Trending | News | Daerah | Covid-19

Bola

Betapa Takutnya Mereka Kehilangan Klub Ini


“New Semen Padang”

Dibaca : 700

Oleh: Rizal Marajo
wartawan Utama

Sabtu, 15 Februari 2020, tim Semen Padang FC melakukan pertandingan dengan klub lokal Rajawali FC di Stadion H. Agus Salim. Tidak ada yang istimewa dari laga ini, karena hanya sebuah ujicoba biasa, yang lazim dilakukan sebuah tim yang akan terjun di kompetisi.

Bahkan skor 4-0 untuk kemenangan Kabau Sirah, juga bukan sesuatu yang spesial. Laga ini terlihat seperti sebuah laga yang lebih sarat fun games-nya. Sama sekali belum bisa dijadikan sebuah parameter untuk menilai kualitas sebuah tim.

Bagaimana mau menilai kualitas permainan, karena para pemain baru berkumpul seminggu, itupun tak serentak datangnya. Tiga hari pertama disibukan dengan seleksi atau penjaringan pemain. Berikutnya pelatih lebih fokus melihat kondisi pemain yang umumnya baru kembali dari libur kompetisi.

Bahkan ada pemain yang baru datang semalam sebelum ujicoba, tapi langsung dimainkan. Bahkan seperti diakui salah seorang tim pelatih, skuad yang sudah lolos penjaringan itu sama sekali belum tersentuh oleh latihan tactical dan strategi. Lawan yang dipilihpun sengaja yang levelnya biasa-biasa saja, kalau terlalu kasar disebut lemah.

Jadi, memang ujicoba itu tak lebih sebuah game untuk mengendorkan urat syaraf setelah dijejali latihan spartan di kamp “Milanello”-nya Semen Padang di Indarung sana. Disamping itu, juga untuk sebuah “misi perkenalan” kepada publik, inilah “New Semen Padang” yang diisi pemain-pemain wajah baru musim ini.

Walau hanya sebuah ujicoba dengan tema yang ringan seperti itu, kabar baiknya tetap ada. Tak lain tak bukan adalah rasa antusias publik menyaksikan pertandingan itu. Lumayan banyak penonton menghuni tribun barat menyaksikan laga untuk ukuran sebuah ujicoba.

Alasan mereka datang pasti dengan beragam alasan. Ada yang penasaran dengan wajah-wajah baru pemain yang selam seminggu ini gencar dipublish di media massa ataupun sosmed. Sangat manusiawi, jika seseorang merasa penasaran dengan sesuatu hal yang baru.

Alasan lain mungkin sekedar penikmat bola level akut, yang haus akan tontonan. “Manusia tribun” yang dalam beberapa waktu terakhir kehilangan tontonan sakaitan rehatnya kompetisi, butuh penyaluran di tribun. Apalagi yang main semen Padang, tentunya langsung disikat.

Tapi mungkin yang lebih menyentuh adalah, mereka datang dengan membawa rasa gembira dan cinta. Mereka datang ingin memastikan bahawa klub kesayangan mereka masih ada, setelah sempat diterpa badai finansial yang sempat mengancam eksistensi klub.

Ketika klub ini menggeliat lagi, merekapun datang. Terlepas dari laga ujicoba tersebut tidak pakai HTM alias gratis, setidaknya ini adalah sebuah isyarat bagus bahwa dikompetisi Liga 2 mendatang, antusias seperti itu akan terus berlanjut. Pesan tersiratnya, betapa mereka takut harus kehilangan klub ini.

Bagimanapun, patut disyukuri bahwa Semen Padang sebagai klub legendaris dan penjaga marwah sepakbola Ranah Minang di kompetisi nasional, sejauh ini masih bisa dipertahankan eksistensinya.

Bagaimana tidak akan senang, “Kabau Sirah” sang klub kesayangan yang sebelumnya terperosok “masuak banda”, walau tertatih-tatih juga bisa keluar kendati dengan berkubang lumpur.

Sekarang lumpur-lumpur itu mulai dibersihkan, luka-luka yang mungkin ada saat terperosok mulai diobati. Bahkan dengan sigap sudah mulai memasang kuda-kuda untuk kembali menuju gelanggang. Pesan tersiratnya, betapa mereka takut harus kehilangan klub ini.

Sepakbola itu adalah cinta. Tak hanya sekedar kalah dan menang, juara atau tak juara, degradasi atau tidak degradaasi. Ada nilai-nilai lebih yang dibawa oleh sepakbola, termasuk oleh sebuah klub bernama Semen Padang.

Ada rasa memiliki, kebanggaan, primordial kedaerahan, dan pastinya rasa takut kehilangan. Semoga, antusias yang terlihat dilaga ujicoba Sabtu sore adalah wujud dari nilai-nilai yang bermuara pada satu kata, cinta. Sebuah bekal lain yang bagus sebenarnya bagi Semen Padang menyongsong Liga 2.

Mengutip ujaran Komisaris Utama Semen Padang FC, Kharul Jasmi, bahwa faktor suporter adalah kunci untuk mempertahankan eksistensi tim ini.“Kehangatan hati suporter itu di dunia persepakbolaan adalah yang utama. Jadi, suporter adalah kunci.”

Semoga kehangatan ini tak cepat berlalu, dan kehangatan itu pula akan membantu mengantarkan Semen Padang kembali ke kasta tertinggi.”Bola, sejarah yang menggelinding di karpet bisnis dan harga diri.”kata KJ.

Harga diri…. itu dia!(*)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top