Bencana Longsor Menghantui Warga Galapuang Dan Pandan

Penulis -

Senin, 5 Agustus 2019 - 10:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – Bencana longsor masih menghantui masyarakat Jorong Galapuang dan Pandan, Kanagarian Tanjung Sani, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam. Pasalnya, setiap hujan lebat melanda daerah tersebut, sering disusul dengan kejadian longsor atau galodo.

Menurut Sofian (58), salah seorang warga Pandan, baru-baru ini telah terjadi galodo di aliran sungai didekat rumahnya. Beruntung kejadian tersebut tidak sampai ke rumahnya.

“Kejadian berlangsung sekitar dua minggu lalu. Hujan sangat deras sudah berlangsung sejak pukul 3 sore. Sekitar pukul 5 sore, terdengar dentuman keras seperti gempa besar disertai getaran tanah yang sangat kuat. Kami pun keluar rumah untuk mencari sumber suara. Terlihat jembatan penyeberangan dari arah utara, sudah tertutup lumpur dan bebatuan besar,” ungkap Sofian.

Baca Juga :  Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Ia melanjutkan setelah dilakukan pengecekan, akses jalan satu-satunya penghubung masyarakat setempat sempat lumpuh dan terputus. “Ternyata ada tiga titik longsor yang menutupi badan jalan. Sehingga tidak bisa dilalui kendaraan,” terangnya.

Bencana longsor dan galodo sering terjadi, terutama di saat hujan deras melanda daerah tersebut. “Kami masih kuatir, kejadian serupa kembali terjadi. Kemungkinan, kondisi hulu sudah mengalami kerusakan. Hal ini perlu menjadi perhatian semua pihak,” ujarnya.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Sebelumnya, pada bulan Juni, bencana longsor dan banjir juga dialami Jorong Galapuang. Akibatnya, sebuah Masjid dan rumah dipenuhi lumpur dari aliran anak sungai.

“Kejadian sempat berulang sebanyak 3 kali. Menurut masyarakat setempat, ada batu besar menghambat saluran anak sungai sehingga meluap ke lokasi yang tidak seharusnya. Agar itu tidak terjadi lagi, dibutuhkan alat berat memindahkan batu besar tersebut,” terangnya.

Baca Juga :  Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Kami berharap lanjutnya, kondisi ibi harus dirumbukan bersama-sama. Seluruh lapisan masyarakat Kanagarian Tanjung Sani bersama Pemerintah Daerah, harus mencarikan solusinya. Agar ancaman longsor atau galodo tidak menimbulkan kerugian materil maupun bahkan nyawa manusia nantinya.

“Kita harus memikirkan dan mencari solusi bersama-sama, agar permasalahan bencana ini tidak kembali sering terjadi di kampung halaman kita ini,” pungkasnya. (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 
Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh
KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:56 WIB

Kontrak Baru Adhi Karya Capai Rp8,9 Triliun, Moeharmein Sebut Kebutuhan Infrastruktur Nasional Terus Tumbuh

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:21 WIB

KAI Divre II Sumbar Terus Perkuat Keselamatan Perlintasan Sebidang Kereta Api

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB