Pariaman, Prokabar – Fadhilla Gusrianto merupakan anak pertama dari pasangan Agus Arianto (38) dan Musfitri Yuliani (32) warga Sampan, Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumbar. Meski demikian, mereka tetap bersemangat dalam pengobatan Fadhila.
Musfitri berharap agar Fadhila bisa disembuhkan seperti anak – anak lainnya walau memakan waktu lama. “Ini adalah pengalaman buruk yang kami lalui. Dan kami berharap tidak ada yang mengalami nasip sama seperti Fadhila. Untuk itu kami mengimbau kepada ibu hamil untuk dijauhkan dari asap rokok. Kemana pun jangan lupa menggunakan masker, agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.
Tepat 20 Juli 2018 kemaren, Fadhilah genap berusia tujuh bulan. Dia adalah bayi mungil manis, akan tetapi menderita positif Rubella CMV (Cytomegalovirus). Rubella atau campak Jerman adalah infeksi virus yang ditandai dengan ruam merah pada kulit. CMV adalah virus umum yang dapat menyebar luas dan menginfeksi siapa saja. Rubella CMF umumnya menyerang anak-anak dan remaja namun tidak kemungkinan pada ibu hamil.
“Fadhila terkena Rubella cmf sejak dalam kandungan. Namun selama dalam kadungan tidak ada kelainan dan masalah. Sama seperti ibu hamil lainnya, hamil 9 bulan dan sampai melahirkan Fadhila. Hanya saja berat Fadhila dibawah standar 2,2 kilo saja,” kata Musfitri Yuliani ketika ditemui Kampanye Imunisasi Campak dan Rubella (MR) di MTsN 1 Kota Pariaman, Rabu (1/8).
Ia menjelaskan, pada berusia dua bulan, saat menyusui tidak seperti bayi lainnya. “Penglihatan Fadhila menerawang dan diperiksa ke bidan desa lalu kemudian dirujuk ke RSUD Pariaman. Ternyata disana anak saya didiagnosa katarak bawaan lahir. Kemudian pihak RSUD pun membuat rujukan lebih lanjut ke RSU M.Djamil Padang,” ungkap Ibu muda itu.
“Fadhila menjalani cek labor mata untuk mengetahui lebih lanjut penyakit yang diderita. Satu minggu kemudian hasil keluar dan fadhila positif Rubella CMV. Ia harus konsultasi lebih serius ke dokter spesialis anak. Proses pengobatan masih berlanjut karena Fadhila mengalami jantung bocor dan pendengaran yang terganggu,” tambahnya.
Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Pariaman Rio Arisandi membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan saat ini ada dua pasien yang masuk laporan terkait Rubella, namun hanya keluarga Fadhila yang membuka diri untuk dibantu pengobatannya. “Dan satu lagi memilih berobat sendiri, padahal Dinas Kesehatan akan selalu membantu pasien dalam hal pengobatan lebih lanjut agar pasien bisa disembuhkan,” Tutup Rio. (rud)
















