Nasional

Ahok Jadi Petinggi Salah Satu BUMN, Ini Tanggapan Dahlan Iskan

Padang, Prokabar — Mencuatnya Nama mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai calon bos salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang menimbulkan pro kontra bagi banyak pihak.

Salah satunya datang dari mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan. Dahlan mempertanyakan apakah Ahok merupakan orang yang berprestasi sehingga akan ditempatkan di salah satu BUMN?

Hal tersebut dituangkannya dalam catatannya di laman disway.id bertajuk “Prestasi BTP” seperti dikutip Prokabar, Senin (18/11). Dirinya juga memberikan catatan perihal langkah Kementerian BUMN yang akan menempatkan BTP.

“Rencana itu sangat sangat baik. Kalau BTP memang dianggap orang yang selama ini berprestasi. Lepas siapapun ia. Apa pun pendidikannya. Di mana pun perjalanan karir sebelumnya. Bagaimana kalau ada penilaian BTP itu hanya berprestasi dalam membuat kehebohan? Terserah yang menilai dan yang diberi nilai.” tulisnya.

Dirinya menilai jika penempatan Ahok benar, maka itu merupakan perjudian. “Kalau penempatannya di BUMN besar berjudiannya juga besar. Apakah BUMN sebuah perusahaan yang layak diperjudikan? Tergantung pemiliknya. Mungkin saja sang pemilik menilai BTP itu orang yang berprestasi,” lanjut Dahlan.

Ia pun heran mengapa rencana penempatan Ahok di BUMN sudah memicu kehebohan. Padahal saat ini baru ada dua fakta yang diketahui, yaitu Ahok dipanggil Menteri BUMN Erick Thohir. Lalu Ahok mengaku dipanggil untuk ditempatkan di salah satu BUMN.

“Belum ada indikasi di BUMN mana. Besar? Kecil? Yang sudah laba? Yang masih rugi? Juga belum jelas sebagai apa. Direktur utama? direktur? komisaris utama? komisaris? Masih banyak fakta yang harus saya lihat. Untuk bisa berkomentar lebih panjang,” tulis Dahlan.

Untuk itu dirinya berpesan, ada prinsip yang harus dipegang, perusahaan pun perlu ketenangan. Perusahaan tidak bisa maju kalau hebohnya lebih besar dari kerjanya.

“Begitu juga di perusahaan: perlu kestabilan. Apalagi perusahaan besar. Yang ibaratnya kapal besar. Yang tidak mudah dibelok-belokkan. Memang, bisa juga sukses diraih lewat kehebohan. Tapi sukses seperti itu biasanya hanya di permukaan. Dan untuk jangka pendek.

Mungkin karena itu lahirlah filsafat “benang berhasil ditarik, tepung tidak terhambur”. 

Filsafat itu sering juga salah dalam penerapannya: tepungnya memang tidak terhambur tapi benangnya juga tidak tercabut. Banyak perusahaan yang tenang tapi juga tidak maju.” terangnya. (hdp)

 

Berani Komen Itu Baik
Tirto.ID
Loading...
To Top