Tanah Datar, Prokabar- Pasca banjir bandang yang melanda nagari Tanjung Bonai, Lintau Buo Utara, Tanah Datar beberapa tahun lalu, ternyata masih menyisakan persoalan ditengah masyarakat, terutama bagi petani. Akibat bencana itu, banyak kepala bandar sebagai kebutuhan utama petani dalam pasokan air yang masih rusak.
Kepala bandar limo sundai salah satunya. Kondisi kepala bandar itu bisa dikatakan tidak berbentuk lagi. Padahal, kepala bandar merupakan pasokan air utama bagi sawah di Jorong Ujung Tanah dan Kajai nagari Tapi Selo, Kecamatan Lintau Buo Utara.
Kepala Jorong Kajai, Yulizar mengatakan akibat minimnya pasokan air, masyarakat kini banyak melakukan alih fungsi lahan. Alih fungsi itu berupa lahan yang sebelumnya sawah, kini telah menjadi ladang.
Pada umumnya, petani menanam jagung yang sebagian besar untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak ayam petelur.
“Biasa masyarakat kita menghasilkan beras, kini udah membeli beras” kata Yulizar.
Yulizar melanjutkan, setidaknya ada beberapa kepala bandar yang rusak akibat bencana 2018 lalu itu, diantaranya kepala bandar koto di jorong Mudik Lindan, kepala bandar parit rantang, sawah laweh terletak di jorong Ujung Tanah, kepala bandar kodok di jorong Kajai.
Sebagian kepala bandar juga sudah diperbaiki secara swadaya, dan sebagian lainnya sudah mendapatkan bantuan pemerintah melalui kelompok tani.
” irigasi parit rantang diperbaiki dengan bantuan pemerintah melalui kelompok tani pada tahun 2020 dan tahun 2021 ada bantuan untuk tali bandar. Sawah laweh, juga sudah diperbaiki secara swadaya,” ungkapnya.
Untuk jorong kajai sendiri ungkapnya, 80% lahan sawah kini telah alih fungsi menjadi ladang jagung. Di jorong itu, petani sangat mengandalkan aliran air dari kepala bandar limo sundai yang rusak berat.
” Akibat minim pasokan air, petani memilih alih fungsi lahan sawah mereka menjadi ladang. pada umumnya lahan dijadikan ladang jagung, dan sebagian ubi,” tambahnya.
Wali jorong mengaku, telah mengajukan aspirasi masyarakat untuk perbaikan pada musrenbang ditingkat nagari dan itu hampir setiap tahun. Namun belum jua terelisasi sampai saat ini.
” mungkin di musrenbang, banyak bebagai kebutuhan lainnya sehingga belum terakomodir sampai saat ini harapan masyarakat kita. Mungkin ada yang lebih butuh,” tambahnya.
Menurutnya, alih fungsi lahan sawah menjadi ladang turut berdampak terhadap kebiasaan masyarakat.
” kebiasaan itu seperti ini, walau harga jagung tinggi namun hasil penjualan palingan masyarakat dibelikam beras dua karung. Laba lainnya, bisa jadi habis beli ini dan itu, motor buat anak dan lainnya. Artinya keuntungannya itu sesaat. Kecuali padi, biasanya masyarakat kita bisa menyimpan padi untuk mencukupi kebutuhan, jadi tidak lagi membeli seperti sekarang,” ujar Wali Jorong.
Ia berharap, aspirasi masyarakat untuk perbaikan tali bandar bisa menjadi perhatian pihak terkait. Pihak jorong tidak memungkiri, akibat alih fungsi lahan, berton ton padi tidak lagi dihasilkan oleh petani di daerahnya. (eym)
















