejarah ikut multi iven, apakah itu PON atau Porwil, atau iven-iven lain yang namanya kontingen Sumbar pastilah konsisten mengusung warna marawa untuk seragam kontingen.

Baca Juga :  Turunkan 627 Atlet dan Oficial, KONI Tanah Datar Bidik Posisi Tiga Besar Porprov XVI 2026

Kalau tidak merah atau kuning sebagai warna dominan, warna hitam selalu ada dalam kombinasi yang melengkapi nuansa kuat marawa di seragam kontingen. Tapi pada PON kali ini tidak terlihat, marawa seperti hilang di Papua.

Sudahlah warnanya tidak seragam, warna yang dipilih juga jauh dari warna khas kebanggaan Sumbar itu. Entah ide atau pembaharuan apa yang terpikir oleh orang yang mengurus seragam kontingen, kita tidak tahu.

Tapi bagi banyak orang yang paham apa itu Sumbar, apa itu Ranah Minang, dan apa itu marawa, akan mengerinyitkan dahi melihat kekacauan di sisi seragam kontingen Sumbar di PON Papua.

Ah.. sudahlah,  urusan seragam saja sudah belepotan ,  bagaimana urusan lain yang lebih rumit.
Apalah arti sebuah warna, mungkin itu kata mereka yang mengurus, yang penting berangkat PON.

Salam simple

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Futsal Porprov Sumbar 2026; Tanah Datar dan Padang Pariaman Pastikan Tiket 8 Besar
Turunkan 627 Atlet dan Oficial, KONI Tanah Datar Bidik Posisi Tiga Besar Porprov XVI 2026
Porprov XVI 2026; Tim Tenis Meja Beregu Putra dan Putri Kompak Sumbangkan Perunggu untuk Tanah Datar
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
Daerah Mulai jujur, KONI Pessel Minta Pelaksanaan Porprov Ditunda
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Futsal Porprov Sumbar 2026; Tanah Datar dan Padang Pariaman Pastikan Tiket 8 Besar

Senin, 5 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Turunkan 627 Atlet dan Oficial, KONI Tanah Datar Bidik Posisi Tiga Besar Porprov XVI 2026

Minggu, 4 Oktober 2026 - 20:22 WIB

Porprov XVI 2026; Tim Tenis Meja Beregu Putra dan Putri Kompak Sumbangkan Perunggu untuk Tanah Datar

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB