Bersahaja, Paninjauan Menyambut Ramadan dengan Caranya

Penulis -

Jumat, 9 April 2021 - 14:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rizal Marajo

Menyambut Ramadan di Nagari Paninjauan X Koto, Tanah Datar, mungkin tidak ada tradisi yang benar-benar khusus dilakukan warganya. Datar-datar saja, lebih banyak diisi dengan hal-hal yang bersifat standar saja.

Kalau di daerah lain, mungkin ada tradisi menyambut Ramadan yang sudah legend levelnya, seperti malamang, marandang, ma apam, balimau, dan sebagainya. Tapi di Paninjauan tak populer hal-hal seperti itu.

Bukan mereka tak gembira dengan kedatangan penghulu segala bulan itu. Gembira sudah pasti, tapi mereka menyambutnya dengan bersahaja saja. Lebih kepada hal-hal yang sifatnya membersihkan diri dan hati sebelum “bertempur” melawan hawa nafsu selama sebulan penuh.

Beberapa kegiatan menyambut Ramadan yang mungkin bisa dideskripsikan disini dan lazim dilakukan masyarakat Paninjauan, dan di tempat-tempat lain juga lumrah dilakukan.  Salah satunya adalah gotong royong membersihkan masjid.

Di Paninjauan terdapat beberapa mesjid yang cukup besar, seperti Masjid Jamik Al Wustha di Hilia Balai, Mesjid Kapeh kapeh di Tigo Suku, Masjid Al Bayan di Tabu Baraie, Masjid Nur Su’ada di Sungai Talang, Masjid Ashliyah-Jorong Balai Satu, dan Masjid Dinul Hag di Tebu Baraie, yang dikenal juga dengan Surau Sibunian.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Sengaja disediakan satu hari, jamaah goro bersama membersihkan masjid. Nilai plus yang ingin diambil tentunya adalah kebersamaan, silaturahmi makin erat, dan kesempatan saling bermaafan antar warga.

Hati senang, mesjid pun tacelak, bersih, dan bahkan wangi. Tentu Makin senang dan gembira melaksanakan ibadah khas ramadan, taraweh, tadarus, dan sebagainya.

Ziarah, juga banyak dilakukan, sejalan dengan goro bersama di pandam kuburan kaum atau pemakaman keluarga. Ini hal yang positif juga. Jarang-jarang satu kaum suku bisa terlihat kompak dan berkumpul seperti itu. Salah satu moment terbaik dapat saat menyambut Ramadan itu.

Mamak rumah dan sumando kompak ikut goro, anak kamanakan begitu pula, cucu-cucu yang yang sedang riang-riangnya bermain tak mau ketinggalan, walau cuma pergi bergelut-gelut ke pusara. Tapi anak-anak itu adalah sumber kegembiraan dan kehangatan.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Ada nilai kebersamaan yang mungkin mulai agak rapuh jadi kuat kembali. Kalau ada perselisihan sedapat mungkin dihabisi disana. “Hingga ini keatas, damai-damai dan kompak jugalah kita berdunsanak ini hendaknya.”kira-kira seperti itu asa yang didengungkan bersama-sama.

Mandoa, juga menjadi semacam kebiasaan yang banyak dilakukan di rumah-rumah warga Paninjauan.  Mulai H-3 Ramadan sudah mulai, diundang jugalah orang siak agak satu dua orang ke rumah, untuk memimpin doa.

Keluarga besar hadir, mulai dari orang tua, anak minantu, mamak rumah dan sumando, anak kamanakan, dan cucu. Masakan pun biasanya agak spesial, ada rendang, sampadeh, atau pangek, tentu lengkap dengan parabuang-nya.

“Hingga ini keatas, dek awak ke puasa lah namanya, kok ada nan mangganja-ganja di hati ateh namo anak cucu ambo sadoalnyo, sama-sama kita habisi basamo-samo. Buliah Salamaik kito sadonyo, nan puaso kito diterima dek Nan Satu.”

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Begitu biasanya orang tua yang bahasanya terbata-bata menyampaikan niatnya, saat diminta urang siak. Maka mulailah urang siak gasspoll memimpin doa, yang selalu dimulai dengan baratik agak 33 kali. La Illaha Illalah..La Illaha Illallah.

Kembali ke Mesjid, di Jumat terakhir bulan Sya’ban, Khutbah khatib di atas Mimbar sudah pasti mengutip Surah Al Baqarah 183. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Usai Shalat, setelah berdoa bersama. kesempatan untuk kembali saling bermaaf-maafan sesama jamaah. Indah rasanya, merambat ke ulu hati, tak peduli Corona. Syahdunya berjabat tangan dan berpelukan menyambut Ramadan, membuat mereka lupa corona.

Kegembiraan itu makin paripurna, jamaah melanjutkan makan siang bersama di Masjid, seperti yang dilakukan di Masjid Nur Syu’ada. Setiap keluarga menyumbang nasi bungkus dan lauk-pauknya. Hangat, damai, kebersamaan, dan keindahan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Marhaban Ya Ramadan

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)
Kebenaran, Keniscayaan dan Kebermaknaan  Agama Pada Manusia (Membaca Agama dari Perspektif  Kesadaran, Filsafat dan Kajian Budaya)
Filosofi Kenetralan dan Fungsi Keseimbangan Dalam Menjalani Kehidupan
Aeratie Gebouw dan Rumah Air Kandang Ditabek, Simbol Modernitas dan Jejak Sejarah Air Bersih dari Paninjauan

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Minggu, 13 September 2026 - 08:59 WIB

Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi

Selasa, 8 September 2026 - 11:12 WIB

Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB