Wisata

Bukittinggi, Bagai Rumah Kedua bagi Pelancong

Foto instagram @abdul.ep33

Padang, Prokabar – Yuk ke rumah kedua, melepas lelah, mengurai penat sembari memandang awan menyaput tipis di pipi gunung. Ke lembah kita ke lembah, menyuruk dari bising kehidupan.

Inilah sebuah kota kecil, hanya perlu 3, 5 jam penerbangan dari Tiongkok misalnya. Dari Malaysia 55 menit belaka. Lalu naik kendaraan jalan darat dari Padang ke rumah kedua kita: Bukittinggi.

Inilah kota Bukittinggi, yang digenggam tiga gunung, Marapi dan Singgalang serta Tandikat, meski yang disebut terakhir agak jauh, namun tetap saja “dekat.” Karena itu, di Bukittinggi, dulu ada nama gedung milik negara bernama Tri Arga, atau puncak-puncak tinggi. Kemudian namanya diganti menjadi Istana Bung Hatta.  Bekas ibukota negara Republik Indonesia ini, berada pada ketinggian 900 sampai 914 mdpl, karena itu suhu di sini selalu sejuk.

Bukittinggi merupakan sebuah kota di jantung pulau Sumatera, satu dari lima pulau besar di negara kepulauan itu. Di sisi kota ini, ada sebuah lembah bernama Ngarai Sianok, yang tebingnya curam tegak lurus setinggi 10 meter atau lebih. Lebarnya sekitar 200 meter dan panjang 15 Km. Di dasarlembah ada beberapa nagari atau desa, yang terkenal Nagari Sianok dan Lambah.  Di Sianok dulu ahli kuliner sarapan pagi, yang tempat jualannya disebut bofet.

Foto instagram @erisonjkambari

Ngarai ini dijaga oleh warga Bukittinggi, Koto Gadang, Sianok Anam Suku sampai Palupuah yangamat dekat ke titik kulminasi matahari di garis Khatulistiwa, Bonjol. Di dasar lembah ada sungai untuk bermain kano dengan waktu 3,5 jam sampai ke Palupuah.  Inilah satu-satunya kota di Indonesia yang ada ngarainya.

Jika Anda landing di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), maka dari sana perjalanan menuju Bukittinggi sekitar dua jam. Melewati lembah bernama Lembah Anai, dengan air terjun dari Gunung Tandikat. Lembah ini, adalah cagar alam, dengan sungai berair deras mengalir di dasarnya. Anda akan melewati sebuah celah antara Marapi dan Singgalang, tempat angin lintang lalu lalang di antara kedua gunung.  Desa-desa Minangkabau akan terlihat di kirikanan jalan.

Masuk Bukittinggi, Anda sudah sampai di rumah sendiri. Memang kota ini bagai rumah kedua. Sampai di hotel, maka berjalanlah, tersedia tangga nan banyak, tersedia jalan yang menurun dan mendaki sebab di sini ada 17 bukit. Tak perlu bawa arloji, karena di jantung kota ada menara Jam Gadang. Buatan Belanda, jamnya buatan Jerman, dibangun 1926. Tiap jam, loncengnya terdengar mendetang kencang. Jam Gadang adalah titik nol kota seluas 25 Km persegi itu.

Foto instagram @abdul.ep3

Dulu kota ini disebut juga Fort de Kock, diambil dari nama jenderal Belanda Henderik Merkus de Kock. Nama jenderal ini dipakai untuk benteng yang didirikan Kapten Bouer. Benteng Fort de Cock dibagun 1825, berdiri di atas puncak bukit Jirek. Di seberangnya di bukit lain, ada kebun binatang. Antara kedua bukit ada kawasan bernama Kampung Cino, di atasnya membentang Jembatan Limpapeh.

Bukittinggi pada akhir pekan ramai oleh pengunjung dari berbagai provinsi di Sumatera Tengah. Jika memesan hotel mendadak, melati sampai bintang empat, takkan dapat, sebab ini adalah kota terbaik untuk wisata di Sumatera. Maka jangan heran, Bukittinggi juga dijuliki Parisj van Java, sebuah sapaan yang diberikan Belanda dan kekal sampai sekarang.

Kuliner? Jangan ditanya, di sini segala ada dan enak semua. (nrs)

 

 

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top