Padangpariaman, Prokabar — Guna meminimalkan dampak tsunami terhadap warga masyarakat di sekitar Pantai Ketaping, Padangpariaman, Sumatera Barat, PT Angkasa Pura II (Persero) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukannya dengan cara menanam ribuan pohon cemara laut di pinggir pantai tersebut.
Kegiatan ini sekaligus bagian dari Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) perseroan.
Sesuai kesepakatan dengan Universitas Andalas yang akan membantu pelaksanaannya, kegiatan penanaman pohon cemara laut pada lahan seluas 110.000 m2 di wilayah Pantai Ketaping dilakukan dalam dua tahap.
Tahap Pertama, sebanyak 3.125 pohon ditanam tahun ini dengan masa perawatan tiga bulan. Kegiatan penanaman serupa dilanjutkan tahun depan, yakni Tahap Kedua dengan penanaman sebanyak 1.875 pohon. Dengan begitu, jumlah pohon cemara laut yang akan ditanam perseroan di Pantai Ketaping secara total mencapai 5.000 pohon.
Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II, Bayu Rafisukmawan mengatakan, untuk memastikan program tersebut terlaksana, Angkasa Pura II mengalokasikan anggaran PKBL sebesar Rp762,5 juta.
Menurut Bayu, pohon cemara laut dikenal mampu meminimalkan dampak bencana tsunami seperti halnya pohon cemara udang, pule, dan tanaman bakau. Semakin besar ukuran pohon cemara laut, maka akan semakin efektif dalam mengurangi dampak tsunami.
“Kami berharap setelah penanaman perdana ini, selanjutnya dapat dilakukan perawatan sehingga ribuan pohon cemara laut yang kami tanam bisa tumbuh maksimal dan bisa berperan sebagai benteng alam yang efektif,” katanya, Selasa (12/11).
Sejalan dengan program penanaman Cemara Laut, seluruh pihak juga diminta agar menjaga kebersihan Pantai Ketaping, yang menjadi salah satu objek wisata unggulan Kabupaten Padang Pariaman.
“Dengan penanaman pohon cemara laut, kami ingin membuat Pantai Ketaping menjadi lebih menarik dan teduh. Kegiatan ini juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Internasional Minangkabau kepada masyarakat Padang,” ujarnya.
Adapun Bandara Internasional Minangkabau merupakan bandara tersibuk ke enam dari 19 bandara yang dikelola Angkasa Pura II, setelah Soekarno-Hatta, Kualanamu, Halim Perdanakusuma, Sultan Mahmud Badaruddin II, dan Supadio.
Bayu Rafisukmawan memastikan upaya Angkasa Pura II untuk meningkatkan pelayanan kebandarudaraan kepada masyarakat Sumatera Barat terus dilakukan.
Salah satunya adalah dengan melakukan berbagai pengembangan di Bandara Internasional Minangkabau, guna memperluas konektivitas penerbangan bagi masyarakat Sumbar khususnya Padang.
“Kami berencana mengembangkan terminal penumpang di Bandara Minangkabau menjadi 5,7 juta penumpang per tahun, dari kapasitas saat ini 2,3 juta penumpang,” tambahnya. (*)
















