Padang, prokabar – 45 ribu Aremania di Stadion Kanjuruhan. Mereka suporter yang berani tampil berbeda, militan, dan sangat mencintai tim kesayangan mereka. Semuanya bersatu dalam sebuah sebutan; We are Aremania.
Ya, kami adalah Arema! Arek-arek Malang yang bersatu untuk mendukung Arema FC. Hanya ada satu kelompok suporter di Malang, hanya ada Aremania, tak ada kelompok lain, atau terpecah-pecah manjadi beberapa kelompok.
Semuanya bersatu dalam sebuah tagline yang menggetarkan hati, “salam satu jiwa’. Mereka menyebutnya Sasaji.
Bukan hal yang aneh terlihat di Stadion Kanjuruhan, seorang ayah membawa balitanya ke Stadion dan diletakan datas bahu. Karena bagi seorang Aremania, dari bayi mereka sudah di didik menjadi seorang Aremania.
Itulah Aremania, dibalik fanatisme dan kecintaan luar biasa kepada timnya, mereka juga “benci” kekalahan tim kesayangan di rumah sendiri.
Mereka akan terus mendukung, berteriak, bernyanyi, mengembangkan syal , dan memberi “teror” kepada pemain tim tamu.
Mereka tak peduli berapa skor selagi peluit panjang belum berbunyi. Aremania benar-benar menjadi pemain ke-12 bagi timnya.

Tetapi, ketika totalitas mereka di tribun berakhir dengan kekalahan, mereka tak suka, kecewa, bahkan ada menangis, dan ada pula yang marah. Semuanya adalah sisi manusiawi seorang suporter yang bereaksi secara spontan ketika timnya kalah.
Melawan Persebaya, adalah sebuah pertandingan spesial bagi seorang Aremania. Ini adalah sebuah pertandingan yang harus dimenangkan. Sebuah hasil imbang atau kekalahan dari Persebaya adalah sebuah aib, apalagi di rumah sendiri.
Derby Jatim dan rivalitas yang sudah mendarah daging bertahun-tahun. Boleh kalah dari tim lain, tapi tidak dengan Persebaya!
Selalu begitu, setiap melawan Persebaya, suasana derby sudah terasa di Kota Malang setidaknya seminggu jelang laga. Bagi Aremania sangat penting artinya bagi Arema FC bisa mengalahkan Persebaya, apapun judul pertandingannya.
Akhirnya, Tragedi Kanjuruhan
Bola maut itu terjadi setelah peluit panjang ditiup. Bagai anai-anai keluar sari sarang, penonton menyerbu masuk. “Kenapa kalah?”
Masuk satu, masuk dua, masuk semua. Polisi yang berada di sana, ambil tindakan menyemprotkan gas air mata.
Tragedi lapangan bola itu, menyayat hati. Rumah sakit tak mampu menampung korban. Kota Malang benar-benar malang. Warga menangis. Sejauh itu, belum seorang pun yang menyatakan mundur dan bertanggungjawab.
Senin (03/10) kota itu masih muram. Di stadion cantik kebangaan kota, kematian jadi sumbu kesedihan panjang. Bola yang amat digandrungi membawa lidah maut.
Tak ada tragedi sehebat dan seburuk ini di Indonesia, sebelumnya.(*)
















