Oleh: Vizia Sepnita Saputri (Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand)
Pesisir Selatan, Prokabar — Pesisir Selatan merupakan daerah yang luas, sehingga dikenal dengan beragam wisata yang indah dengan berjuta pesona. Di Pesisir Selatan juga memiliki beragam bahasa yang terdapat di masing-masing daerah. Seperti Kambang, tepatnya di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek. Dua daerah ini memiliki bahasa yang berbeda serta logat dalam berbicara. Orang yang tinggal di Koto Pulai berbicara dengan menggunakan bahasa yang ada kata noserta menggunakan irama. Menggunakan kata no bukan berarti mereka menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi ini adalah ciri khas bahasanya tersebut. Sehingga di Koto Pulai kata no itu berarti Dia, atau dalam bahasa minangnya yang berarti Inyo.
Sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek tidak menggunakan kata-kata no, melainkan lebih dominan dengan bahasa minangnya, inyo, yang artinya dia. Bukan dalam kata per kata saja yang beda, tetapi cara berbicara atau penyampaian berbicara antar kampung Koto Pulai dengan Kayu Kalek juga berbeda. Orang yang tinggal di Koto Pulai berbicara seperti menggunakan irama, sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek berbicara biasa saja, tanpa memakai irama yang mengiringi pembicaraan.
Perbedaan bahasa yang terjadi di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek ini menjadikan cara suatu kampung untuk berinteraksi antar sesamanya. Dan di dalam suatu kampung yang ada di daerah Kambang pasti memiliki perbedaan bahasa serta logat berbicaranya. Terkadang ada ditemukan bahasa yang sama, namun maknanya berbeda serta begitu juga sebaliknya. Sehingga bahasa yang digunakan di kampung Koto Pulai menjadi suatu fenomena tersendiri di kampung-kampung lainnya.
Jika mereka pergi merantau, mereka akan menggunakan bahasa yang ada di perantauan tersebut. Dan ketika mereka kembali dari perantauan, mereka akan menggunakan bahasa tempat dimana mereka dilahirkan. Meskipun lama di perantauan, dan ada lupa dengan dengan kampungnya. Mereka tetap memakai bahasa dan logat berbicara yang ada di daerah itu. Mereka hanya mengubah bahasa serta logat berbicara dengan orang luar saja untuk menghilangkan rasa malu. Dan mareka juga berpedoman kepada pepatah yaitu “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.
Orang yang tinggal di kampung Koto Pulai berbicara menggunakan bahasa yang ada kata no. Menggunakan kata no bukan berarti mereka menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi ini adalah ciri khas bahasanya tersebut.
Contohnya; –no cako kasinan a (Dia tadi kesitu)
–no ndak dumah de (Dia tidak di rumah)
Jadi, di Koto Pulai kata no itu berarti Dia, atau dalam bahasa minangnya yang berarti Inyo. Sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek tidak menggunakan kata-kata no, melainkan lebih dominan dengan bahasa minangnya, yaitu Inyo.
Contohnya; –inyo tadi ka situ ah (Dia tadi kesitu)
–inyo tidak d i rumah do (Dia tidak di rumah)
Perbedaan suatu bahasa yang terjadi di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek ini menjadikan cara suatu kampung untuk berinteraksi antar sesamanya. Namun ada juga yang menggunakan bahasa daerah orang lain untuk mereka berinteraksi ke kampung-kampung lainnya.
Dan ada juga di suatu kampung di Pesisir Selatan memiliki bahasa yang sama namun maknanya berbeda, dan ada juga yang maknanya sama akan tetapi bahasanya berbeda. Sehingga terjadi beberapa bahasa yang digunakannya itu berbeda. Baik itu bahasa dalam berbicara, bahasa benda, maupun bahasa yang lainnya.
Dalam melakukan penelitian antara suatu bahasa di Kambang, kita dapat mencermati dari kata per kata bahasa yang dipakai serta logat berbicara yang digunakannya. Dan pada saat meneliti kita juga mengetahui perbedaan bahasa yang ada di masing-masing daerah tersebut. Sehingga kita dapat membedakan apakah ada bahasa yang sama atau tidak? Dan apakah dalam penggunaan bahasa memiliki makna atau tujuan yang sama atau tidak?
Kita dapat meneliti menurut daftar pertanyaan yang telah kita siapkan sebelum melakukan penelitian tersebut. Dan bahasa yang digunakan antar kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek tidak jauh berbeda. Salah satu perbedaan bahasa yang berbeda antar kampung Koto Pulai dengan Kayu Kalek adalah bahasa no yang digunakan orang Koto Pulai dan inyo yang digunakan di Kayu Kalek. Dan bahasa yang digunakan di Koto Pulai menjadi suatu fenomena tersendiri di kampung-kampung lainnya.
Sehingga bahasa dalam berbicara yang digunakan di Daerah Kambang yaitu di kampung Koto Pulai dan dan Kayu Kalek yang memiliki perbedaan:
a. Kampung Koto Pulai
-no cako kasinan a (Dia tadi kesitu)
no yang digunakan orang Koto Pulai berarti Inyo. Sedangkan cako itu berarti tadi.
-no ndak dumah de (Dia tidak di rumah)
-budak ko cako pai a (anak ini tadi pergi)
-budak kaciak ko tangkau banau (anak kecil ini sangat nakal)
-no panau (Dia bodoh)
-no jo budak tu cako a (Dia dengan anak itu tadi)
-no ka bandau (Dia ke banda/sungai)
-budak ko cako nampak ulau (anak ini tadi melihat ular)
-no cako mancagi budak kaciak ko a (Dia tadi mencari anak kecil ini)
-ambiak situkau ko lu a (ambil pepaya ini dulu)
-budak no tangkau (anak Dia nakal)
-budak no pai ndak mangecek de (anak Dia tidak berbicara ketika hendak pergi)
-budak no pai ka pagau cako (anak Dia pergi ke pagar tadi)
-no cako ka sawau (Dia tadi ke sawah)
-no ka pai balai (Dia mau pergi ke pasar)
-budak no cako lalok (anak Dia tadi tidur)
-ulau no cako malingkau (ular Dia tadi melingkar)
-no pai cako sangijap (Dia pergi tadi sebentar)
-dan lain sebagainya..
Dan orang yang tinggal di Koto Pulai banyak menggunakan kata no, cako, budak, serta dalam berbicara mereka terdengar banyak menggunakan U di belakang bahasanya. Dan mereka dalam berbicara juga seperti menggunakan irama ketika berbicara sesamanya.
b. Kampung Kayu Kalek
-inyo tadi ka situ ah (Dia tadi kesitu)
-inyo tidak di rumah do (Dia tidak di rumah)
-anak ke tadi pai ah (anak ini tadi pergi)
-anak ketek ke tangka bana (anak kecil ini sangat nakal)
-inyo bodoh (Dia bodoh)
-inyo jo anak ke tadi ah (Dia dengan anak ini tadi)
-inyo ka banda (Dia ke banda/sungai)
-anak ke tadi nampak ula a (anak ini tadi melihat ular)
-inyo tadi mancagi anak ketek ke ah (Dia tadi mencari anak kecil ini)
-ambiak situka ke lu ah (ambil pepaya ini dulu)
-anak inyo tangka (anak Dia nakal)
-anak nyo pai ndak manyabuik de (anak Dia tidak berbicara ketika hendak pergi)
-anak nyo pai ka paga tadi (anak Dia pergi ke pagar tadi)
-inyo tadi ka sawah (Dia tadi ke sawah)
-inyo ka pai ka balai (Dia mau pergi ke pasar)
-anak inyo tadi lalok (anak Dia tadi tidur)
-ula inyo tadi malingka (ular Dia tadi melingkar)
-inyo pai tadi sabanta (Dia pergi tadi sebentar)
-dan lain sabagainya..
Orang yang tinggal di kampung Kayu Kalek bahasanya ada yang sama dengan Koto Pulai dan ada yang tidak. Akan tetapi, makna yang di maksud memiliki persamaan satu per satu. Orang yang tinggal di Kayu Kalek berbicara tidak menggunakan irama, sehingga bahasa yang digunakannya lebih mendominan ke bahasa minangnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa yang ada di Kambang, yaitu antara kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek terjadi karena adanya di suatu Daerah memiliki sistem budaya dan adat yang berbeda. Sehingga dalam berbicara, mereka menggunakan bahasa yang telah diajarkan oleh orang tua mereka dari lahir, dan sampai saat ini bahasa tersebut tetap dilestarikan di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek. Dan di Koto Pulai orang berbicara dengan irama serta bahasa yang digunakannya itu banyak kata-kata no dalam berbicara. Sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek mereka menggunakan bahasa yang biasa saja dan berbicara dengan kata-kata yang dominan inyo. Mereka berbicara memiliki logat masing-masing. Seperti kampung Koto Pulai, yaitu dalam berbicara mereka menggunakan irama dalam logat berbicaranya. Sedangkan orang yang tinggal di kampung Kayu Kalek hanya berbicara dengan logat biasa saja tanpa adanya irama yang keluar dari mulut mereka. Perbedaanya bahasa dan logat berbicara ini menjadi peran tersendiri di suatu kampung yang ada di Daerah Kambang. (***)
















