TOKYO – Olimpiade Tokyo 2020 (2021) terus menjadi sorotan dunia. Karena menggelar sebuah pesta olahraga dunia di tengah pandemi adalah sebuah ide yang sangat buruk.
Bagaimana itidak, Olimpiade dipastikan melibatkan belasan ribu orang dari 205 kontingen yang datang ke kota tuan rumah. Kekhawatiran besar mencuat di tengah kondisi saat ini. Karena dunia masih bergulat dengan Covid-19 yang justru terus mengganas akibat kehadiran varian Delta.
Termasuk dari warga Jepang sendiri, banyak yang meminta Olimpiade Tokyo dibatalkan. Bahkan WHo memberi prediksi mengerikan, bahwa setidaknya 100 ribu orang akan tewas karena covid-19 usai Olimpiadfe.
Namun, anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. setelah ditunda setahun, Olimpiade tetap bergulir secara resmi pada 23 Juli hingga 8 Agustus mendatang. Atlet-atlet dari berbagai penjuru muka bumi sudah tiba di Negeri Matahari Terbit dalam sebulan terakhir.
Panitia Penyelenggara berjanji akan melakukan usaha terbaik demi mencegah penyebaran virus corona. Salah satunya dengan melarang suporter dari luar negeri, serta mengosongkan kursi penonton di mayoritas venue.
Namun, di tengah berbagai pertanyaan dan pro kontra terhadap penyelengaraan Tokyo 2020, ternyata masih ada Olimpiade yang lebih bermasalah dan lebih buruk. Ajang itu adalah Olimpiade 1904 di St Louis.
Saking buruknya, sampai-sampai sejarawan William O Johnson Jr menyebut St Louis 1904 sebagai “Olimpiade yang lebih baik dilupakan”

Tahun 1904 adalah Olimpiade pertama yang digelar di luar Eropa. Keputusan menunjuk Amerika Serikat sebagai tuan rumah jelas merupakan kegilaan dari sebuah eksperimen besar.
Tidak hanya dipisahkan Samudera Atlantik, kota penyelenggara St Louis juga terletak di barat tengah AS. Butuh waktu panjang dan biaya besar untuk mencapainya.
Terbukti, hanya 12 negara yang berpartisipasi. Di sejumlah cabor, seluruh atlet yang berkompetisi bahkan berasal dari Negeri Paman Sam.
Dalam kondisi ini, tidak heran jika tuan rumah merebut 238 medali, unggul 223 dari Jerman yang menempati peringkat dua.
Jumlah penonton juga sedikit karena penyelenggaraan Olimpiade bertepatan dengan Pameran Dunia di kota sama. Masyarakat lebih tertarik datang ke acara tersebut ketimbang Olimpiade.
Dan, mulailah berbagai kisah unik dan mengerikan hadir di balik Olimpiade St Louis. Ada pesenam AS berdarah Jerman merebut enam medali meski kaki kirinya diamputasi. Menggunakan kaki palsu, dia meraih emas di kuda lompat walau tidak menggunakan papan lompat.
Ada pula Seorang juara tinju menggunakan nama palsu. Sementara cabang olahraga renang berlangsung di danau asimetris. Dan banyak lagi kisah unik yang terjadi.
Namun, cerita paling menarik sekaligus mengerikan hadir di nomor maraton. Cabang ini melibatkan banyak atlet amatir. Semuanya bisa berlari dan ikut Olimpiade.
Fred Lorz adalah tukang bangunan dari New York. Dia berkompetisi melawan Felix Carvajal, warga Kuba yang berprofesi sebagai pengantar surat. Hampir melewatkan Olimpiade karena kehilangan uang perjalanan dari sponsor karena kalah judi, Carvajal akhirnya tiba juga di St Louis.
Lomba berjalan sulit. Peserta bersaing dalam jalan berdebu, cuaca panas, dan melewati trek menantang, melewati kemacetan serta kerap berpapasan dengan warga yang membawa anjing berjalan.
Panitia juga menerapkan peraturan ‘kejam’ dan hanya memberi kontestan dua waktu untuk minum. Dalam kondisi ini, tidak heran jika pelari bertumbangan.

William Garcia jadi korban pertama. Debu menutupi kerongkongannya dan membuat dirinya mengalami pendarahan internal. Menurut dokter yang memeriksa, Garcia bakal tewas jika terus berkompetisi.
Salah satu pelari dari Afrika Selatan melenceng beberapa kilometer karena dikejar anjing liar. Sementara Carvajal coba mengatasi dehidrasi dan mengonsumsi buah sembari berlari. Namun, akibat terlalu banyak memakan apel, dia berhenti karena menderita keram perut.
Lorz menemukan ide brilian mengatasi kondisi walau melanggar sportivitas. Dia menumpang mobil dan sempat melambai saat melewati rival. Mendapat bantuan tersebut, Lorz akhirnya melewati garis finis pertama.
Meski begitu, kecurangannya diketahui sesaat sebelum penyerahan medali. Lorz didiskualifikasi dan lomba dilanjutkan.
Thomas Hicks, yang memimpin di awal lomba, begitu dehidrasi sampai harus dipapah dua orang di sisa kompetisi. Begitu dehidrasi, dia meminum air suling, campuran telur putih dan pestisida, serta alkohol di berbagai titik rute maraton supaya kuat melanjutkan.
Hicks akhirnya mendapat medali emas. Dia baru kuat berdiri sendiri setelah diperiksa empat dokter berbeda sejam setelah naik podium.
















