Padang, Prokabar – Banjir besar yang melanda Sumatera Barat sejak pekan lalu kembali membuka tabir lama tentang aktivitas pembalakan liar yang selama ini disebut-sebut terjadi secara masif namun senyap. Pembalakan skala kecil, namun tersebar di berbagai titik hutan, disebut terus berlangsung tanpa tersentuh aparat. Para pelaku disebut berpindah-pindah dari satu kawasan ke kawasan lain sambil membeli kayu rimba dari penduduk sekitar. Aktivitas ini telah lama terjadi dan kerap luput dari pengawasan.
Fenomena mencolok terlihat sepanjang pantai di Kota Padang pada Kamis dan Jumat, ketika warga dikejutkan oleh tumpukan kayu gelondongan yang terdampar dalam jumlah sangat besar. Kayu-kayu itu terbawa arus banjir bandang dan gelombang kuat hingga bermuara di bibir pantai. Seorang warga bahkan mengaku baru pertama kali melihat kayu sebanyak itu selama puluhan tahun tinggal di daerah tersebut.
Sejak Kamis pekan lalu, Sumbar dilanda rangkaian bencana mulai dari banjir, tanah longsor, galodo, pohon tumbang, hingga jembatan ambruk. Perumahan warga terendam, bahkan beberapa unit rumah hanyut terbawa arus. Puncak bencana terjadi pada Rabu dan Kamis ketika curah hujan ekstrem tidak tertangani secara optimal. Pemerintah daerah dinilai lalai mengantisipasi peringatan BMKG yang dirilis setiap hari, sementara sekolah baru meliburkan siswa pada 27 November, ketika bencana telah meluas.
Banjir tak langsung surut hingga Jumat, dan media sosial dipenuhi rekaman warga yang memperlihatkan kayu-kayu gelondongan berserakan di sepanjang pantai. Akun sumbarzonaews memposting video yang memperlihatkan kayu terbentang nyaris sejauh mata memandang. “Limbah kayu yang berserakan ini menjadi bukti bahwa alam sedang menelanjangi kita semua,” tulis akun tersebut dalam unggahannya.
Beragam komentar netizen muncul, sebagian besar mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan atas kondisi yang terjadi. “Lah dikirim barang bukti dek alam langsung,” tulis @rokodwipernando. Sementara akun lainnya, @cosmic_photography750, mempertanyakan kinerja pemimpin daerah, “Pemimpin dipilih rakyat untuk mengelola dengan baik, tapi apa yang mereka perbuat? Mengecewakan dan menyengsarakan rakyat.”
Akun besar seperti lambe_turah yang memiliki lebih dari 12 juta pengikut ikut menyoroti fenomena ini. Mereka memposting foto-foto tumpukan kayu gelondongan dengan caption, “Penampakan kayu gelondongan yang ikut hanyut saat banjir bandang di Sumatera curi perhatian netizen.” Unggahan tersebut memperluas perhatian publik pada dugaan pembalakan yang selama ini dianggap sebagai isu laten.
Warga yang tinggal di sekitar lokasi terdampak mengaku bahwa banjir kali ini memang luar biasa dahsyat. Menurut penuturan seorang warga, kayu-kayu yang sebelumnya sudah ditebang jauh di wilayah perbukitan tetap terseret hingga ke hilir akibat kuatnya arus. “Semua disapu bersih. Kalau mau bukti, lihat saja di pantai,” ujarnya.
Menanggapi temuan tersebut, Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, menyatakan bahwa setiap laporan yang masuk akan segera ditindaklanjuti sesuai kewenangan mereka. Ia menegaskan bahwa koordinasi dengan berbagai pihak semakin diperkuat untuk memastikan penanganan berjalan efektif. “Setiap laporan masuk, kami tindaklanjuti. Koordinasi kami perkuat,” ujarnya kepada Singgalang pada Jumat (28/11).
Meski demikian, penegakan hukum masih belum dilakukan secara menyeluruh. Direktur Reskrimsus Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan, menyampaikan bahwa saat ini polisi memprioritaskan keselamatan warga yang menjadi korban banjir. “Sekarang kita fokus dulu ke keselamatan warga,” katanya. Namun, ia menegaskan bahwa dugaan pembalakan tidak akan diabaikan.
Dengan banyaknya bukti visual, tekanan publik pun semakin kuat agar pemerintah daerah dan aparat penegak hukum segera menindaklanjuti dugaan pembalakan liar yang selama ini merusak bagian hulu sungai. Peristiwa banjir kali ini dinilai menjadi pengingat bahwa kerusakan hutan tidak hanya merugikan alam, tetapi juga mengancam keselamatan ribuan warga di daerah hilir. (*)
















