Kabupaten Kampar mempunyai sebuah sejarah yang cukup menarik. Pembagian wilayahnya pada zaman jajahan Belanda secara administratif, dilihat berdasarkan hukum adat. Terdapat beberapa kelompok regional Kabupaten Kampar, yaitu:
- Desa
Desa Swapraja meliputi beberapa daerah seperti Kunto Darussalam, Tambusai dan Kepenuhan, Rambah, dan Rokan.
- Kedemangan
Kedemangan Bangkinang membawahi daerah Kuok, Salo, Air Tiris, dan Batu Bersurat. Kedemangan Bangkinang menggunakan struktur daerah yang sama dengan Minangkabau yaitu koto, nagari, dan teratak.
- Desa Swapraja Bagian
Desa Swapraja bagian Pelalawan meliputi daerah Pangkalan Kuras, Bunut, Serapung dan Kuala Kampar.
- Desa Swapraja Bagian Sebapelan
Desa Swapraja ini meliputi daerah Gunung Sahilan, Kewedanan Kampar Kiri, Kuantan Singingi sampai Tapung Kiri dan Tapung Kanan, dan Kesultanan Siak.
Kabupaten Kampar sekarang berada di posisi ke-II di Provinsi Riau dengan infrastruktur pembangunan yang cukup baik. Menurut perspektif sejarah, Kabupaten Kampar termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota yang terdiri dari Bangkinang, Salo, Kuok, dan Air Tiris.
Kabupaten Kampar masih memegang struktur kebudayaan Minangkabau seperti lingkungan tempat tinggal masyarakat, dan kesenian. Dalam lingkungan
masyarakat terdapat koto, dusun, dan teratak, sedangkan bagian tradisi seperti ayi ayo onam, batobo. Adapun kesenian yang terdapat di Bangkinang seperti tari piring, randai, calempong, cong, badikiu, berzanzi, dan rebana. Tari piring dan randai merupakan kesenian yang berasal dari Minangkabau dan biasanya dilakukan ketika acara adat serta pernikahan.
Tari piring merupakan salah satu tarian yang berasal dari Minangkabau. Tarian ini dalam Bahasa Minangkabau disebut sebagai tari piriang dengan menjadikan piring sebagai media utama. Dahulu tari piring merupakan sebuah gerakan atau ritual sebagai ucapan rasa syukur terhadap para dewa setelah memperoleh hasil panen. Namun, setelah agama Islam telah masuk ke Minangkabau, maka tari piring tidak lagi digunakan dalam ritual ucapan rasa syukur terhadap para dewa, tapi dilaksanakan untuk hiburan masyarakat dan dalam sebuah acara seperti pernikahan.
Selain tari piring, dalam kesenian Kabupaten Kampar terdapat namanya tradisi Batobo. Tradisi batobo juga disebut sebagai arisan tani karena para petani akan melakukan gotong royong dalam mengerjakan pekerjaan sawah. Kata batobo berasal dari bahasa daerah Bangkinang, memiliki filosofi yaitu suatu pekerjaan akan lebih mudah dan cepat selesai jika dikerjakan secara bersama-sama.
Selain mempunyai unsur makna gotong royong dan kebersamaan, batobo juga memiliki filosofi dalam hal tertib. Setiap anggota batobo harus menunggu jadwal pengerjaan sawah secara bergiliran, dengan kata lain bahwa akan lebih cepat selesai, easy, dan hasilnya dapat dinikmati secara bersama-sama.
Selain batobo yang menjadi ciri khas budaya Kabupaten Kampar, terdapat sebuah tradisi yang dilaksanakan ketika lebaran idul fitri. Tradisi ini dinamakan ayi ayo onam/ zorah atau hari raya enam/ ziarah yang dilaksanakan setelah hari pertama lebaran idul fitri.
Ayi Ayo Onam (hari raya enam) merupakan sebuah tradisi dari daerah Kabupaten Kampar, terkhusus Bangkinang Seberang. Ayi Ayo Onam lebih meriah dilaksanakan daripada hari raya idul fitri. Sebelum melaksanakan ayi ayo onam,
terlebih dahulu masyarakat melaksanakn puasa sunnah enam di bulan Syawal. Ayi ayo onam dilaksanakan setiap tanggal 8 Syawal dan terlebih dahulu mengerjakan puasa sunnah enam hari.
Unsur kebudayaan yang ada di Kabupaten Kampar selain tradisi adalah bahasa yang menjadi sarana komunikasi masyarakat. Masyarakat Kabupaten Kampar lebih dominan menggunakan bahasa daerah daripada bahasa Indonesia. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Ocu yang mempunyai kemiripan dengan bahasa Minang.
Ocu merupakan salah satu suku yang tidak terlalu besar di Riau dan Melayu. Suku Ocu adalah orang asli yang berasal dari Kabupaten Kampar dan mempunyai sejarah tersendiri dalam perkembangannya. Penulis mempunyai pandangan tersendiri terkait orang Ocu ini. Penulis berpandangan bahwa orang Ocu berasal dari Minangkabau, karena dilihat dari lokasinya Kabupaten Kampar berbatasan dengan Sumatera Barat. Selain itu dari perspektif sejarah bahwa dahulu Kabupaten Kampar seperti Bangkinang, Kuok, Salo, Air Tiris termasuk ke dalam Luhak Lima Puluh Kota. Maka hal inilah yang membuat bahasa Ocu hampir persis seperti bahasa Minang.
Bahasa Ocu merupakan percampuran antara bahasa Melayu dan Minang, serta mempunyai kemiripan dengan bahasa Kuantan. Adapun contoh bahasa Ocu sebagai berikut:
| No | Bahasa Indonesia | Bahasa Minang | Bahasa Ocu |
| 1 | Saya pengen pergi ke Riau | Awak nio pai ka Riau | Deyen nio poi ka Riau |
| 2 | Saya tidak mau makan | Ndak amuah awak makan | Ndak nio deyen makan do |
| 3 | Saya suka dengan dia | Aden suko samo paja tu | Den cinan ka inyo |
Dengan kesamaan bahasa antara Ocu dan Minang, hal inilah yang membuat pandangan penulis semakin kuat tentang orang Ocu adalah masyarakat Minangkabau yang merantau dan menetap di Kabupaten Kampar, jauh sebelum wilayah ini masuk ke dalam Provinsi Riau.
Fakhrul Haq
Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang
















