Derita Gejala Lupus Usai Vaksin Covid-19, Melin Diacuhkan Pemkab Pasaman

Penulis -

Minggu, 19 Desember 2021 - 06:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman, Prokabar – Malang nian nasib Melin, Siswa SMK Negeri 1 Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman yang kini terbaring lemah di RSUP M. Djamil Padang.

Sudah dua minggu lebih Melin menderita sakit setelah menjalani vaksin Covid-19. Pedihnya lagi, sampai saat ini belum ada hak hek hok dari instansi terkait atau Pemkab Pasaman yang peduli atas nasibnya.

Sang orang tua, Rinal pun mulai kehabisan akal. Pikiran semakin sempit, tak tau lagi harus bagaimana, hanya bisa pasrah sembari berdoa pada Tuhan, semoga putri kedua hasil buah hatinya bersama Eni itu bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala.

Pada Prokabar.com, Rinal berkisah, anaknya Melin yang kini terbaring lemah di M. Djamil Padang dikarenakan kejadian pasca vaksin. Pada 22 November lalu, Melin menjalani vaksin Covid-19. Ini sebagai syarat bersekolah dan ketentuan aturan yang ada. Tapi siapa sangka, belum sampai satu hari setelah vaksin, gejala sakit mulai terasa.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

“Vaksin tanggal 22 November siang. Malamnya, Melin mengalami pusing. Kami mulanya tidak begitu mencemaskan keadaan Melin, lantaran kata orang-orang itu memang gejala setelah vaksin. Akan tetapi seiring berjalan waktu, kondisinya bertambah parah. Bahkan di hari kedua kami membawanya ke dokter penanggung jawab pasca vaksin. Dikasih obat, tapi tak kunjung membaik, hingga akhirnya beralih ke Puskesmas dan tidak ada juga angsuran, lalu dirujuk ke RSUD Lubuk Sikaping. Gejala parah itu, di hari ketiga, badannya mulai membengkak,” kata Rinal.

Setelah dirujuk ke RSUD Lubuk Sikaping, kondisi Melin semakin parah. Tim medis pun merujuk ke RSUP M.Djamil Padang.

“Kini sudah 10 hari pula Melin di RSUP M. Djamil Padang, kemarin, keluar hasil pemeriksaan darah dari Jakarta. Melin didiaknosis mengalami gejala penyakit lupus. Ginjalnya mengalami peradangan, lambung iya juga bahkan sampai ke paru-paru. Kamipun terkejut dengan cobaan ini,” kata Rinal.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Tidak itu saja, Senin depan, Melin dijadwalkan melakukan pemeriksaan mata. Sebab, saat matanya terkena cahaya, terasa perih.

“Kata dokter yang menangani Melin, ini mengalami kejadian dimana imun tubuh yang seharusnya melawan bakteri atau virus jahat, malah menyerang tubuh sendiri,” kata Rinal.

Disesali Rinal, Pemerintah seperti tidak mau tau saja. Tidak ada perhatian atau tanggapan yang didapat keluarga Melin. Jangankan ke rumah, menannyakan keadaan Melin saja melalui telpon atau semacamnya tidak ada. Hanya dokter yang menyuntikan vaksin Covid-19 pada Melin yang pernah datang ke rumah. Itupun ia datang secara pribadi, bukan atas nama pemerintah.

“Jika sudah seperti ini, siapa yang tanggung jawab. Semua selengah saja. Kalau dikatakan pemerintah tidak tau, sudah se Kecamatan Lubuk Sikaping kasus yang dialami Melin ini viral. Bahkan, di hari kedua melin sakit pasca divaksin, kami memeriksanya ke rumah dokter atau bidan yang suaminya bekerja di Dinas Kesehatan. Berpangkat pula,” kata Rinal.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Diakui Rinal, kondisi yang jauh antara Pasaman dan Padang membuat ia kesulitan dalam memantau kesehatan sang anak. Di Padang, hanya sang istri yang menjaga. Hanya ia dan anak ke-3 yang ada di Lubuk Sikaping.

“Pergi sekeluarga ke Padang, percuma, karena yang menjaga hanya satu orang diperbolehkan. Tidak pergi, saya terus merasakan kecemasan. Ini sudah hampir tiga minggu saya tidak bisa bekerja. Sementara biaya hidup dibutuhkan terus. Coba untuk kembali bekerja seperti sediakala, namun tidak ada semangat. Fikiran ke anak semata,” kata Rinal yang kesehariannya bekerja serabutan.

Rinal berharap, adalah perhatian dari pemerintah terutama bagaimana jalan baiknya perawatan untuk sang anak Melin. Meski biaya ditanggung BPJS, namun karena keterbatasan penunggu pasien, ia tidak bisa memantau kondisi sang anak. (Ola)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB