Agam, Prokabar – Balai Bahasa Provinsi Sumatera Barat melakukan sejumlah penelitian ke Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam tahun 2022 ini. Sejumlah observasi telah dilakukan di beberapa lokasi pekan lalu.
Fitria Dewi, salah seorang anggota Tim Balai Bahasa itu menyebutkan, program pertama terlaksana di Jorong Balai Belo, Nagari Koto Kaciak. Di sana terdeteksi salah satu kesenian Indang Tuo yang sudah terancam keberadaannya.
“Kami melaksanakan diskusi kelompok revitalisasi sastra lisan Indang Tuo Balai Belo. Dihadiri Camat Tanjung Raya, Handria Asmi, Walinagari Koto Kaciak bersama pembina dan pelaku kesenian itu sendiri. Sementara, kami yang ikut terdiri dari Kepala Balai Bahasa Sumatera Barat diwakili Imron Hadi, Fitria Dewi, dan Arriyanti dan,” ujarnya.
Pihaknya berencana melanjutkan aksi dengan pembinaan dan pelatihan untuk generasi muda. Pelaksanaan kegiatan tiga hari sampai pada penampilan atraksi. “Rencanannya kita laksanakan pada Juni 2022 ini,” ungkapnya.
Taget utama kegiatan adalah sastra lisan Indang Tuo dapat kembali hidup di tengah masyarakat Balai Belo dan menjadi salah satu aset budaya bagi masyarakat Tanjung Raya. Kegiatan revitalisasi Indang Tuo diawali dengan pemetaan sastra lisan di Kabupaten Agam. Sastra yang sudah dipetakan lalu dikaji vitalitas atau daya hidupnya di lingkungan masyarakat pemiliknya.
“Hasil pengkajian itu menunjukkan bahwa sastra lisan Indang Tuo sudah berada dalam kondisi kritis karena penutur tradisi sudah sangat terbatas. Lalu dilakukanlah langkah revitalisasi yang sedah dimulai dengan diskusi kelompok terpumpun. berdasarkan diskusi tersebut diputuskan kegiatan pelatihan Indang Tuo akan dilakukan dengan menyasar generasi muda Balai Belo,” terangnya.
Selain itu, Balai Bahasa Sumatera Barat juga melakukan pengumpulan kosa kata budaya untuk pengembangan kamus bahasa Minangkabau. Tim terdiri dari Eva Himyati selaku Ketua Tim, dan Arriyanti bersama Fitria Dewi selaku anggota tim.
Pengumpulan kosa kata ini bertujuan, menghimpun kosakata budaya khas Tanjung Raya terinventarisir dengan baik dalam kamus Bahasa Minangkabau. Sehingga generasi muda Tanjung Raya kedepannya dapat mengenal dengan mudah kosakata yang berasal dari daerahnya.
Kegiatan pengumpulan kosakata budaya seperti kuliner, upacara adat, dan benda-benda budaya yang terdapat di Tanjung Raya. Dilakukan dengan mewawancarai informan seperti para Bundo Kanduang, Ketua Pokdarwis, dan ibu-ibu rumah tangga di Tanjung Raya.
“Respon masyarakat sangat antusias dan apresiatif. Masyarakaat juga kooperatif dan menyambut baik semua kegiatan yang dilaksanakan di Tanjung Raya. Sehingga penelitian dan target yang akan dicapai diharapkan sukses nantinya,” tutupnya. (rud)
















