Padang, Prokabar – Satuan Tenaga Konselor disingkat Sanak Pariwisata Sumbar melibatkan diri dalam memajukan pokdarwis dan destinasi unggul.
Mereka terdiri dari pelaku dan penggiat wisata budaya seperti Ritno Kurniawan selaku perintis Lubuak Nyarai dan Arung Jeram Lubuk Alung, Muhammad Fadhly (Ajo Wayoik) penggagas Batajau Piaman, Teuku Firmansyah selaku direktur Solok Radjo, Muhammad Yahdi, Ketua Pokdarwis Kapalo Banda dan Septiadi Kurniawan, Ketua Pokdarwis Talao Park Ulakan.
Dalam kesempatan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Barat merangkul Sanak dalam transfer ilmu kepada 50 orang pokdarwis se Sumatera Barat (10 kabupaten/kota).
Berbagi pengalaman keberhasilan dalam membangun industri pariwisata yang telah dirintis Satuan Tenaga Konselor tersebut.
Teuku Firmansyah, pendiri sekaligus owner Solok Radjo berkesempatan berbagi menjelaskan sejumlah konsep dasar membangun bisnis atau usaha.
Apalagi berkaitan erat dengan kepariwisataan. Memahami kebutuhan dasar hidup manusia, sebagai langkah awal dalam penyediaan sarana dan prasarana usaha yang akan dibangun.
“Saat ini paket data internet sudah menjadi kebutuhan primer. Sedangkan handphone dengan resolusi tinggi untuk foto dan video sudah menjadi kebutuhan sekundernya,” ungkap Teuku Firmansyah.
Sementara kebutuhan tersier sekarang antara rumah mewah dengan traveling sudah menjadi persaingan ketat. Kedua kebutuhan ini menjadi sebuah pilihan imbang dari manusia saat ini, karena dianggap sama-sama dibutuhkan.
Alasan kuat manusia saat ini membutuhkan wisata karena keinginan rekreasi atau jalan-jalan. Istirahat sejenak dari padatnya rutinitas, menikmati keindahan alam, mencari aktifitas pengalaman baru, mencicipi makanan dan minuman yang berbeda serta eksistensi di sosial media.
“Kiat utama dalam mengembangkan usaha agar cepat berjalan adalah kemasan praktis dan cepat saji. Karena pelayanan cepat tanggap, membuat pengunjung senang dan puas. Yang tidak kalah penting adalah branding prodak jualan yang unik dan melekat kuat dalam memori otak pengunjung. Kenangan dan pengalaman baru itu menjadi promosi jitu, membuat pengunjung menceritakan pengalamannya itu kepada keluarga, sanak saudara dan rekan-rekannya,” jelas pendiri Solok Radjo tersebut.
Branding tertentu yang hanya ada di satu tempat seperti Mie Galodo yang ia ciptakan. Kemasan dan penyajian bersih, bahan baku dan stok memadai dan biaya rendah namun bisa laris cepat habis.
“Tidak kalah pentingnya target pasar. Harus jelas dan terukur, karena hal ini akan berkaitan dengan kebutuhan orang yang akan menjadi market kita. Dari keluarga muda, menengah dan keatas. Wisatawan massal, minat khusus, mancanegara, faktor umur dan jenis kelamin serta hobi yang melekat dari tamu,” terangnya.
Sarana prasarana dari target pasar tentu wajib disesuaikan. Semakin tinggi target pasar yang akan dituju, akan semakin tinggi pula biaya pemenuhan kebutuhannya. Seperti toilet, kursi dan meja tamu, penginapan atau homestay, menu yang menyesuaikan dan sebagainya.
Selain itu, promosi dan cara pelayanan dari tim kerja juga harus diperhatikannya. Promosi mudah diakses dan selalu konsisten setiap hari dishare.
Setiap aktifitas dan waktu suasana pagi, siang dan malam, akan memperlihatkan rasa keinginan tahu wisatawan berkunjung.
“Pelayanan prima adalah pasti. Setiap pengunjung memiliki karakter yang berbeda-beda, namun pelayanan harus tetap sama pemberlakuannya dan harus tetap ramah kepada setiap pengunjung. Ketika ada komplen, harus cepat tanggap agar tidak sampai merebak ke luar lokasi. Menghindari citra buruk pada pengunjung lainnya,” ulasnya. (rud)
















