Daerah

Banjir dan Pundi-Pundi Tambang Pasir

Limapuluh Kota, Prokabar — Bencana banjir di Limapuluh Kota, sulit dipisahkan dari praktik penambangan pasir dan kerikil. 

Di Lareh Sago Halaban misalnya, aksi menambang pasir, kerikil dan batu, diduga berjalan mulus tanpa dokumen nan mesti diurus.

Tabiat menambang pasir dengan alasan menopang mata pencaharian ini, diduga hanya bungkus kulit saja oleh cukong cukong yang bermain di sana.

Di sepanjang aliran sungai Batang Sinamar, kampung yang didiami warga Bukik Sikumpa, Sitanang dan Batu Payuang, sedikitnya ada 8 titik lokasi penambangan pasir.

Dulu, Sat Pol PP Limapuluh Kota pernah melakukan inspeksi mendadak ke lokasi ini. Tapi, tidak lama kemudian, praktik menambang pasir tetap berjalan hingga sekarang.

Ironisnya, penambangan pasir bukannya berhenti saat bencana, para touke touke justru sudah mengkondisikan pelanggannya, untuk mendatangkan truk truk yang akan mengangkut pasir kalau air sudah susut dan berkurang.

Ini terpantau Minggu (4/11), saat ratusan warga memilih mengungsi, para sopir truk masih setia antrian ratusan meter dari lokasi bencana.

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu dan Pol PP, diharap melakukan aksi dan penertiban, bersama Pemerintah Nagari dan Kecamatan. 

“Sekaligus meninjau ulang praktik penambangan di daerah aliran sungai yang berpotensi mengundang bencana,” kata Adie Harmen, pegiat lingkungan di Limapuluh Kota.

Jika tambang pasir tidak ada izin, dia meminta  Badan Perizinan, turut mendorong dan turun bersama Pol PP menertibkan. “Jangan sampai, ini justru memicu  bencana,” katanya. 

Sejumlah sumber Prokabar menyebut, pemambangan pasir di Lareh Sago Halaban sudah berlangsung sangat lama. Malahan, diduga tidak semua pemilik mesin dompeng tambang memiliki dokumen resmi. 

Setiap hari, ada puluhan unit truk yang hilir mudik mengangkut pasir dan batu. Pelaku usaha sirtu ini, diharap andil besar membantu korban bencana. (vbm)

Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top