Padang, Prokabar — Siapa yang tak kenal buah duku. Buah bulat tak berbulu itu, saat ini tengah digrandungi banyak orang. Di Padang, buah duku atau lansek banyak dijumpai. Terayal di jalan utama. Di Kota “Bengkoang” ini, buah itu seperti musimnya saja, tapi tak berbatang.
Buahnya didatangkan dari Palembang atau Jambi. Warga Padang hanya menjualnya saja. Mereka peroleh untung dari hasil jualan buah itu. Tak perlu memanjat. Tapi untung juga.
Buah dengan isinya yang sudah tersusun rapi itu banyak pembeli. Begitu juga pedagangnya. Pedaganya “menjamur” dipinggir jalan jalan utama. Jl Khatib Sulaiman, contohnya. Belum lagi jalan Andalas, Aur Duri, Lubeg, Sultan Syahrir. Mereka menjual buah duku menggunakan mobil bak. Ada juga menggunakan trase.
Sekarang, pedagang menjualnya sepuluh ribu perkilo. Sebelumnya lima belas hingga dua puluh per kilogram. Murah memang, karena penjualnya membludak. Santi (32), contohnya, ia memperoleh untung hingga lima ratus ribu perhari dari hasil jualan itu. Dalam sehari dagannya terjual 20 hingga 50 karung.
Dalam sekarung, beratnya beragam, delapan belas hingga dua puluh satu kilo.
“Kalau ramai, lebih lima ratus ribu untungnya,”sebutnya, Selasa (29/1).
Santi mengakui berjualan semenjak akhir Desember 2018. Saat itu harga jual buah duku masih mahal. Ia juga menampik dagangannya habis terjual pada hari pergantian tahun tersebut.
“Pas tahun baru kemarin, laku terjual,”katanya.
Antusias warga untuk menikmati buah itu memang tinggi. Terlihat dari kesibukan Santi saat melayani pembelinya. Diatas mobil bak terbuka itu, ia tampak sibuk. Pembelinya silih berganti saja berdatangan. Ada yang pakai motor, bahkan mobil.
“Berapa sekilo Ni?” sebut seorang pembeli. Lalu dengan cekatan Santi yang dibantu seorang rekannya memasukan buah itu kedalam kantong plastik, lalu ditimbangnya.
“Dari pagi, belum sempat beristirahat karena pembeli ramai,”imbuhnya.
Saat Singgalang ditempat jualan Santi di Kapalo Koto, Seberang Padang utara, sudah delapan karung yang terjual. Diatas mobil tersisa sekitar empat karung. Diatas becak juga ada persediaan sekitar delapan karung.
“Kalau ramai kayak gini sampai sore, insaallah habis dagangan semuanya,”bebernya lagi.
Ia menampik berjualan hingga jam tujuh saja disana. Setelah itu beralih ke warungnya di Seberang Padang Utara.
Berbicara tentang untung yang ia peroleh selama berjualan buah itu, tidak dihitungnya jelas. “Kalau sudah selesai musim duku, baru kita hitung jumlah untungnya,”tegasnya.
Ia juga menilai, jualan buah musiman itu menggiurkan, bahkan banyak juga yang beralih dagangannya. “Sekarang banyak yang lari dari dagangan, dan berjualan duku seperti pedagang cabe,”ujar Santi lagi.
Meski maraknya pedagang buah duku, Santi menilai tidak merasa ada saingan dengan pedagang lain. Bahkan disepanjang jalan Sutan Syharir yang merupakan tempat jualan Santi, terdapat kurang lebih empat pedagang dengan buah yang sama.
“Kucinya adalah cara pelayanan kita kepada pembeli,”sautnya.
Hingga prokabar pamit, Santi masih saja sibuk melayani pembelinya. (gas)
















