Trending | News | Daerah | Covid-19

Ekonomi

Beginilah Cerita Asal Mula THR Itu, Bro!

Dibaca : 332

Padang, Prokabar – Tunjungan Hari Raya (THR) saat ini sudah menjadi komponen pengupahan di perusahaan dan pemerintahan.

Jika tak dibayar bisa diusut. Jika telat ke injury time bisa didemo. Lalu THR pertemanan, di luar skema itu juga harus dibayar. Biasanya di laci pejabat BUMN dan pemerintahan ada amplop. Isinya uang jumlah tertentu di laci kanan, jumlah tertentu pula di laci kiri.

Ini apa semua? Kenapa mesti ada THR segala? Kapan mulainya gerakan massal ini?

Dikutip dari historia.id, THR bermula kala Kabinet Soekiman Wirjosandjojo dari Partai Masyumi.

Kabinet tersebut dilantik Presiden Sukarno pada April 1951. Salah satu program kerja kabinet Soekiman, meningkatkan kesejahteraan pamong pradja (kini, ASN). Menurut Saiful Hakam, peneliti LIPI, kabinet Soekiman membayarkan tunjangan kepada pegawai di akhir Ramadhan Rp125 (waktu itu setara dengan US$11, sekarang setara Rp1.100.000) hingga Rp200 (US$17,5, sekarang setara Rp1.750.000). “Bukan hanya itu, mula-mula kabinet ini juga memberikan tunjangan beras setiap bulannya,” kata Hakam.

Tak pelak lagi soal tunjangan itu mendapat respons negatif dari kaum buruh. Kaum buruh merasa diabaikan. Mereka yang berjibaku kerja keras memeras keringat bakal hidup anak-bini di rumah tak dapat perhatian apa pun dari pemerintah. Itu sebabnya pada 13 Februari 1952, buruh mogok, menuntut minta tunjangan dari pemerintah. Bukan pemerintah Republik Indonesia namanya kalau mengikuti keinginan buruh. Tentara pun turun tangan supaya buruh tutup mulut. Bungkam.

Terus, kenapa bisa THR menjadi kebijakan kabinet Soekiman dari Masyumi itu. Bukan rahasia lagi kalau sebagian besar pamong pradja bin pegawai negeri itu terdiri dari para priayi, menak, kaum ningrat turunan raden-raden zaman kumpeni yang kebanyakan berafiliasi ke Partai Nasional Indonesia (PNI). Dus, ceritanya Soekiman mau ambil hati pegawai dengan memberikan mereka tunjangan di akhir bulan puasa dengan harapan mereka mendukung kabinet yang dipimpinnya. Masuk di akal juga kalau para pegawai itu, yang katanya gajinya kecil itu, dapat sedikit dana tambahan buat menghadapi lebaran. Nah, sejak itulah THR jadi anggaran rutin di pemerintahan bahkan sekarang kalau ada perusahaan yang mangkir tak bayar THR karyawannya bisa kena tegur pemerintah, bahkan kena pinalti.

Kondisi Hari Ini

Uang, katanya lebih tua dari sopan santun. Lebih tua pula dari peradaban. Karena itu uang jadi penting.

Hari raya adalah hari bahagia tapi uang tak ada. Sapu rantau, semua mengaku tak punya. Ketika ASN dan karyawan menerima THR dari komponen upah, maka di luar itu masih ada pihak yang merasa harus dapat pula.

Dua tahun lalu ekonomi mudik saja Rp100 triliun, belum lagi yang tak mudik. Uang baru beredar. Sehabis lebaran semua habis. Semua lupa akan hari bahagia. Yang diingat dompet kempes. (nrs)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top