Trending | News | Daerah | Covid-19

Opini

Booming Ceramah Online


Hikmah Ramadan

Abdullah Khusairi, Doktor Pengkajian Islam, Mengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang
Dibaca : 698

Oleh : Abdullah Khusairi

Doktor Pengkajian Islam, Mengajar di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang

Pandemi Covid-19 meningkatkan kuantitas ceramah online. Muncul mubaligh-mubaligh yang telah berani berhadapan dengan kamera smartphone dan menyiarkan secara live materi-materi ceramah yang mengagumkan. Awalnya satu dua, kini puluhan orang sudah terbiasa dengan ceramah online. Live di media sosial. Tak perlu lagi menunggu panggilan dari pihak televisi dan radio, bisa ditonton secara luas.

Ramadan dan Covid-19 datang bersamaan senyatanya telah membuat orang harus kreatif. Termasuk bagi pengurus masjid maupun para mubaligh. Fenomena ceramah online ini harus diapresiasi dengan cara membagikan kanal-kanal tersebut. Mendengarkannya secara utuh, kapan perlu mendonasikan dana kepada mereka yang telah mau mengorbankan waktu, tenaga dan paket data memberi pengajian agama.

Harapan paling baik adalah lahirnya ulama-ulama yang mampu mengisi sepanjang waktu di dunia maya. Selama ini, jauh sebelum Covid-19, banyak ustadz-ustadz dari aliran pemikiran tertentu saja yang aktif di kanal youtube dan media sosial. Materinya lebih banyak menyeret ke “Islam Politik,” meminjam istilah Snouck Hurgronje (1857-1936).

Hanya sedikit dari ustadz kaum washatiyah yang ambil bagian. Mungkin belum menganggap perlu atau disebabkan jadwal ceramah di masjid-masjid sudah terisi penuh dan menyibukkan sehingga tak ada waktu untuk ceramah secara online. Bisa juga ada kendala teknis dan kemampuan serta tidak terbudayanya untuk menghadap kamera. Di sini masalah awalnya, kamera!

Kamera yang mewakili seribu mata itu, walaupun itu di smartphone, memang membutuhkan latihan menundukkannya. Ada ruang imajinasi yang harus dipakai karena tidak berhadapan langsung dengan jamaah. Ruang itu dibentuk seakan-akan ada seribu jemaah di kamera tersebut. Itu tidak mudah bagi mereka yang tidak akrab. Kadang-kadang sudah akrab sekalipun terasa juga nervous. Ini butuh latihan.

Ceramah online sangat berbeda dengan ceramah offline di masjid-masjid. Perlu kehati-hatian agar tidak dibully jemaah, perlu kecerdasan agar menarik perhatian jemaah. Perlu pula konsistensi agar ada pemirsa setia. Ustadz Abdul Somad (UAS) yang kita kenal sekarang, berangkat dari konsistensi tersebut. Bertahun-tahun ia lakukan sampai ia ditunggu setiap episode ceramahnya. Kadang-kadang kelucuan yang diselipkan sudah berulang tetapi tetap enak didengar karena mengandung ironi dan instrospeksi. UAS dicatat sebagai Ustadz sejuta viewer oleh Majalah Gatra, beberapa tahun silam.

Ceramah adalah ibadah yang memunggung ka’bah, kata guru Ilmu Dakwah kami. Konsepnya adalah membawa pesan untuk menggerakan ke arah lebih baik, ke jalan agama. Membawa perubahan sosial (at-takhyir) secara evolutif maupun revolutif. Ayat-ayat dakwah menerangkan, agar ada setiap ummat yang memilih jalan mengajak kepada kebaikan dan menegah kemunkaran (QS. Ali ‘Imraan: 104-109). Melalui media apapun, harus ada mengabdi di jalan ini dengan berbagai strategi dakwah yang telah disiapkan (QS. An-Nahl: 125). Ilmu Dakwah menyebutkan, ada dakwah bil lisan, bil qalam, bil hal. Pada perkembangannya, berbagai medium tersedia sebagai perangkat untuk melaksanakan ibadah yang memunggungi ka’bah ini.

Setiap uslim adalah da’i jika saja ia mengajak kepada kebaikan, menegah keburukan. Da’i itu umum, secara khususnya disebutkan sebagai penceramah, mubaligh, khatib, guru agama, dosen agama. Ada yang aktif memberikan ceramah dari masjid ke masjid, ada yang hanya di kalangan terbatas.
Ramadan 1441 H ini aktivitas itu terhenti, karena ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Makanya banyak memilih ceramah online, ada juga tidak.

Booming ceramah online ini diharapkan dapat bertahan hingga selesai bulan suci dan konsisten. Dunia virtual selama ini menjadi ajang pergerakan dan pemikiran radikal hendaknya juga diisi oleh kaum moderat (washatiyah). Mengisi dengan pesan perdamaian dan pencerdasan. Membebaskan ummat dari hoax dan fakenews.

Pendapat futurolog Alvin Toffler (1928-2016) beberapa puluh tahun silam masih berlaku. “Siapa yang menguasai informasi maka ia menguasai dunia.” Era informasi memang menuntut penguasaan tidak hanya isi (content), tetapi juga strategi dan media. “Bahkan media itu adalah pesan (medium is message),” kata Marshal McLuhan (1911-1980). Selama ini, cendekiawan muslim memang agak terlambat menguasai media informasi.

Terakhir, selain semestinya bertahan para penceramah-penceramah online ini, harus tetap menambah wawasan keilmuan dan materi yang lebih punya makna agar pemirsa mau bertahan. Kecenderungan publik adalah, mendengar orang lebih cerdas dari mereka. Jika masih sama, biasanya ditinggalkan. Lebih dari itu, buatlah arus baru, jangan pernah terseret arus, terbawa arus, baik karena kepentingan bisnis maupun kepentingan politik praktis. Begitu banyak yang sudah hanyut karena itu sehingga setiap ajakannya tak lagi didengar. Itulah godaan yang datang bagi seorang mubaligh bila sudah memiliki jemaah baik online maupun offline. Teruslah beribadah online! []


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top