Belajar Mengurangi Emisi Selama Pandemi

Penulis -

Senin, 4 Mei 2020 - 08:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Robby Jannatan, Dosen Biologi FMIPA Universitas Andalas

 

Padang, Prokabar — Pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh Negara di duniamenerapkan pembatasan sosial besar–besaran, baik berupa lockdown atau semi-lockdown untuk mencegah penularan virus Sars-Cov-2 atau virus corona. Presiden Jokowi kemudian juga menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diIndonesia melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 21 Tahun 2020 sejak 31 Maret lalu untuk mencegah penularan virus. Sejalan dengan peraturan tersebut, Menteri Perhubungan juga mengeluarkan peraturan yang tertuang di dalam Permenhub No. 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19.

Penerapan PSBB dan pelarangan mudik lebaran telah berdampak kepada berkurangnya mobilitas manusia dalam menggunakan transportasi di darat, udara danlaut. Efek dari hal tersebut berupa berkurangnya emisi zat karbon di udara karena konsumsi bahan bakar fosil yang menurun secara drastis.

Salah satu dampak baik dari berkurangnya emisi di udara bisa dilihat dari kota Wuhan, China sebagai kota pertama yang merasakan pandemi Covid-19. Sebuah penelitian menyatakan bahwa telah terjadi penurunan emisi gas NO2 yang merupakan salah satu gas berbahaya hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi dan kegiatan industri. Penurunan gas NO2 tersebut tidak hanya terjadi di kota Wuhan, namun juga terjadi di beberapa kota besar di China. Selain gas NO2, Kadar PM2.5 yang merupakan partikel polusi di udara yang dapat masuk ke paru-paru juga ikut menurun.


Penurunan emisi tersebut terjadi karena tidak adanya mobilitas manusia yang berarti selama lockdownditerapkan. Akhirnya, kualitas udara menjadi meningkat hingga7-8%. Kematian akibat polusi udara juga terus menurun di kotaWuhan.

Manusia sejak revolusi industri di Eropa telah mengeksploitasi dan menggunakan bahan bakar fosil secara besar-besaran sehingga kualitas udara menjadi menurun. Udara bersih semakin susah dicari. Global warming menjadi semakin parah. Carbon footprint manusia terus membesar. Carbon footprint adalah salah satu istilah yang digunakan untuk menggambarkan dampak yang ditimbulkan oleh manusia kepada lingkungan karena konsumsi bahan bakar fosil, bisa dihitungdari besarnya volume emisi yang dihasilkan dari aktivitasmanusia.

Pandemi Covid-19 yang sedang terjadi sekarang menjadiajang untuk mengevaluasi diri dalam mengurangi penggunaanbahan bakar fosil yang berlebihan. Keberlanjutan bumi dengankualitas udara yang bagus harus tetap dipertahankan demigenerasi mendatang. Masyarakat bisa mengganti atau memilih kendaran yang digunakan dengan kendaraan yang lebih hemat bahan bakar, emisi sedikit, atau yang telah menggunakan energiy ang terbarukan.

Memilih menggunakan sepeda atau berjalan kaki ke tempat yang jaraknya dekat jauh lebih baik dibandingkan menggunakan kendaraan bermotor. Pola hidup lainnnya yang juga bisa diterapkan seperti memilih makanan dan minuman lokal, karena makanan dan minuman yang diimportakan menyumbang emisi yang besar ke udara untuk transportasinya.

Komitmen setiap Negara dalam mengurangi emisi untuk kualitas udara yang lebih baik juga harus berdampak nyata di tengah masyarakat. Dukungan pemerintah sangat dibutuhkan dalam membuat regulasi yang lebih pro kepada lingkungan dalam pemanfaatan teknologi yang hemat energi atau menggunakan energi terbarukan dalam penyediaan alattransportasi massal dan kegiatan industri.

Pandemi Covid-19 telah mengajarkan cara berdisiplin diri dalam mematuhi aturan-aturan sederhana seperti social distancing, namun juga memperlihatkan sisi lain dari dampak aktifitas manusia seperti banyaknya polusi udara yang telah tercipta selama ini. Pandemi akhirnya menjadi ajang untuk evaluasi diri agar bijak dalam memanfaatkan sesuatu. Energi fosil merupakan energi yang tak terbarukan dan bisa habis suatu saat nanti, sudah saatnya beralih ke energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan. Mendidik generasi penerus dengan gaya hidup yang ramah lingkungan dan menerapkannya kepada diri sendiri akan membuat udara di bumi menjadi jauh lebih baik untuk dihirup. (***)

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Agama yang Membebaskan atau Masyarakat yang Menindas?
Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Menguat di Awal 2026
PTS Terjepit, LLDIKTI Jangan Diam: Saat Jalur Mandiri Membesar, Keadilan Pendidikan Dipertanyakan
Potret Kegagalan Pendidikan dalam Melahirkan Manusia Beradab
3,37 Persen, Alarm yang Tidak Boleh Dianggap Biasa
Tahun 2026: Proyeksi Perbaikan Ruh(iyah) Ke-Minangkabuan Kita
Uang Harus Berputar di Daerah: Lima Prioritas Pemulihan Bencana Sumatera Barat
Sungai Sudah Bicara, Pemerintah Masih Membisu

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 22:42 WIB

Agama yang Membebaskan atau Masyarakat yang Menindas?

Rabu, 6 Mei 2026 - 09:23 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Menguat di Awal 2026

Kamis, 30 April 2026 - 10:53 WIB

PTS Terjepit, LLDIKTI Jangan Diam: Saat Jalur Mandiri Membesar, Keadilan Pendidikan Dipertanyakan

Selasa, 14 April 2026 - 21:35 WIB

Potret Kegagalan Pendidikan dalam Melahirkan Manusia Beradab

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:07 WIB

3,37 Persen, Alarm yang Tidak Boleh Dianggap Biasa

Berita Terbaru