Trending | News | Daerah | Covid-19

Daerah

Apa Pariwisata Pendorong Ekonomi Masyrakat Sumbar? ini Kata Kepala Perwakilan BI Sumbar

Dibaca : 228

Tanah Datar, Prokabar — Kepala perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat mengatakan jika sektor pariwisata merupakan sektor unggulan Sumatera Barat untuk membawa kemajuan ekonomi masyarakatnya, disamping sektor pendorong ekonomi terbesar yakni pertanian. Untuk itu, pengembangan dan pengelolaan pariwisata perlu dilakukan dan membutuhkan roadmap dan rencana yang jelas, fokus dan tegas serta dilakukan oleh pemimpin yang kuat.

Hal ini disampaikan Wahyu Purnama dalam laporan perekonomian provinsi (LPP) dan kajian pariwisata Sumatera Barat bersama awak jurnalis di hotel emersia Batusangkar, sabtu (7/12).

Ia menjelaskan, perlunya pengembangan pariwisata di Sumatera Barat dikarenakan sektor pertanian tidak sepenuhnya sebagai pendorong kuat ekonomi masyarakat. Untuk itu, pemerintah harus memiliki target dalam pengembangan serta pengelolaan kepariwisataan.

“Kita harus melakukan perubahan. Kalau tidak, akan begitu begitu saja. Bengkulu bisa melewati kita (sumbar). Terus apa provinsi dibawah kita, tidak adalagi. Karena kita itu kaya,” ucap pria yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Perwakilan BI Tasikmalaya itu.

Berbicara pengelolaan dan pengembangan pariwisata sebagai pendorong ekonomi masyrakat, lebih lanjut Wahyu mengatakan jika pemerintah juha perlu mempromosikan keunggulan potensi daerah salah satunya songket. Perlu sebuah transformasi terhadap songket, dimana songket tidak hanya selendang melainkan juga bisa digunakan sbeagai bahan baju.

Sebagai lembaga pengendali inflasi, menurut Wahyu jika inflasi sumbar tidaklah begitu susah, karena sumbar adalah wilayah surflus dan jauh berbeda dengan Riau dan Bangka Belitung serta Kepri. 3 provinsi tersebut, minus. Dibandingkan tahun lalu, angka Inflasi Sumatra Barat 2,6%, namun pada tahun 2019 angka inflasi Sumbar dibawah 2,6%. Posisi pada bulan november berada diangka 1,8%.

“Kita tidak perlu bekerja susah keras seperti mereka lah. makanya pengendalian inflasi di Sumbar telah berjalan dengan baik, kita mengandalkan TTIC, TTI disamping kita bagaimana meningkatkan produksi,” katanya

Wahyu juga mengkhwatirkan, tingginya curah hujan akhir akhir ini, bisa memicu kenaikan angka inflasi di Sumatera Barat. Selain itu, harga tiket trasportasi yang tinggi juga turut menjadi faktor pemicu.

“Seperti kenaikan harga tiket trasportasi dan beberapa jenis kebutuhan pokok, beras, bawang, bawang merah. Tiga pokok itu mungkin akan memicu kenaikan inflasi,” katanya.

Sementra, untuk pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat, Wahyu mengatakan jika pada tahun lalu angka pertumbuhan ekonomi berada diposisi 5, 14%. Semetara, untuk tahun 2019 angka pertumbuhan ekonomi Sumbar tidak akan jauh berbeda dari angka tersebut.

“Apa ancamanya, ancamanya masih globalisasi. Karena kita masih terpengaruh oleh ekspor juga. Perang dagang dua negara itu juga. Kemudian faktor pendorong perekonomian kita relatif masih sama, pertanian paling besar. Karena pertanian porsi paling besar 22, sekian %. Maka pertanian harus kita jaga. Meski pertanian menjadi faktor pendorong perekonomian, namun pertanian dinilai tidak semerta merta sebagai penggolak ekonomi yang kuat di Sumatera Barat. Jika mengandalkan pertanian, maka untuk pertumbuhan ekonomi, pertanian tidak memiliki nilai pendorong yang kuat, kecuali pertanian dapat diolah dengan tidak hanya mengandalkan hasil pertanian, melainkan dapat melalui proses pengolahan lebih lanjut,” ujar pria asli asal Solok kelahiran Padang pada 2 Maret 1968 itu. (eym)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
To Top