Ajo Wayoik ‘Hipnotis’ 50 Orang Pokdarwis, Ajak Cintai dan Lestarikan Nilai Budaya

Penulis -

Rabu, 8 September 2021 - 23:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Agam, Prokabar – “Wisata itu hanya tontonan, sementara Budaya itu Tuntunan,” begitulah banyak kalimat terlontar dari para budayawan.

Menjelaskan pentingnya kelestarian budaya dijaga, dirawat dan terus dikembangkan. Sehingga semakin memberi dampak luas terhadap kebaikan hidup masyarakatnya.

Itu pula yang disampaikan, Muhammad Fadhli atau lebih dikenal Ajo Wayoik. Dosen ISI Padang Panjang sekaligus seniman dan budaya Sumatera Barat ini menghipnotis sejumlah peserta terdiri 50 orang kelompok sadar wisata atau Pokdarwis.

Kata-kata bijak dengan pendekatan kalimat penuh filsafat, membuat perenungan menusuk hati nan paling dalam.

“Kata siapa wisata itu merusak budaya dan generasi muda? Bukanlah Rasullullah mengajak kita memuliakan tamu? Bukankah itu Sunnah Rasul?,” terangnya.

Pendiri Batajau Piaman dengan tujuh kali ivent setahun tanpa bantuan pemerintah ini menjelaskan, orang Eropa tidak akan hadir ke sini melihat permainan basket yang di negara mereka lebih hebat.

“Mereka yang wisata itu tidak akan mau melihat penampilan tari dancer atau bangunan serba megah. Karena mereka lebih dahulu memiliki tari ala Eropa dan Bangunan Termegah di muka bumi ini,” tegasnya.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Yang mereka akan lihat lanjutnya, kesenian dan budaya yang tidak mereka miliki di kampung halamannya. Dan Budaya Minangkabau itu, satu satunya budaya di muka bumi dengan segala keunikan dan paling unik. Menjadi daya tarik paling menarik dalam dunia pariwisata.

Ajo Wayoik berkisah, ada seorang warga Indonesia berteman dengan salah seorang bangsa Eropa.

Pada masa itu, sarana prasarana dan alat telekomunikasi masih belum secanggih ini. Akibat pesawat delay dan kemalaman sampai di Indonesia, memaksa mereka jauh berjalan kaki mencari penginapan.

Setelah lama berjalan, warga Indonesia itu pun merasa letih sakit pinggang, akibat terlalu jauh berjalan. Sementara, waktu telah menunjukan pukul 2 malam.

Teringat ada kenal seorang ibu, yang tinggal dekat dari perjalanan. Singgah dan mengetuk pintu, hingga sang ibu keluar dan mempersilahkan masuk.

Warga Eropa itu pun agak sedikit kaget, karena di Eropa tidak akan pernah ada warga lain mau diganggu istirahatnya. Bahkan membukakan pintu di malam hari, meski pun sudah saling kenal.

Baca Juga :  Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Sampai di dalam rumah, sang ibu pun malah memasak dan menghidangkan makanan. Dengan lahap, warga Indonesia itu dengan lahap makan.

Namun berbeda dengan si Bule Eropa itu, tetasan air mata mengalir indah meresapi begitu dalamnya rasa saling kasih dan menyayangi.

“Inilah manusia yang sebenar-benarnya manusia. Miliki darah dan daging yang menggumpal menyatu dalam tubuh anatomi manusia. Sementara kami di Eropa, hanyalah mesin ibarat robot yang dibentuk hanya untuk bekerja,” tuturnya.

Dengan manusia dan budayanya, menciptakan rasa dan karsa menjalin ikatan kasih dan seni yang halus kepada sesama. Memantapkan karakter berfikir, bersikap dan bertindak mengutamakan tatanan moral atau adab.

“Semua kita, semua manusia, semua orang Minangkabau itu adalah seniman. Sang Ibu yang merawat dan menidurkan anaknya, selalu berdendang dengan nyanyian merdu. Bapak dalam peran sebagai Mamak, Ayah atau guru, memiliki seni memimpin dan mengambil kebijakan,” ulasnya.

Hidup harus memiliki seni. Seni bertutur, seni berfikir, seni bersikap dan seni melakukan aksi bersama-sama. Silat di Minangkabau adalah Silek dan orang Minang tidak akan mau Silek dijadikan Silat. Karena dianggap berbeda.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Silek adalah seni karena memiliki keindahan gerak, berbeda dengan seni bela diri lainnya. Silek seakan-akan terlihat menari-nari, tapi mematikan lawan. Namun uniknya, tidak akan pernah ada orang Minang mau disebut seniman. Hanya mau disebut “Pagurau”.

Untuk saat ini, tidak sedikit kesenian Minang terancam punah. Seperti Rabab, Indang Tuo, Salawat Dulang, Ulu Ambek, Saluang, Pupuik, Sarunai, Sampelong, Tupai Janjang dan sebagainya. Kenapa generasi muda tidak menyukai musik tradisional asli Minang ini? Bagaimana cara menjawab tantangan ini?

“Hobi mereka harus tetap kita iringi yang pada akhirnya dapat kita tarik kembali pada dasar akar budayanya. Seperti mengkolaborasikan musik modern dengan talempong. Karena mereka dicekoki musik barat, maka harus diracuni dengan kolaborasi musik modern dan tradisional. Ketika keindahan bunyi menonjolkan nilai tradisional, dari situlah mereka ditarik dan diajarkan seni tradisi yang memilik karakter yang sesungguhnya,” (rud)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB