Kesetaraan gender saat ini menjadi salah satu isu yang sering diperbincangkan. Hal ini karena banyaknya kekerasaan, konflik, dan berbagai permasalahan lainnya yang ditimbulkan akibat adanya perbedaan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan, atau disebut juga dengan budaya patriarki.
Patriarki berasal dari kata patriarkat yang memiliki arti bahwa laki-laki ditempatkan sebagai pusat atau memiliki kekuasaan lebih dibandingkan gender lainnya.
Budaya ini berpandangan bahwa perempuan memiliki tingkatan dibawah laki-laki dan memiliki batasan yang tidak dapat melampaui kedudukan laki-laki diatasnya.
Secara singkatnya budaya patriarki merupakan ketidaksetaraan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan.
Perkembangan peradaban di Indonesia sulit untuk dilepaskan dari budaya patriarki, bahkan diturunkan oleh nenek moyang dari generasi ke generasi hingga saat ini.
Jika dilihat kebelakang, banyak kasus yang memperlihatkan laki-laki memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan perempuan.
Prakteknya dapat dilihat diberbagai agama seperti, Agama Yahudi menganggap perempuan dianggap sebagai sumber polusi dan najis, sehingga dilarang untuk menghadiri acara keagamaan.
Di Agama Budha di tahun 1500 SM, perempuan dinikahkan sebelum masa pubertas dan tidak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan.
Di Agama Islam ketika jaman jahiliah, anak perempuan yang lahir akan dibunuh karena dianggap lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk ikut berperang.
Di Indonesia ketika jaman penjajahan, perempuan dijadikan sebagai budak seks bagi tentara asing, serta adanya aturan bahwa perempuan tidak boleh mendapatkan pendidikan.
Berbagai pandangan inilah yang turun temurun diwariskan hingga saat ini.
Data yang dipaparkan oleh SIMFONI-PPA (kemenpppa 2023) menyebutkan bahwa jumlah kekerasan berbasis gender yang terjadi di Indonesia tahun 2023 sekitar 25.183 dimana sebanyak 5.210 korban laki-laki dan 22.176 korban perempuan.
Kekerasan yang dilakukan berupa kekerasan seksual, psikis, dan juga fisik. Data ini menunjukkan bahwa tingginya tingkat kekerasan terhadap perempuan hingga saat ini meskipun sudah memasuki era modern.
Tidak hanya hanya kekerasan pada perempuan, budaya patriarki juga memberikan dampak terhadap domestikasi pada perempuan yang merupakan berpandangan bahwa perempuan hanya sebagai makhluk yang berperan dalam urusan rumah tangga saja.
Sementara itu laki-laki berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga.
Pandangan seperti inilah yang menyebabkan laki-laki merasa memiliki kekuasaan lebih karena berkedudukan sebagai pemimpin dalam rumah tangga, sehingga memunculkan keegoisan dalam berbagai hal yang tak jarang menimbulkan kekerasan.
Mutia Ika pertiwi selaku Sekretaris Nasioanl Perempuan Mahardika menyebutkan bahwa penyebab dari berbagai kekerasan terhadap perempuan karena budaya patriarki yang sudah merekat di Indonesia.
Pemikiran yang menjadikan perempuan sebagai objektifikasi dimana tidak memiliki kontrol dan kuasa terhadap tubuhnya.
Selain kekerasan, diskriminasi kekuasaan juga terjadi pada perempuan di dunia pekerjaan. Laki-laki lebih cerdas, bijaksana, tidak menggunakan hati dalam mengambil keputusan dianggap lebih pantas memimpin suatu perusahaan dibandingkan perempuan yang selalu menggunakan hati, dinilai lemah, dan tidak berani.
Sehingga banyak perempuan yang hanya mendapatkan posisi sebagai pekerja biasa, buruh, dan sebagainya.
Seiring perkembangan zaman, berbagai konflik yang ditimbulkan dari budaya patriarki menimbulkan kesadaraan banyak pihak mengenai pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan.
Hal inilah memunculkan gerakan feminisme yang dilakukan oleh kaum perempuan untuk menghilangkan segala ketimpangan gender yang ada di masyarakat.
Pandangan ini sebenarnya sudah mulai digerakkan dimasa penjajahan oleh Raden Ajeng Kartini, seperti menulis buku yang berjudul “Habis Gelap, Terbitlah Terang”.
Buku ini membahas topik-topik yang relevan dengan kehidupan perempuan di masa penjajahan seperti pendidikan, perkawinan, kesetaraan gender, dan kebebebasan berbicara.
Gerakan tersebut diteruskan oleh para perempuan Indonesia dengan memperlihatkan kemampuan yang dimiliki bisa setara dengan laki-laki, bahkan bisa lebih baik lagi.
Hal ini terlihat dari partisipasi perempuan diberbagai ranah industri, seni, ketenagakerjaan, pemerintahan dan sebagainya yang menarik perhatian publik melalui tema “Women Empowermen”.
Tema ini ditujukan untuk melawan arus patriarki melalui berbagai karya seperti film, buku, ataupun lagu.
Kesetaraan gender juga sudah banyak disadari oleh para laki-laki. Hal ini tak luput karena adanya pengaruh media, pendidikan, edukasi yang diberikan pemerintah, serta banyaknya generasi muda yang lebih terbuka.
Oleh karena itu di era modern ini, tidak hanya perempuan yang menyuarakan hak-haknya, laki-laki yang memiliki pemahaman yang tinggi juga ikut mendukung kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga untuk seluruh dunia.
Meskipun sudah banyak gerakan dan kemajuan, perjuangan dalam mencapai kesetaraan gender harus terus digerakkan agar terciptanya dunia yang lebih adil bagi semua individu. (*)
















