Oleh Siti Awal Syaravina| 2010721004
Mahasiswi aktif jurusan sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang
Judul Buku : Maaf Tuhan, Aku Hampir Porak-poranda karena Perasaan.
Penulis : Alfialghazi
Penerbit : Sahima (Kelompok Penerbit PT Magenta Media)
Tahun Terbit : 2021
Halaman : x +190 halaman
Salah satu buku yang ditulis oleh Alfialghazi yang berjudul “Maaf Tuhan, Aku Hampir Porak-poranda karena Perasaan” sangat relevan sekali dibaca oleh generasi muda saat ini yang sedang patah hati karena terlalu mengejar cinta manusia. Mengapa tidak? Buku ini akan membawa kita berjalan lebih jauh, menuntaskan segala duka dan derita, menuju puncak tertinggi dalam mencintai, yaitu mengikhlaskan segala yang sudah pergi. Buku ini menemani para pembaca dalam menjalani proses patah hati, mulai dari jatuh karena perpisahan, merasa porak-poranda sampai bangkit kembali dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan.
Alfialghazi, penulis buku ini, adalah seorang ayah dan seorang suami. Ia menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Transportasi Darat lulusan Diploma III LLASDP, menjadi seorang perwira muda transportasi. Ia kemudian mengabdi pada Badan Usaha Milik Negara, yaitu PT Kereta Api Indonesia, namun kariernya akhiri setelah 2.5 tahun mengabdi dengan pensiun dini secara terhormat. Ini merupakan keputusan besar yang ia tempuh sekaligus merubah hidupnya. Kini ia tercatat sebagai pembelajar di Ma’had Abu Ubaidah, Kota Medan menekuni bidang Bahasa Arab dan studi Islam. Selain itu aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, siosial, dan dunia tulis menulis.
Dalam bukunya yang berjudul “Maaf Tuhan, Aku Hampir Porak-poranda karena Perasaan” ini berisikan berbagai macam kalimat motivasi terkait fase-fase yang dialami oleh seseorang yang mengalami patah hati. Motivasi ini dibagi ke dalam 53 judul. Pada bagaian awal pembahasan, buku ini membahas mengenai cinta, karena cinta pada dasarnya adalah salah satu bagian terbesar yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Cinta yang dimaksud Alfialghazi disini ialah menggantungkan cinta terhadap manusia.
Pada bagian pertangahan isi buku, buku ini mengajarkan bagaimana cara memeluk luka dengan memeluk diri sendiri, menelan kekecewaan, perlahan mengikhlaskan atas semua yang telah terjadi. Pada bagian akhir buku, kita sebagai pembaca seolah dibimbing oleh Alfialghazi, penulis buku ini, dari lembah lara akibat patah hati menuju titik tertinggi dalam mecintai yaitu senantiasa menjaga keikhlasan, ikhlaskan segala yang telah berlalu dan kembali mendekatkan diri kepada Sang pemilik hati itu sendiri.
Bagaimana proses hijrah, perjalanan iman, proses istiqomah dan hal-hal baik lain yang harus kita lakukan semasa hidup. Dalam buku ini, juga banyak kita temui nasihat dan motivasi dalam bentuk puisi yang juga diselipkan dengan beberapa analogi kisah pada zaman Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Berangkat dari latar belakang penulis yang memutuskan untuk mendalami studi Islam dan bidang Bahasa Arab, sekiranya buku ini menjadi salah satu bukti perjalanan hidup Alfialghazi meraih kehidupan yang lebih baik.
Dari uraian di atas, jika kita kaitkan dengan kehidupan zaman sekarang, tentunya buku ini sangat relevan dibaca oleh semua kalangaan terutama remaja. Karena pada fase remaja, penulis akan membantu remaja dalam menemui jati dirinya. Terutama bagi kamu yang sedang membutuhkan motivasi untuk belajar istiqomah dan menggapai cinta-Nya.
Bagi kaum muslim, tentunya buku ini sangat bisa dijadikan untuk pedoman dan pembelajaran sebab buku ini secara jelas menulis tentang bagaimana melepaskan rasa cinta yang salah, belajar mengendalikan rasa, merelakan seseorang yang tidak bisa dimiliki, menyadarkan diri bahwa Allah-lah tempat sebaik-baiknya kembali dan menjaga agar tetap istiqomah.
Setiap kisah dan alur yang diceritakan penulis dalam buku ini sangat disusun dengan hati-hati dan tidak bertele-tele sehingga mampu menampar para pembaca yang merasa hampir menyerah dalam menghadapi perasaan.
Keberadaan buku ini sangat mampu menguatkan siapa saja yang sedang mengalami patah hati, kekecewaan, kesedihan dan membutuhkan kekuatan untukkembali kepada-Nya dan bangkit untuk memperbaiki diri.
Kemudian pada bab pembuka terdapat quote “Teruntuk para pengembara rasa, jika yang kau inginkan adalah cinta tanpa ada luka di dalamnya, maka tak akan pernah kau temukan yang semisal itu, kecuali cinta Tuhan kepada hamba-Nya.”
Quote ini dirasa mewakili keseluruhan buku yang menjadi jawaban dari mengapa kata “hampir porak-poranda karena perasaan” menjadi bagian dalam judul buku? Karena dengan menggantungkan harapan pada manusia, harus siap menanngung luka dan kecewa karena cinta sejati yang tulus hanyalah cinta Tuhan pada hamba-Nya.
Secara fisik tampilan buku ini membuat pembaca seolah enjoy menikmati setiap kata yang disajikan. Pemilihan warna dengan tema monokrom membuat penulis terkesan dalam melihat setiap lembarnya dan membuat perasaan dan emosi pembaca tetap stabil. Isi buku juga sangat relatable dengan kehidupan zaman sekarang terutama untuk orang-orang yang sedang merasakan patah hati karena perasaan, disampaikan melalui nasihat-nasihat terkesan seperti tidak menggurui tetapi tetap dapat diterima oleh pembacanya.
Dengan segala keunggulannya, sulit bagi saya menemukan kritik atau celah terhadap buku karya Alfialghazi ini. Namun, pada bagian isi buku yang seolah monoton dan terdapat pemilihan bahasa secara berulang membuat pembaca seolah bosan terhp cerita yang disajikan. Meski demikian, buku karya alfialghazi ini tetap sangat layak untuk dibaca dan diserap keluasan pengetahuan serta motivasi-motivasi untuk hidup dan kembali mengharapkan cinta-Nya. (*)
















