Artikel

Bersahaja, Paninjauan Menyambut Ramadan dengan Caranya


Menyambut Ramadan di Nagari Paninjauan X Koto, Tanah Datar, mungkin tidak ada tradisi yang benar-benar khusus dilakukan warganya.

Dibaca : 385

Oleh: Rizal Marajo

Menyambut Ramadan di Nagari Paninjauan X Koto, Tanah Datar, mungkin tidak ada tradisi yang benar-benar khusus dilakukan warganya. Datar-datar saja, lebih banyak diisi dengan hal-hal yang bersifat standar saja.

Kalau di daerah lain, mungkin ada tradisi menyambut Ramadan yang sudah legend levelnya, seperti malamang, marandang, ma apam, balimau, dan sebagainya. Tapi di Paninjauan tak populer hal-hal seperti itu.

Bukan mereka tak gembira dengan kedatangan penghulu segala bulan itu. Gembira sudah pasti, tapi mereka menyambutnya dengan bersahaja saja. Lebih kepada hal-hal yang sifatnya membersihkan diri dan hati sebelum “bertempur” melawan hawa nafsu selama sebulan penuh.

Beberapa kegiatan menyambut Ramadan yang mungkin bisa dideskripsikan disini dan lazim dilakukan masyarakat Paninjauan, dan di tempat-tempat lain juga lumrah dilakukan.  Salah satunya adalah gotong royong membersihkan masjid.

Di Paninjauan terdapat beberapa mesjid yang cukup besar, seperti Masjid Jamik Al Wustha di Hilia Balai, Mesjid Kapeh kapeh di Tigo Suku, Masjid Al Bayan di Tabu Baraie, Masjid Nur Su’ada di Sungai Talang, Masjid Ashliyah-Jorong Balai Satu, dan Masjid Dinul Hag di Tebu Baraie, yang dikenal juga dengan Surau Sibunian.

Sengaja disediakan satu hari, jamaah goro bersama membersihkan masjid. Nilai plus yang ingin diambil tentunya adalah kebersamaan, silaturahmi makin erat, dan kesempatan saling bermaafan antar warga.

Hati senang, mesjid pun tacelak, bersih, dan bahkan wangi. Tentu Makin senang dan gembira melaksanakan ibadah khas ramadan, taraweh, tadarus, dan sebagainya.

Ziarah, juga banyak dilakukan, sejalan dengan goro bersama di pandam kuburan kaum atau pemakaman keluarga. Ini hal yang positif juga. Jarang-jarang satu kaum suku bisa terlihat kompak dan berkumpul seperti itu. Salah satu moment terbaik dapat saat menyambut Ramadan itu.

Mamak rumah dan sumando kompak ikut goro, anak kamanakan begitu pula, cucu-cucu yang yang sedang riang-riangnya bermain tak mau ketinggalan, walau cuma pergi bergelut-gelut ke pusara. Tapi anak-anak itu adalah sumber kegembiraan dan kehangatan.

Ada nilai kebersamaan yang mungkin mulai agak rapuh jadi kuat kembali. Kalau ada perselisihan sedapat mungkin dihabisi disana. “Hingga ini keatas, damai-damai dan kompak jugalah kita berdunsanak ini hendaknya.”kira-kira seperti itu asa yang didengungkan bersama-sama.

Halaman : 1 2

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top