Agam, Prokabar — Bupati Agam, Indra Catri turut mengunjungi Rafflesia tuan-mudae di Marambuang, Nagari Baringin, Kecamatan Palembayan, Kamis (2/1). Ia mendampingi kunjungan Wakil Gubernur, Nasrul Abit yang ingin langsung melihat tanaman langka tersebut.
Usai berkunjung, kepada Prokabar.com ia meminta agar BKSDA Sumbar dan Kementerian Kehutanan dapat membantu Pemerintah Kabupaten Agam dalam pengembangan destinasi wisata alam tersebut.
“Ya, tapi aturan-aturan di kehutanan menghambat kita untuk mengembangkan antraksi wisata Rafflesia. Dia khas tumbuhnya, di tempat yang gelap, tidak ada matahari dan tumbuh dimana dia suka. Nah, biasanya jauh dari pemukiman masyarakat,” tuturnya.
Ia melanjutkan kita teriak-teriak Agam memiliki top Rafflesia. Ada jenis Arnoldi dan tuan-mudae, tapi jauh.
“Ya, ada satu tempat seperti posko untuk titik kumpul dan ada pelayanan. Ada lagi pemandu khusus yang mampu menjelaskan tanaman langka tersebut. Kita bikin jalan, tapi tidak diizinkan. Banyak jalan-jalan menuju ke sana, macam ceritanya. Teori saja itu,” keluhnya.
Bupati Agam melanjutkan, katanya hutan untuk kesejahteraan rakyat, hutan untuk kebersamaan, hutan untuk apa, tapi untuk masuk ke hutan melihat keajaiban di hutan, lebih susah memegang hajar aswad.
“Jadi, cara berfikir kita yang harus dirubah. Agam sebagai surganya rafflesia, ya kita bikin antraksi. Kita sudah tau pola, November hingga awal Desember atau topnya akhir Desember mekar. Itu bisa dipola, itu bisa sudah bisa kita pasarkan. Dimana Rafflesia itu paling top, Palupuah atau Palembayan di Selingkar Danau Maninjau.
Selama ini banyak terekspos di Palupuah. Tapi ternyata terbanyak di Selingkar Danau Maninjau. Tambah lagi antraksi Danau Maninjau selain keindahan alam, berenang, bersampan, juga Rafflesia. Tapi kalau menderita begini bagaimana? Hajar Aswad sulit, susah tapi aman. Ini susah dan beresiko,” pungkasnya. (rud)
















