Agam, Prokabar — Buya Hamka pernah mengatakan, “Ikan laut yang dipanggang hangus baunya akan keluar juga,” ujar Ustad Dasri, Pemandu di Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka kepada Prokabar.com saat berkunjung beberapa waktu lalu. Begitu juga dengan kisah menarik Buya Hamka lainnya yang banyak terabaikan. Cerita tersebut semestinya sangat menginspirasi bagi generasi muda saat ini.
Nama asli Buya Hamka adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. “Hamka lahir tanggal 17 februari 1908 dan wafat 24 juli 1981,” lanjut Ustad Dasri. Hamka seorang jurnalis yang berbakat dan sosok mencintai sejarah yang dianggap berjasa terhadap negara. Ia memiliki lika liku kehidupan yang sangat susah dari mulai kecil hingga menjadi tokoh ulama besar.
“Buya hamka seorang tokoh yg sangat menyukai buku-buku yang ada di perpustakaan, sehingga ia rela menyapu perpustakaan demi dibolehkan membaca buku yang ada di sana,” ungkap pemandu museum tersebut.
Umur 12 tahun, Buya Hamka memiliki niat untuk merantau ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu, dan terlebih dulu meminta izin kepada ayahnya untuk pergi. Akan tetapi ayahnya Inyiak Rasul sempat melarang. Ayahnya berkata “Kenapa harus jauh-jauh pergi merantau mencari ilmu. Sedangkan di sini kamu sudah mendapatkannya seperti ilmu agama Islam Mesir,” Akan tetapi Buya Hamka pun tetap bersikeras untuk pergi ke Pulau Jawa.
Ada suatu kisah Hamka memulai perjalanan kaki dari Kampungnya Tanah Sirah, Sungai Batang berjalan sampai Padang Panjang. Ia melanjutkan perjalanan darat sampai ke Bengkulu. Di tengah perjalanan Hamka sakit campak dan penderitaan yang sangat luar biasa. Berkat bantuan seorang dermawan dan baik hati, hingga berhasil kembali ke Maninjau. Karena perjalanannya sempat terhambat waktu itu, pada umur 15 tahun Buya Hamka melanjutkan niatnya ke Pulau Jawa,” tutur Ustad Dasri.
Setibanya di Jawa, Hamka menemui rumah A.R Sutan Mansur, salah satu murid terpintar dari ayahnya Inyiak DR. Di sana beliau menemui ulama-lama besar pahlawan yang telah lama diimpikan selama ini. seperti Cokro Aminoto, R.M Cukrono, Kiyai Haji Ahmad Dahlan dan lainnya.
Di rumah A.R Sutan Mansyur, beliau dididik dan dilatih untuk berqutbah secara lancar. Mendidik seorang yang mubaliq berperilaku lebih baik. Selepas dari sana, Buya Hamka memulai perjalanan menapaki dan menjelajahi negara negara Islam seperti Aljazair, Arab Saudi dan Mesir.
“Di saat Buya Hamka pulang dari Aljazair beliau ingin pergi ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji pertama. Saat itu beliau berumur 20 tahun. Seusai melaksanakan haji, beliau langsung ke Medan dan masih enggan untuk kembali pulang kampung. Setelah dibujuk A.R. Sutan Mansur melalui permintaan Syekh Abdul Karim untuk pulang.
Di sesampai di kampung halaman, Ayahnya tersebut bertanya kabar Hamka dan bertanya, sudahkah kamu mengerjakan Haji? Hamka menjawab sudah yah,” tutur Ustad Dasri seraya menuru kata Buya Hamka menjawab pertanyaan Inyiak Rasul.
Ayahnya pun bertanya lagi mana baju dan jubah yang kamu bawa dari Mekah? Hamka menjawab tidak ada yah. Ulama besar itu pun berdiri dan pergi kamarnya. Mengambil jubah milikinya dan diberikan kepada Hamka, dipakai saat memberikan qutbah di mesjid didekat rumahnya.
Di Mesjid Inyiak De Er itu, ayahnya membimbing Buya Hamka untuk naik ke atas mimbar dengan penuh harapan. Hamka pun menunjukan kemampuan yang dipelajari selama di pulau Jawa dan di Mekah. Qutbah yang sangat menyentuh hati masyarakat. Hamka mendapat pujian oleh warga karena isi qutbah sangatlah bagus.
Buya Hamka diundang oleh Raja Aljazair, dan menjadi tamu kehormatan di Siak. Di sana Buya Hamka diberi gelar Doctor karena kepintarannya melebihi kemampuan mubaliq pada umumnya. “Begitulah cerita menginspirasi dari Buya Hamka yang dapat dijadikan inspirasi, dan contoh teladan yang sangat mendidik generasi muda saat ini,” tutup Ustad Dasri. (adi/rud)
















