Aur Malintang, Prokabar — Masyarakat Korong Sungai Pingai, Nagari III Koto Aur Malintang Selatan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumbar semakin didera penderitaan. Pasalnya, akses jalan yang satu-satunya dimiliki, mengalami masalah dari ujung perbatasan kabupaten maupun menuju pusat pemerintahan nagari.
Pada jalan pertama, terletak antara perbatasan Korong Sungai Pingai dengan Jorong Kubu Anau, Nagari Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Jalan itu mengalami amblas dan tidak bisa dilalui roda empat sejak beberapa waktu lalu.
Kendaraan roda dua sudah bisa melalui jalur itu, namun harus melalui ladang warga. Untuk mengakut hasil pertanian seperti beras, kelapa dan sawit, terpaksa dilansir bongkar muat.
“Sebagai jalur utama mengangkut hasil pertanian ke pasar tradisional, jalan tersebut menjadi sarat utama perekonomian untuk sejahtera masyarakat. Karena penduduk berjumlah sekitar 13 ribu jiwa atau 430 KK tersebut mayoritas petani. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, kami harus mencangkul sawah dan membuat ladang,” ungkap Walikorong Sungai Pingai, Alimin.
Parahnya, harga beras dan sawit semakin anjlok akibat mahalnya biaya transportasi, pasca terputusnya akses tersebut. “Harga beras biasanya Rp5.500 perkilo, sekarang hanya menjadi Rp4000 perkilo. Harga sawit Rp800 perkilo, sekarang anjlok menjadi Rp450 perkilo,” terang Mukhtar salah seorang pedagang sekaligus petani asal daerah terpelosok tersebut.
Sambil membongkar beras dari mobil Daihatsu L 300, dua buruh angkat kembali mengangkut sekitar puluhan karung berisi beras menyeberaingi jalan amblas tersebut. Beras dalam karung itu kembali dimuat ke atas mobil L 300 yang sudah menanti sebelumnya.
Sementara itu, di ujung jalan menuju Pusat Pemerintahan Nagari IV Koto Aur Malintang Selatan, warga terlebih dahulu melalui nagari tetangga (Nagari III Koto Aur Malintang Batu Basa). Gawatnya, jembatan satu-satunya penghubung terancam putus karena mengalami rusak parah.
“Jembatan itu sudah pernah amblas dan tidak bisa dilalui. Karena kebutuhan pendidikan dan segala aspek kehidupan masyarakat, akhirnya warga goro menyambungnya lagi,” Tutur Mukhtar.
Kami sangat berharap kepada Pemerintah Padang Pariaman, untuk bisa memperhatikan kami di daerah pelosok ini. Segera memperbaiki dan membangun kembali jalan kami ini. Tekanan harga pangan mencekik kehidupan kami di pelosok ini,” tutup Tokoh Masyarakat tersebut. (rud)
















