Agam, Prokabar – “Wisata itu hanya tontonan, sementara Budaya itu Tuntunan,” begitulah banyak kalimat terlontar dari para budayawan.
Menjelaskan pentingnya kelestarian budaya dijaga, dirawat dan terus dikembangkan. Sehingga semakin memberi dampak luas terhadap kebaikan hidup masyarakatnya.
Itu pula yang disampaikan, Muhammad Fadhli atau lebih dikenal Ajo Wayoik. Dosen ISI Padang Panjang sekaligus seniman dan budaya Sumatera Barat ini menghipnotis sejumlah peserta terdiri 50 orang kelompok sadar wisata atau Pokdarwis.
Kata-kata bijak dengan pendekatan kalimat penuh filsafat, membuat perenungan menusuk hati nan paling dalam.
“Kata siapa wisata itu merusak budaya dan generasi muda? Bukanlah Rasullullah mengajak kita memuliakan tamu? Bukankah itu Sunnah Rasul?,” terangnya.
Pendiri Batajau Piaman dengan tujuh kali ivent setahun tanpa bantuan pemerintah ini menjelaskan, orang Eropa tidak akan hadir ke sini melihat permainan basket yang di negara mereka lebih hebat.
“Mereka yang wisata itu tidak akan mau melihat penampilan tari dancer atau bangunan serba megah. Karena mereka lebih dahulu memiliki tari ala Eropa dan Bangunan Termegah di muka bumi ini,” tegasnya.
Yang mereka akan lihat lanjutnya, kesenian dan budaya yang tidak mereka miliki di kampung halamannya. Dan Budaya Minangkabau itu, satu satunya budaya di muka bumi dengan segala keunikan dan paling unik. Menjadi daya tarik paling menarik dalam dunia pariwisata.
Ajo Wayoik berkisah, ada seorang warga Indonesia berteman dengan salah seorang bangsa Eropa.
Pada masa itu, sarana prasarana dan alat telekomunikasi masih belum secanggih ini. Akibat pesawat delay dan kemalaman sampai di Indonesia, memaksa mereka jauh berjalan kaki mencari penginapan.
Setelah lama berjalan, warga Indonesia itu pun merasa letih sakit pinggang, akibat terlalu jauh berjalan. Sementara, waktu telah menunjukan pukul 2 malam.
Teringat ada kenal seorang ibu, yang tinggal dekat dari perjalanan. Singgah dan mengetuk pintu, hingga sang ibu keluar dan mempersilahkan masuk.
Warga Eropa itu pun agak sedikit kaget, karena di Eropa tidak akan pernah ada warga lain mau diganggu istirahatnya. Bahkan membukakan pintu di malam hari, meski pun sudah saling kenal.
Sampai di dalam rumah, sang ibu pun malah memasak dan menghidangkan makanan. Dengan lahap, warga Indonesia itu dengan lahap makan.
Namun berbeda dengan si Bule Eropa itu, tetasan air mata mengalir indah meresapi begitu dalamnya rasa saling kasih dan menyayangi.
“Inilah manusia yang sebenar-benarnya manusia. Miliki darah dan daging yang menggumpal menyatu dalam tubuh anatomi manusia. Sementara kami di Eropa, hanyalah mesin ibarat robot yang dibentuk hanya untuk bekerja,” tuturnya.
Dengan manusia dan budayanya, menciptakan rasa dan karsa menjalin ikatan kasih dan seni yang halus kepada sesama. Memantapkan karakter berfikir, bersikap dan bertindak mengutamakan tatanan moral atau adab.
“Semua kita, semua manusia, semua orang Minangkabau itu adalah seniman. Sang Ibu yang merawat dan menidurkan anaknya, selalu berdendang dengan nyanyian merdu. Bapak dalam peran sebagai Mamak, Ayah atau guru, memiliki seni memimpin dan mengambil kebijakan,” ulasnya.
Hidup harus memiliki seni. Seni bertutur, seni berfikir, seni bersikap dan seni melakukan aksi bersama-sama. Silat di Minangkabau adalah Silek dan orang Minang tidak akan mau Silek dijadikan Silat. Karena dianggap berbeda.
Silek adalah seni karena memiliki keindahan gerak, berbeda dengan seni bela diri lainnya. Silek seakan-akan terlihat menari-nari, tapi mematikan lawan. Namun uniknya, tidak akan pernah ada orang Minang mau disebut seniman. Hanya mau disebut “Pagurau”.
Untuk saat ini, tidak sedikit kesenian Minang terancam punah. Seperti Rabab, Indang Tuo, Salawat Dulang, Ulu Ambek, Saluang, Pupuik, Sarunai, Sampelong, Tupai Janjang dan sebagainya. Kenapa generasi muda tidak menyukai musik tradisional asli Minang ini? Bagaimana cara menjawab tantangan ini?
“Hobi mereka harus tetap kita iringi yang pada akhirnya dapat kita tarik kembali pada dasar akar budayanya. Seperti mengkolaborasikan musik modern dengan talempong. Karena mereka dicekoki musik barat, maka harus diracuni dengan kolaborasi musik modern dan tradisional. Ketika keindahan bunyi menonjolkan nilai tradisional, dari situlah mereka ditarik dan diajarkan seni tradisi yang memilik karakter yang sesungguhnya,” (rud)
















