Limapuluh Kota, Prokabar — Bencana banjir yang melanda Kubang Rasau, Lareh Sago Halaban, Limapuluh Kota ternyata sudah terjadi sejak tahun 1991 silam. Tiap tahun, warga merasakannya.
“Pak Bupati, lah sajak tahun 1991, kampuang kami konai banjir,” kata Desni dan Ita, warga Kubang Rasau di tenda pengungsian dan Mushallah Padang Balimbiang, Lareh Sago Halaban, Minggu (4/11).
Masyarakat pusing, bagaimana caranya agar banjir tidak terjadi lagi. Dari tenda pengungsian, mereka curhat ke Bupati Irfendi Arbi dan Wabup Ferizal Ridwan yang berkunjung ke sana.
“Mohon bantu kami pak, tiok tahun mode iko,” kata Sarin, penduduk lainnya.
Bupati dan Wabup didampingi Kepala BPBD Limapuluh Kota berjanji, akan melakukan langkah komprehensif dalam menangkal dan menangani bencana banjir di Limapuluh Kota, terutama kawasan yang sudah jadi langganan banjir setiap hujan deras.
Banjir di Lareh Sago Halaban, dengan cepat menggenangi rumah penduduk karena beberapa kampung di sana, terletak di pinggir Sungai Batang Sinamar, sungai yang perlu dinormalisasi di beberapa titik tebingnya. (vbm)
















