Prokabar.com, Jakarta – Serikat Bersama (Sekber) Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia mengkritik mahalnya harga surat tes Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 daripada tiket pesawat.
Koordinator Sekber Serikat Karyawan PT Garuda Indonesia Tomy Tampatty mengakui harga tes swab PCR menjadi pertimbangan penumpang pesawat.
Tingginya harganya ini membuat penumpang pesawat Garuda Indonesia menurun. Belum lagi ada rute penerbangan lain yang lebih murah dari harga tes swab.
“Ini jadi penyebab turunnya tingkat isian penumpang pesawat secara signifikan,” kata Tomy, Kamis (5/8).
Tomy menegaskan kebijakan PCR bagi penumpang pesawat merupakan aturan diskriminatif.
Alasannya, kata Tomy, pengguna transportasi udara memiliki waktu tempuh yang lebih singkat dari transportasi darat.
Selain itu, pesawat Garuda Indonesia juga menerapkan layanan protokol kesehatan dan HEPA Filter.
Tomy meminta Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meninjau ulang aturan soal penumang pesawar wajib membawa tes swab PCR.
“Minimal dokumen kesehatan yang dibawa penumpang adalah tes negatif antigen yang sampelnya sehari sebelum keberangkatan,” kata Tomy.
Penumpang Garuda Indonesia Menurun
Penumpang Garuda Indonesia menurun, pada Mei 2021 penumpang pesawat andalan Indonesia itu hanya 299.212 orang.
Angkat ini turun 16,28 persen dari bulan sebelumnya yang mencapai 24.824 orang.
Pada penerbangan domestik penumpang garuda 291.091 orang, sementara itu untuk internasional hanya 8.121 orang.
Penurunan ini membuat PT Garuda Indonesia sempat digugat Pailit oleh perusahaan penyewaaan pesawat, Aercap Ireland Limited (Aercap).
Beruntung saja gugatan tersebut dicabut setelah menandatangani Global Side Letter Agreement sebagai tanda kesepakatan.
Pencabutan gugatan ini memberikan harapan untuk Garuad Indonesia meskin masih membawa kerugian bersih 284,25 Dollar Amerika atau Rp 5,57 trilun dengan kurs Rp 14.500 Dollar Amerika.
Tes PCR Tuai Kritikan
Wakil Ketua Komisi V DPR RI Syarief Abdullah Alkadrie meminta pemerintah pusat mengkaji ulang aturan Swab PCR sebagai syarat perjalanan jarak jauh menggunakan pesawat atau kereta api.
Abdullah meminta pengkajian ini lantaran laboratorium untuk uji PCR belum merata di Indonesia.
Selain jumlah labor uji PCR yang belum merata, Abdullah juga melihat dari sisi harga PCR yang mahal.
Tingginya harga PCR ini membuat harga perjalanan semakin tinggi. Belum lagi untuk uji PCR memakan waktu yang lama.
Durasi dari pengambilan sampel hingga keluar hasil untuk PCR bisa mencapai 12 jam bahkan 26 jam.
Risikonya adalah penumpang bisa saja terpapara Covid-19 setelah pengambilan sampel kemudian tetap berangkat karena hasil PCR sudah keluar.
Abdullah menyarankan syarat untuk bepergian jarak jauh menggunakan pesawat atau kereta api sebisanya menggunana swab antigen saja.
Menurutnya swab antigen lebih efisien ketimbang PCR karena harga yang murah dan sudah bisa dilakukan di semua daerah.
















