Budaya Kampar, Elok Dijaga

Penulis -

Senin, 27 Mei 2024 - 08:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kabupaten Kampar mempunyai sebuah sejarah yang cukup menarik. Pembagian wilayahnya pada zaman jajahan Belanda secara administratif, dilihat berdasarkan hukum adat. Terdapat beberapa kelompok regional Kabupaten Kampar, yaitu:

  1. Desa

Desa Swapraja meliputi beberapa daerah seperti Kunto Darussalam, Tambusai dan Kepenuhan, Rambah, dan Rokan.

  1. Kedemangan

Kedemangan Bangkinang membawahi daerah Kuok, Salo, Air Tiris, dan Batu Bersurat. Kedemangan Bangkinang menggunakan struktur daerah yang sama dengan Minangkabau yaitu koto, nagari, dan teratak.

  1. Desa Swapraja Bagian

Desa Swapraja bagian Pelalawan meliputi daerah Pangkalan Kuras, Bunut, Serapung dan Kuala Kampar.

  1. Desa Swapraja Bagian Sebapelan

Desa Swapraja ini meliputi daerah Gunung Sahilan, Kewedanan Kampar Kiri, Kuantan Singingi sampai Tapung Kiri dan Tapung Kanan, dan Kesultanan Siak.

Kabupaten Kampar sekarang berada di posisi ke-II di Provinsi Riau dengan infrastruktur pembangunan yang cukup baik. Menurut perspektif sejarah, Kabupaten Kampar termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota yang terdiri dari Bangkinang, Salo, Kuok, dan Air Tiris.

Kabupaten Kampar masih memegang struktur kebudayaan Minangkabau seperti lingkungan tempat tinggal masyarakat, dan kesenian. Dalam lingkungan

 

masyarakat terdapat koto, dusun, dan teratak, sedangkan bagian tradisi seperti ayi ayo onam, batobo. Adapun kesenian yang terdapat di Bangkinang seperti tari piring, randai, calempong, cong, badikiu, berzanzi, dan rebana. Tari piring dan randai merupakan kesenian yang berasal dari Minangkabau dan biasanya dilakukan ketika acara adat serta pernikahan.

Tari piring merupakan salah satu tarian yang berasal dari Minangkabau. Tarian ini dalam Bahasa Minangkabau disebut sebagai tari piriang dengan menjadikan piring sebagai media utama. Dahulu tari piring merupakan sebuah gerakan atau ritual sebagai ucapan rasa syukur terhadap para dewa setelah memperoleh hasil panen. Namun, setelah agama Islam telah masuk ke Minangkabau, maka tari piring tidak lagi digunakan dalam ritual ucapan rasa syukur terhadap para dewa, tapi dilaksanakan untuk hiburan masyarakat dan dalam sebuah acara seperti pernikahan.

Selain tari piring, dalam kesenian Kabupaten Kampar terdapat namanya tradisi Batobo. Tradisi batobo juga disebut sebagai arisan tani karena para petani akan melakukan gotong royong dalam mengerjakan pekerjaan sawah. Kata batobo berasal dari bahasa daerah Bangkinang, memiliki filosofi yaitu suatu pekerjaan akan lebih mudah dan cepat selesai jika dikerjakan secara bersama-sama.

Selain mempunyai unsur makna gotong royong dan kebersamaan, batobo juga memiliki filosofi dalam hal tertib. Setiap anggota batobo harus menunggu jadwal pengerjaan sawah secara bergiliran, dengan kata lain bahwa akan lebih cepat selesai, easy, dan hasilnya dapat dinikmati secara bersama-sama.

Selain batobo yang menjadi ciri khas budaya Kabupaten Kampar, terdapat sebuah tradisi yang dilaksanakan ketika lebaran idul fitri. Tradisi ini dinamakan ayi ayo onam/ zorah atau hari raya enam/ ziarah yang dilaksanakan setelah hari pertama lebaran idul fitri.

Ayi Ayo Onam (hari raya enam) merupakan sebuah tradisi dari daerah Kabupaten Kampar, terkhusus Bangkinang Seberang. Ayi Ayo Onam lebih meriah dilaksanakan daripada hari raya idul fitri. Sebelum melaksanakan ayi ayo onam,

 

terlebih dahulu masyarakat melaksanakn puasa sunnah enam di bulan Syawal. Ayi ayo onam dilaksanakan setiap tanggal 8 Syawal dan terlebih dahulu mengerjakan puasa sunnah enam hari.

Unsur kebudayaan yang ada di Kabupaten Kampar selain tradisi adalah bahasa yang menjadi sarana komunikasi masyarakat. Masyarakat Kabupaten Kampar lebih dominan menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Ocu yang mempunyai kemiripan dengan bahasa Minang.

Ocu merupakan salah satu suku yang tidak terlalu besar di Riau dan Melayu. Suku Ocu adalah orang asli yang berasal dari Kabupaten Kampar dan mempunyai sejarah tersendiri dalam perkembangannya. Penulis mempunyai pandangan tersendiri terkait orang Ocu ini. Penulis berpandangan bahwa orang Ocu berasal dari Minangkabau, karena dilihat dari lokasinya Kabupaten Kampar berbatasan dengan Sumatera Barat. Selain itu dari perspektif sejarah bahwa dahulu Kabupaten Kampar seperti Bangkinang, Kuok, Salo, Air Tiris termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota. Maka hal inilah yang membuat bahasa Ocu hampir persis seperti bahasa Minang.

Bahasa Ocu merupakan percampuran antara bahasa Melayu dan Minang, serta mempunyai kemiripan dengan bahasa Kuantan. Adapun contoh bahasa Ocu sebagai berikut:

No Bahasa Indonesia Bahasa Minang Bahasa Ocu
1 Saya pengen pergi ke Riau Awak nio pai ka Riau Deyen nio poi ka Riau
2 Saya tidak mau makan Ndak amuah awak makan Ndak nio deyen makan do
3 Saya suka dengan dia Aden suko samo paja tu Den cinan ka inyo

 

Dengan kesamaan bahasa antara Ocu dan Minang, hal inilah yang membuat pandangan penulis semakin kuat tentang orang Ocu adalah masyarakat Minangkabau yang merantau dan menetap di Kabupaten Kampar, jauh sebelum wilayah ini masuk ke dalam Provinsi Riau.

 

Fakhrul Haq
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB