Pesisir Selatan, Prokabar – Melonjaknya harga pupuk di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), berdampak buruk terhadap hasil panen bagi petani. Dan hasil penan tersebut bagi petani hanya untuk sekedar makan.
Informasi dihimpun Prokabar.com ditingkat petani, andapun jenis pupuk yang mengalami kenaikkan yakni Phoska naik dari Rp135 ribu per karung, menjadi Rp150 ribu per karung, Urea naik dari Rp125 ribu per karung menjadi Rp150 ribu per karung.
NPK merah naik dari Rp11 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram, SS dari Rp8 ribu per kilogram menjadi Rp12 ribu per kilogram.
Naiknya harga pupuk tentunya, kondisi petani di ‘Negeri Berjuluk Sejuta Pesona’ saat ini semakin tak berdaya dan tidak mendapatkan perhatian yang layak dari pemerintah.
Namun, perjuangan yang sulit di masa tanam tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh saat musim panen.
Catatan Prokabar.com, berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), dalam lima tahun terakhir kebutuhan pupuk untuk petani mencapai 22,57-26,18 juta ton.
Total anggaran yang dibutuhkan Rp63 triliun-Rp65 triliun. Sementara anggaran yang disediakan hanya Rp25 triliun sampai Rp32 triliun.
Keterbatasan anggaran itu menyebabkan pemerintah hanya dapat mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 8,87 juta- 9,55 juta ton.
Catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar, hasil pemantauan harga-harga di perdesaan di 11 Kabupaten di Sumatera Barat pada bulan Oktober 2021, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumbar mengalami peningkatan dibanding bulan September 2021 sebesar 0,35 persen, yaitu dari 110,69 menjadi 111,08.
Hal ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani mengalami peningkatan sebesar 0,94 persen, lebih tinggi dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,58 persen.
Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, NTP Oktober 2021 pada dua subsektor mengalami peningkatan,
Pertama subsektor tanaman perkebunan rakyat 1,14 persen, kedua subsektor perikanan 0,34 persen dan subsektor mengalami penurunan, yakni subsektor tanaman pangan 0,02 persen, subsektor hortikultura 0,20 persen, dan subsektor
peternakan 1,42 persen.
Salah seorang petani di Laban, Nagari Salido, Maradi (68), petani pada umumnya mengalami kesulitan, karena harga pupuk subsidi dan non subsidi terus melonjak naik.
“Jika dosis dikurangi, akan berdampak pada hasil panen. Mau tak mau hasil panen menyusut. Hasil panen untuk sekedar makan. Kini, kami memakai pupuk kandang dikombinasi dengan pupuk kimia dengan tujuan untuk hemat biaya,” ujarnya pada Prokabar.com Selasa (9/11).
Selain harga pupuk naik, harga gabah mengalami penurunan seperti gabah jenis 42 Rp330 ribu per karung, Bujang marantau Rp320 ribu per karung.
“Ini tidak berimbang dengan hasil panen. Harapan kami harga pupuk dapat kembali normal, sehingga hasil meningkat,” ungkapnya.
Lanjut, Mariadi menagatan, persoalan yang dihadapi petani tak berhenti di situ. Setelah beragam kesulitan di masa tanam, setibanya musim panen, petani harus gigit jari karena anjloknya harga. Petani tak banyak mendapatkan keuntungan, bahkan lebih banyak bertahan hidup.
Selain itu, petani juga berharap agar pemerintah dapat memastikan harga pupuk dan memberikan pangsa pasar harga gabah yang jelas, agar petani tidak terus merugi saat musim panen.
“Mestinya pemerintah perhatikan petani, jangan petani digunakan untuk kepentingan politis saja. Berikan jaminan harga pupuk yang stabil sehingga hasil produksi panen agar beruntung. Jangan sampai mau bertanam harganya naik terus, tapi untungnya turun terus,” harapnya.
Kondisi sulit ini akhirnya membuat banyak petani yang pusing. Sehingga, keuntungan hasil panen tidak bisa dirasakan karena untuk hasil panen hanya sekedar untuk makan dan untuk tanam kembali petani memikirkan biaya yang mahal.
“Ya begitulah, kondisi tersebut hampir merata dialami petani di daerah ini. Ekonomi kami sekarang morat marit,” tutupnya. (min)
















