Trending | News | Daerah | SemenPadangFC

Daerah

Akankah Ukiran Pandai Sikek Bertahan di Tengah Kemajuan Zaman?

Dibaca : 273

Tanah Datar, Prokabar – Nagari Pandai Sikek adalah salah satu wilayah penghasil kerajinan ukir di Tanah Datar, Sumatera Barat. Hasil karya seni ukir dari tangan pengrajin ukiran Nagari Pandai Sikek saat ini tidak hanya dikenal ditingkat lokal dan domestik, bahkan hasil kerajinan mereka juga sudah sampai ke mancanegara.

Sejak dahulu, pandai sikek memang telah mashur sebagai pusat kerajinan tenun dan ukiran Minangkabau. Hal ini tak lain karena pengrajin ukiran di Nagari itu sangat handal dan terampil serta mampu memperlihatkan bagaimana teknik tingkat tinggi dan rumit disetiap ukiran yang mereka kerjakan sehingga memiliki nilai seni yang tinggi.

Sanggar ukiran Chan Umar salah satunya. Sanggar ini merupakan salah satu usaha kerajinan ukiran kayu tradisional yang terdapat di Pandai Sikek.

Berbagai jenis ukiran kayu dapat ditemukan disanggar itu. Termasuk ukiran yang dipadukan dengan aneka perabot lain seperti tempat tidur, kursi, lemari, bahkan hiasan ukiran yang sering kita jumpai di bangunan-bangunan kantor pemerintahan di Sumatera Barat.

Sanggar ukiran Chan Umar Pandai Sikek, menjadi satu dari sedikit warisan budaya asli Minangkabau yang masih bertahan sampai saat ini. Keanggunan filosofi minangkabau yang dipahatkan pada kayu-kayu surian, selalu menjadi daya tarik tersendiri para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk mengunjungi sanggar ukiran Chan Umar.

“Pesanan-pesanan seperti interior, kotak-kotak penyimpanan dan souvenir bermotif ukiran minang sangat digemari masyarakat internasional,” ungkap Husnil, salah seorang pengrajin seni ukir itu.

Hasnil, menyampaikan jika motif yang dipahatkan pada kayu kayu tersebut memiliki nama dan makna tersendiri. Sesuai dengan karakteristik adat istiadat di Minangkabau.

“Nama motifnya sangat banyak ragamnya, ada kaluak paku, itiak pulang patang, sikambang manih, aka cino dan lain lain,” ungkapnya.

Husnil juga menyayangkan, kecintaan generasi muda terhadap seni ukir minangkabau merosot seiring dengan perkembangan zaman. Jika dulu banyak ditemukan pengukir di daerah pandai sikek, akan tetapi kondisi saat ini jumlahnya malah jauh berkurang, dan hanya tinggal beberapa orang saja yang masih aktif.

“Faktor regenerasi juga menjadi penyebab banyak hilangnya sanggar-sanggar ukir khas minang ini. Banyak generasi muda yang merantau keluar dari nagari juga menyumbang sudah tidak adanya lagi minat pada seni ukir,” sambungnya.

Pertimbangan ekonomis juga menjadi alasan utama tidak diminatinya seni ukiran saat ini. Lamanya waktu pengerjaan, dinilai relatif tidak seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Padahal, keterampilan mengukir bagi warga Pandai Sikek diwariskan secara turun temurun.

Kepedulian terhadap pekerja seni ukir saat ini sangatlah diperlukan. Hal ini bertujuan agar eksistensi seni ukiran khas minangkabau, khususnya di Nagari Pandai Sikek tetap bertahan ditengah tengah era globalisasi sekarang ini. (eym)


Baca Juga :

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top