Bendungan Jebol, 500 Hektar Sawah di Tiku Terancam Kekeringan

Penulis -

Selasa, 27 November 2018 - 08:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar — Pasca Banjir besar melanda beberapa waktu lalu, merusak bendungan dan irigasi di Nagari Tiku Utara, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Akibatnya, 500 hektar sawah yang terbentang sepanjang aliran irigasi Batang Tiku tersebut terancam kekeringan. Pasalnya, aliran air sungai melalui bendungan tidak dapat dialiri lagi.

Nasrul (55), salah seorang petani setempat, tengah asik menggali pasir sisa material banjir yang menutupi aliran irigasi. Menurutnya, kejadian tersebut akibat derasnya arus sungai dari Hulu Batang Tiku. Sebelumnya, hujan lebat terjadi sepanjang hari.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Karena tidak kuat menahan terjangan arus sungai, bendungan pun jebol dan hancur. “Selain pasir sisa material banjir dan air yang deras, sejumlah hektar sawah juga rusak. Jalan penghubung sebagai sarana utama warga pun putus karena banjir,” tutur Bapak yang memiliki 4 hektar sawah tersebut.

Bila musim hujan tidak lagi datang, kemungkinan besar aliran sungai tidak akan mengalir karena bendungan sudah tidak ada lagi. “Apalagi air sungai menyusut disaat musim kemarau,” lanjutnya.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Sementara itu, Walinagari Tiku Utara, Amris mengatakan sejak adanya pembuatan bendungan dan normalisasi di sebagian hulu di Kecamatan IV Koto Aur Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, arus sungai semakin kencang menerjang. Apalagi disaat musim hujan melanda daerah tersebut.

“Nagari Tiku Utara menjadi langganan banjir, jalan terban dan amblas serta longsor. Daerah kami dikelilingi sungai Batang Antokan Batang Tiku dan perbukitan. Daerah terendah dan sangat dekat dengan tepi pantai,” ungkapnya.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Selain Bendungan Jebol lanjutnya, Dua jalan utama masyarakat mengalami kerusakan parah. Satu diantaranya putus dan sudah dilakukan goro perbaikan sementara. “Normalisasi sungai adalah solusi dan harapan kami masyarakat kecil di sini. Bila tidak, bencana banjir, jalan amblas dan putus serta kerusakan lainnya akan terus menghantui kehidupan kami,” tutup Walinagari Tiku Utara tersebut. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB