Bahasa dan Logat Bicara di Kambang, Pesisir Selatan

Penulis -

Rabu, 11 Maret 2020 - 09:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Vizia Sepnita Saputri (Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Unand)

 

Pesisir Selatan, Prokabar — Pesisir Selatan merupakan daerah yang luas, sehingga dikenal dengan beragam wisata yang indah dengan berjuta pesona. Di Pesisir Selatan juga memiliki beragam bahasa yang terdapat di masing-masing daerah. Seperti Kambang, tepatnya di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek. Dua daerah ini memiliki bahasa yang berbeda serta logat dalam berbicara. Orang yang tinggal di Koto Pulai berbicara dengan menggunakan bahasa yang ada kata noserta menggunakan irama. Menggunakan kata no bukan berarti mereka menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi ini adalah ciri khas bahasanya tersebut. Sehingga di Koto Pulai kata no itu berarti Dia, atau dalam bahasa minangnya yang berarti Inyo.

Sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek tidak menggunakan kata-kata no, melainkan lebih dominan dengan bahasa minangnya, inyo, yang artinya dia. Bukan dalam kata per kata saja yang beda, tetapi cara berbicara atau penyampaian berbicara antar kampung Koto Pulai dengan Kayu Kalek juga berbeda. Orang yang tinggal di Koto Pulai berbicara seperti menggunakan irama, sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek berbicara biasa saja, tanpa memakai irama yang mengiringi pembicaraan.

Perbedaan bahasa yang terjadi di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek ini menjadikan cara suatu kampung untuk berinteraksi antar sesamanya. Dan di dalam suatu kampung yang ada di daerah Kambang pasti memiliki perbedaan bahasa serta logat berbicaranya. Terkadang ada ditemukan bahasa yang sama, namun maknanya berbeda serta begitu juga sebaliknya.  Sehingga  bahasa  yang  digunakan  di  kampung  Koto  Pulai  menjadi  suatu  fenomena  tersendiri  di  kampung-kampung  lainnya.

Jika mereka pergi merantau, mereka akan menggunakan bahasa yang ada di perantauan tersebut. Dan ketika mereka kembali dari perantauan, mereka akan menggunakan bahasa tempat dimana mereka dilahirkan. Meskipun lama di perantauan, dan ada lupa dengan dengan kampungnya. Mereka tetap memakai bahasa dan logat berbicara yang ada di daerah itu. Mereka hanya mengubah bahasa serta logat berbicara dengan orang luar saja untuk menghilangkan rasa malu. Dan mareka juga berpedoman kepada pepatah yaitu “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Orang yang tinggal di kampung Koto Pulai berbicara menggunakan bahasa yang ada kata no.  Menggunakan kata no bukan berarti mereka menggunakan bahasa Inggris. Akan tetapi ini adalah ciri khas bahasanya tersebut.

Contohnya; –no cako kasinan a (Dia tadi kesitu)

        –no ndak dumah de (Dia tidak di rumah)

Jadi, di Koto Pulai kata no itu berarti Dia, atau dalam bahasa minangnya yang berarti Inyo. Sedangkan orang yang tinggal di Kayu Kalek tidak menggunakan kata-kata no, melainkan lebih dominan dengan bahasa minangnya, yaitu Inyo.

Contohnya;  –inyo tadi ka situ ah (Dia tadi kesitu)

        –inyo tidak d i rumah do (Dia tidak di rumah)

Perbedaan suatu bahasa yang terjadi di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek ini menjadikan cara suatu kampung untuk berinteraksi antar sesamanya. Namun ada juga yang menggunakan bahasa daerah orang lain untuk mereka berinteraksi ke kampung-kampung lainnya.

Dan ada juga di suatu kampung di Pesisir Selatan memiliki bahasa yang sama namun maknanya berbeda, dan ada juga yang maknanya sama akan tetapi bahasanya berbeda. Sehingga terjadi beberapa bahasa yang digunakannya itu berbeda. Baik itu bahasa dalam berbicara, bahasa benda, maupun bahasa yang lainnya.

Dalam melakukan penelitian antara suatu  bahasa di Kambang, kita dapat mencermati  dari kata per kata bahasa yang dipakai serta  logat berbicara yang digunakannya. Dan pada  saat meneliti kita juga mengetahui perbedaan  bahasa yang  ada  di  masing-masing  daerah tersebut. Sehingga kita dapat membedakan apakah ada bahasa  yang sama atau tidak? Dan apakah dalam penggunaan bahasa memiliki makna atau tujuan yang sama atau tidak?

Kita dapat meneliti menurut daftar pertanyaan yang telah kita siapkan sebelum melakukan penelitian tersebut. Dan bahasa  yang digunakan antar kampung Koto Pulai  dan Kayu Kalek tidak jauh berbeda. Salah  satu  perbedaan  bahasa  yang  berbeda  antar  kampung Koto Pulai dengan Kayu Kalek  adalah bahasa no yang digunakan orang Koto Pulai dan inyo yang digunakan di Kayu Kalek. Dan  bahasa yang digunakan di Koto Pulai menjadi suatu fenomena tersendiri di  kampung-kampung lainnya.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Sehingga bahasa dalam berbicara yang digunakan di Daerah Kambang yaitu di kampung Koto Pulai dan dan Kayu Kalek yang  memiliki  perbedaan:

a.  Kampung  Koto  Pulai

-no  cako  kasinan  a  (Dia  tadi kesitu)

no  yang digunakan orang Koto Pulai berarti  Inyo. Sedangkan cako itu berarti tadi.

-no  ndak  dumah  de (Dia  tidak  di rumah)

-budak  ko  cako  pai  a  (anak  ini  tadi  pergi)

-budak  kaciak  ko  tangkau  banau  (anak  kecil  ini  sangat  nakal)

-no  panau  (Dia  bodoh)

-no  jo  budak  tu  cako  a  (Dia  dengan  anak  itu  tadi)

-no  ka  bandau  (Dia  ke  banda/sungai)

-budak  ko  cako  nampak  ulau  (anak  ini  tadi  melihat  ular)

-no  cako  mancagi  budak  kaciak  ko  a  (Dia  tadi  mencari  anak  kecil  ini)

-ambiak  situkau  ko  lu a  (ambil  pepaya  ini  dulu)

-budak  no  tangkau  (anak  Dia  nakal)

-budak  no  pai  ndak  mangecek  de  (anak  Dia  tidak  berbicara  ketika  hendak  pergi)

-budak  no  pai  ka  pagau  cako  (anak  Dia  pergi  ke  pagar  tadi)

-no  cako  ka  sawau  (Dia  tadi  ke  sawah)

-no  ka  pai  balai  (Dia  mau  pergi  ke  pasar)

-budak  no  cako  lalok  (anak  Dia  tadi  tidur)

-ulau  no  cako  malingkau  (ular  Dia  tadi  melingkar)

-no  pai  cako  sangijap  (Dia  pergi  tadi  sebentar)

-dan lain sebagainya..

Dan orang yang tinggal di Koto Pulai banyak  menggunakan kata no, cako, budak, serta  dalam berbicara mereka terdengar banyak  menggunakan U di belakang bahasanya. Dan  mereka dalam berbicara  juga seperti menggunakan irama ketika berbicara sesamanya.  

b.  Kampung Kayu Kalek

-inyo  tadi  ka  situ  ah  (Dia  tadi  kesitu)

-inyo  tidak  di rumah  do  (Dia  tidak  di  rumah)

-anak  ke  tadi  pai  ah  (anak  ini  tadi  pergi)

-anak  ketek  ke  tangka  bana  (anak  kecil  ini  sangat  nakal)

-inyo  bodoh  (Dia  bodoh)

-inyo  jo  anak  ke  tadi  ah  (Dia  dengan  anak  ini  tadi)

-inyo  ka  banda  (Dia  ke  banda/sungai)

-anak  ke  tadi  nampak  ula  a  (anak  ini  tadi  melihat  ular)

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

-inyo  tadi  mancagi  anak  ketek  ke  ah  (Dia  tadi  mencari  anak  kecil  ini)

-ambiak  situka  ke  lu  ah  (ambil  pepaya  ini dulu)

-anak  inyo  tangka  (anak  Dia  nakal)

-anak  nyo  pai  ndak  manyabuik  de  (anak  Dia  tidak  berbicara  ketika  hendak  pergi)

-anak  nyo  pai  ka  paga  tadi  (anak  Dia  pergi  ke  pagar  tadi)

-inyo  tadi  ka  sawah  (Dia  tadi  ke  sawah)

-inyo  ka  pai  ka  balai  (Dia  mau  pergi  ke  pasar)

-anak  inyo  tadi  lalok  (anak  Dia  tadi  tidur)

-ula  inyo  tadi  malingka  (ular  Dia  tadi  melingkar)

-inyo  pai  tadi  sabanta  (Dia  pergi  tadi  sebentar)

-dan  lain  sabagainya..

Orang yang tinggal di kampung Kayu Kalek  bahasanya ada yang sama dengan Koto Pulai  dan ada yang tidak. Akan tetapi, makna yang  di maksud memiliki persamaan satu per satu.  Orang yang tinggal di Kayu Kalek berbicara  tidak menggunakan irama, sehingga bahasa  yang digunakannya lebih mendominan ke  bahasa minangnya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa yang ada di Kambang, yaitu antara kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek terjadi karena adanya di suatu Daerah memiliki sistem budaya dan adat yang berbeda. Sehingga dalam berbicara, mereka menggunakan bahasa yang telah diajarkan oleh orang tua mereka dari lahir, dan sampai saat ini bahasa tersebut tetap dilestarikan di kampung Koto Pulai dan Kayu Kalek. Dan  di  Koto Pulai orang berbicara  dengan irama  serta  bahasa yang digunakannya itu banyak  kata-kata no dalam berbicara. Sedangkan  orang yang tinggal di Kayu Kalek mereka  menggunakan bahasa yang biasa saja dan  berbicara dengan kata-kata yang dominan  inyo. Mereka berbicara memiliki logat  masing-masing. Seperti kampung Koto Pulai,  yaitu dalam berbicara mereka menggunakan  irama dalam logat berbicaranya. Sedangkan  orang yang tinggal di kampung Kayu Kalek  hanya berbicara dengan logat biasa saja tanpa  adanya irama yang keluar dari mulut mereka.  Perbedaanya  bahasa dan logat berbicara  ini  menjadi peran tersendiri di suatu kampung  yang ada di Daerah Kambang. (***)

 

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB