Lubukbasung, Prokabar.com – Irman Gusman, Anggota DPD RI datang menjemput aspirasi masyarakat ke wilayah Kabupaten Agam akhir pekan lalu. Rangkaian kunjungan mengobservasi langsung potensi wisata Agam yang sangat menjanjikan masa depan Sumatera Barat.

Se-sampai di sekitar pukul 10.00 WIB di Rumah Dinas, Tari Gelombang menyambutnya. Bupati Agam, Beni Warlis dan jajaran tidak lupa menyebatkan kain Bugih sebagai simbol penghormatan kedatangannya.
Setelah menelan daun sirih penyambutan, Irman Gusman digiring ke dalam rumah dinas. Kesempatan itu tidak disia-siakan Bupati Agam untuk memaparkan sejumlah program unggulan dan potensi daerah Agam.
Program Sawah Pokok Murah, Makan Bergizi Gratis, Bangkik Dari Surau dan Beragam Potensi Wisata menjadi Paparangan kuat menarik perhatian Senator DPD RI itu. Sejumlah keberhasilan program tentu harus mendapat perhatian peningkatan. Namun anggaran yang sangat terbatas saat ini, tentu memberi dampak besar pada pengembangan nantinya.
Usai mendengar paparan program unggulan Bupati Agam, kegiatan berlanjut malam siang dan sholat zuhur. 92 orang Walinagari dan 16 orang Camat Se Kabupaten Agam juga telah menanti di Aula Bupati Agam.
Semua aspirasi masyarakat melalui Camat dan Walinagari Se Kabupaten Agam pun satu persatu tercatat sebagai pertemuan bersejarah dari Kabupaten Agam maupun Senator DPD RI itu. Irman Gusman menjadi secercah harapan selaku pemimpin bangsa, penyalur aspirasi masyarakat saat ini.

Senator 63 tahun asal Padang Panjang ini sangat diharapkan berkontribusi langsung guna menyambung suara rakyat Sumatera Barat, khususnya di Agam ini. Berbagai persoalan dan masalah terutama pembangunan sarana prasarana skala nasional jadi kendala saat ini. Terutama Jalan Padang Lua menuju Simpang Manggopoh, harus berubah dari status jalan Provinsi menjadi Jalan Nasional.
Diskusi tukar pikiran dari Empat Pilar Kebangsaan hingga berbagai keluhan tersampaikan. Semoga menjadi catatan penting untuk terealisasi nantinya.
Jumat pagi, 24 Oktober 2025, Irman Gusman menuju Kecamatan Tanjung Mutiara. Menyambangi sejumlah lokasi penting untuk dapat perhatian serius peningkatan Kesejahteraan perekonomian masyarakat.
Di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Tiku, ia mendengarkan satu per satu keluhan dan harapan warga pesisir yang hidup dari laut namun kian terhimpit keterbatasan fasilitas.
“Pantai Pasir Tiku sudah lama tidak tersentuh oleh program negara. Tidak ada kolam pelabuhan di sini. Karena itu, kita perlu kerja bersama antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat agar kesejahteraan nelayan bisa meningkat,” ujar Irman Gusman.
Kunjungan itu juga dihadiri Sekda Kabupaten Agam, Muhammad Lutfi bersama kepala dinas, camat, wali nagari, dan tokoh masyarakat. Dalam dialog tersebut, Irman menyebut dua langkah konkret yang akan diupayakan. Pertama, pengerukan muara sungai agar kapal nelayan bisa keluar masuk dengan lancar. Kedua, mendorong agar program nasional Kampung Nelayan Merah Putih diterapkan di Tiku pada tahun 2026.
Irman Gusman juga berkesempatan ke Masjid Raya Tiku berdekatan destinasi wisata Mauro Mati. Setiap akhir pekan, lokasi ini ramai wisatawan lokal, menjadi sumber perekonomian masyarakat terbaru saat ini.
Catatan sejarah menyebutkan, Tiku pernah jaya menjadi pelabuhan ternama dan pertama bangsa Eropa berlabuh di Sumatera Bagian Tengah. Jean Parmentier dan Raoul Parmentier asal Dieppe Prancis pada akhir 1529 mencatat melalui Pierre Chignon pilot Kapal dan astronomnya : “Catatan Harian Kapal” (Journal de bord atau travelogue). Terpaut 15 tahun setelah Tome Pires dalam Catatan “Suma Oriental”, Pesisir barat Sumatera pelabuhan rempah-rempah, emas, madu, lada, lilin, kamper, kemenyan dan tanaman obat lignaloe.
Selepas Tiku, Irman Gusman menuju Danau Maninjau. Melihat salah satu dapur produksi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nagari Bayur, Kecamatan Tanjung Raya. berlanjut sholat Jumat dan makan siang di Rumah Makan Batu Lambuik, Nagari Bayua.
Senator penulis buku “Jiwa Yang Merajut Nusantara” puas makan siang, berlanjut ke Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Di sini, Pengusaha Kayu Ternama ini tersentuk kagum terhadap Sosok ulama sekaligus Pahlawan Nasional ini.
Kondisi geografis alam yang keras namun indah ini, melahirkan banyak ulama hebat. Hidup di lereng Bukit sisa letusan Gunung Sitinjau, menciptakan kaldera dan danau nan sejuk.
Meski bangunan museum sudah ada, akan tetapi masih membutuhkan pengembangan disertai sarana prasarana memadai. Harus menjadi standar international karena wisatawan yang berkunjung rata-rata dari Malaysia dan warga Asia Tenggara lainnya.
Semua situs peninggalan ulama yang masih belum tergarap, harus terintegrasi dengan seluruh kawasan danau, perbukitan. Masih banyak lahan dan jalan yang harus terbenahi sehingga wisatawan mancanegara itu berlama-lama di kawasan Danau Maninjau, khususnya di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka.
Dengan wisatawan lama dan menginap di sekitar lokasi, jelas akan menghidupkan ekosistem ekonomi semua sisi. Wisata Sejarah, Budaya, Alam dan Religius dapat terbentuk. Apalagi kampung kelahiran ulama-ulama dan besarnya Organisasi Muhammadiyah, terjadi di negeri ini. Hendaknya jadi perhatian Pengurus Pusat Muhammadiyah hendaknya.
Perjalanan terakhir hari Jumat, 24 Oktober itu berada di Lawang Park. Destinasi pemandangan indah Danau Maninjau terlihat jelas dari sini. Destinasi milik praktisi dan penggiat wisata nasional, Zuhrizul. Menikmati senja di Negeri Atas Awan sambil mencicipi makan malam ala Matur. (rud)
















