Agam, Prokabar – Angku Yus Datuak Parpatih Guguak (82) (kini bergelar Datuk Bandaro Bodi), seorang budayawan Minangkabau. Terkenal dengan karyanya cukup fenomenal “Pitaruah Ayah” untuk anak laki-laki dan perempuan serta sejenis Gurindam lainnya melalui rekaman kaset dan video. Memberikan referensi sekaligus diskusi bersama 30 orang tim penyusun silabus Pelajaran Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Tingkat SMP, di Aula Disdikbud Kabupaten Agam, beberapa waktu lalu.
Dalam pemaparannya, Angku Datuak Bandaro Bodi lebih banyak membahas pemaknaan kosa kata lama Bahasa Minangkabau yang sering diabaikan. Seringkali masyarakat dan tokoh adat menggunakan kata-kata kias, namun tidak memahami makna dari kata tersebut.
“Adapun yang memahami, namun tidak jarang mereka tidak memberikan edukasi kepada generasi penerusnya. Bahkan tidak terterapkan dalam diri dan kehidupannya sebagai pemimpin, contoh suri tauladan,” ungkapnya.
Tokoh adat sering menggunakan kosa kata itu dalam pidato adat berupa pasambahan atau di acara-acara resmi ataupun acara tidak resmi. Akan tetapi tidak banyak menyebarluaskan pemaknaan kata yang memiliki filosofi dan nilai budaya tata krama atau sopan santun.
“Tidak adab berarti tidak beradat. Sinonim dari orang berbudi, beretika, bermoral, bersopan santun dan bertata krama,” kata Angku Yus. Dt. Parpatiah Guguak.
Bahasa Minangkabau banyak menggunakan perumpamaan, ungkapan atau bahasa kias. Kalimat dengan memiliki makna ganda dan multitafsir. Bagi masyarakat adat yang taat dan patuh dalam nilai-nilai budayanya, akan memahami setiap kata perkata dalam setiap kosa kata bahasa adat atau bahasa kias.
“Apalagi mereka banyak bertanya dan berdiskusi dengan orang tua serta memiliki keingintahuan yang tinggi. Namun tidak banyak saat ini Ninik Mamak memiliki semangat belajar dan bertanya,” terangnya.
Menurutnya, telah terjadi kemunduran yang cukup signifikan pada tetua adat. Diakibatkan minimnya kaderisasi generasi adat sesuai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Untuk itu, memang harus dibutuhkan gebrakan dan strategi, sehingga generasi penerus penerus dapat kembali memahami dan membudayakan kelestarian bahasa kias melalui bahasa adat.
“Sudah semestinya dilakukan pembelajaran sekolah adat khusus kepada generasi kedepan. Dan gagasan yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Agam, memasukan pembelajaran adat ke kurikulum sekolah sangat tepat,” ujarnya.
Seringkali anak-anak muda atau pelajar tidak suka sekali belajar bahasa dan budaya adat, dikarenakan tingkat kebosanan cepat terjadi. Karena sering pemateri memberi pelajaran yang terlalu kaku dan kurang memiliki nilai seni. Padahal tradisi dan budaya adat Minangkabau itu memiliki nilai estetika dan seni yang sangat tinggi.
Butuh keterampilan serta gaya dan inovatif dalam memberikan materi kepada anak didik. Apalagi di era globalisasi dan teknologi, jauh mengubah pola hidup, pola pikir dan pola rasa millenial saat ini.
“Padahal nenek moyang Minangkabau telah melahirkan budaya dengan sedemikian cerdas dan menariknya, dikarenakan nilai seni atau estetika seimbang dengan nilai-nilai adab dan etika yang sangat tinggi. Keelokan sifat, jiwa dan pikiran diterapkan dengan aturan-aturan bernagari,” tuturnya.
Dicontohkan pada pidato adat “Bapasambahan”. Seringkali terjadi pengulangan kalimat dalam debat diskusi. Kata antara pihak tuan rumah diulang kembali pihak tamu dan begitu sebaliknya. Hal itu sebagai bentuk penguatan kalimat atau diskusi, yang bicarakan sesuai dengan yang disampaikan kedua belah pihak.
“Pasambahan itu sesungguhnya memiliki makna tersendiri. Tabayum atau memperkuat kepastian makna kalimat atau kata dalam diskusi pasambahan pidato adat. Sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan kekeliruan dalam musyawarah mufakat. Dan semestinya, sifat dan tatanan nilai itu dipertajam. Bukan sebaliknya! Budaya Minabgkabau mempertajam keelokan budi. Mengasah raso jo pareso, etika dan sifat malu,” tutup Angku Yus Bandaro Bodi. (rud)
















