PADANG – Penulis best seller, dari penerbit Grasindo dan Bukune JS Khairen gelar rangkaian road show dua novel karya terbarunya, Kado Terbaik dan Kami (Bukan) Fakir Asmara.
Seratusan penggemar JS Khairen pun memadati Gramedia Padang, Minggu (24/4).
“Ini road show karya terbaru saya di 22 tempat mulai dari Solok, Semarang, Solo, Jogja, Kampus UNNES, Kampus UNHAS, Makassar, GenBI Solo, Bandung, 13 titik Gramedia di Jabodetabek dan terakhir yang ke 22 di Gramedia Padang,” katanya.
Suasana akrab dan hangat tampak di acara tersebut. Penggemar pun bisa bertanya mengenai novel Kado Terbaik maupun karya JS Khairen yang lain. Setelah acara bincang-bincang, JS memberi kesempatan pada penggemarnya untuk foto dan meminta tanda tangan. “Silakan mau berapa buku juga akan saya tanda tangani,” ujarnya.
Dia mengatakan, antusiasme terhadap novel Kado Terbaik sangat tinggi sejak diluncurkan.
Dari 22 titik road show yang dilakukan, antusiasme penggemarnya juga cukup tinggi. Khusus di Padang, memang tidak terlalu ramai.
“Yang ramai itu, Semarang, Jogja, Makasar sama Bandung. Tapi suasananya di Padang sangat ramai, peserta menghujani pertanyaan soal novel, soal menulis dan lainnya,” kata Khairen.
Dia mengatakan, Novel Kado Terbaik merupakan cerita tentang adik kakak. Di Indonesia umumnya, kita sangat jarang berbicara dalam (deep talk), jarang mengapresiasi antara adik kakak.
“Padahal kado terbaik itu adalah keluarga, kakak adik kita sendiri. Seharusnya kakak adik itu menjadi teman terbaik untuk saling cerita ataupun curhat,” katanya.
Ia mengatakan keluarga adalah tempat pulang. Tempat kita kembali selepas berlelah-lelahan sekolah maupun bekerja.
Di acara tersebut juga Khairen meminta salah satu penggemarnyq yang beradik kakak untuk menyampaikan apresiasi, curhatan, apa yang selama ini belum mereka sampaikan.
“Kado terbaik bukan duit yang banyak bukan pangkat dan liburan, tapi kakak dan adeknya sendiri,”imbuhnya.
Kemudian terkait Novel Melangkah kata Khairen adalah novel yang bercerita tentang seseorang yang tidak bisa bernegosiasi di rumah. Seperti tidak boleh menginap di rumah teman, tidak boleh keluar kota sama teman-teman.
Khairen menyebutkan pada penggemarnya, apapun pekerjaan nanti negosiasi harus bisa dilakukan. Kalau di rumah aja tidak bisa negosiasi bagaimana dengan dunia luar.
Ia mengqtakan sering menulis pada pukul 4 pagi selama 2 jam sampai 3 jam sehari. Bahkan ia menyebutkan banyak menulis di gadget.
“Yang penting itu konsisten. Belajar konsisten 2 halaman sehari, bikin habbit nya dulu. Kalau sehari 2 halaman, setahun 800 halaman, itu sudah jadi 3 novel, jadi sangat mungkin menerbitkan 3 novel setahun,” imbuhnya.
Ia mengingatkan untuk menjadi penulis jangan dikendalikan oleh mood tapi bagaimana mengendalikan mood. Atur waktu, misal scrol hanya sampai jam 10. Kasih waktu atau deadline untuk mood.
Dia mengatakan, sebuah karya sastra harus ada manfaatnya bagi pembaca. Baginya tak butuh lama menulis buku, namun yang lama adalah riset dan data yang layak. (mbb)
















