Oleh : Abdullah Khusairi
“Selamat berjuang, kawan. Salam hormat atas segala pengorbanan. Insya Allah berkah. Selamat ulang tahun juga untuk anak dan isteri tercinta. Doa mereka membuatmu kuat dan selamat dari arena pertempuran dengan kemenangan. Amin ya rabb. Ya Allah, beri kekuatan kepada sahabatku ini.”
Itulah kalimat yang sanggup saya tulis kepada seorang teman, setelah melihat sebuah foto dirinya yang sedang memakai baju azmat di RSUD dr Rasidin Padang. Pada foto itu, ia membentang kertas bertuliskan ucapan selamat tahun kepada isteri tercinta, lengkap dengan namanya. Pada kertas lain terucap sayang kepada putri tercinta. Foto itu diunggah di status whatsapps. Tentu ia sedang tak bisa bertemu langsung dengan kedua orang tercinta itu karena keadaan.
Saya terharu. Membayangkan seorang sahabat yang tak bisa pulang seperti hari-hari biasa, di bulan penuh berkah ini. Bulan yang seharusnya ia berkumpul dengan keluarga tercinta. Tugas berat harus dilaksanakan dengan suasana yang berbeda. Pada hari yang patut dirayakan, ia tak pula bisa bersama.
Dana Sosial
Covid-19 telah menyeret kita dalam kehidupan darurat. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bukanlah hal sepele. Sayangnya penerapannya masih setengah hati. Sementara itu, dana sosial dari pemerintah belum juga terealisasi. Begitu lamban proses hingga sampai kepada mereka yang berhak. Tuntutan perut tidak bisa ditunda tetapi administrasi, birokrasi, keberanian pemimpin, ketangkasan aparatur, selalu menjadi tanggul-tanggul yang membuat dada kian sesak terasa. Bukan Covid-19 yang akhirnya membuat sakit tetapi lebih kepada keadaan yang dibentuk oleh peraturan dan pengaturan yang setengah hati itu.
Instruksi sepertinya tinggal instruksi. Aktivitas masyarakat masih seperti biasa. Bukan tidak ada yang bertahan di rumah, keluar sesekali, tetapi kenapa masih begitu ramai di jalanan? Kenapa pelarangan masih belum efektif, sementara kita hendak cepat memutus mata rantai pembawa wabah ini? Ini kembali kepada sistem koordinasi yang lemah dari aparat pemerintah. Kita sungguh menyayangkan ini.
Foto sahabat saya tadi, satu dari sekian banyak pejuang, yang bukan hanya para tim medis, tetapi juga tenaga non medis, di setiap rumah sakit dibuat sibuk. Protokol penanganan yang khusus membuat rumit tanpa ampun, harusnya dipahami publik. Tetapi publik tidak sampai pemahamannya dengan baik, buktinya masih tak peduli dengan keadaan yang terjadi, sepertinya belum cukup paham, sehingga belum cukup cemas dan takut dengan keadaan. Atau bisa pula, mereka paham tetapi desakan kebutuhan keluarga terpaksa harus keluar rumah mencari rezeki.
Cermin Kehidupan
Sementara itu, angka-angka positif Covid-19 Sumbar terus meninggi. Sinyal horor menakutkan terjadi di minggu-minggu ke depan. Semoga tidak, kita harus kuat, berdoa, bekerja, sekecil apapun kebaikan untuk membantu sesama akan diperhitungkan. Sebaliknya sekecil apapun kejahatan akan diperhitungkan. (QS.99: 7-8).
Hidup kita laksana cermin, apa yang diperbuat itulah yang akan kita dapat. Kita harus saling membantu menghadapi wabah, harus membuang egoisme, kepentingan pribadi, yang belum mendesak lupakanlah dulu. Ini masa dimana kita mesti berkorban untuk kebaikan bersama. Karenanya, tetap di rumah menjadi kebaikan, bisa diniatkan menjadi ibadah. Lalu perbanyak berdoa dan beribadah. Ambil hikmah dari orang-orang yang sedang berjuang, menolong mereka yang terpapar wabah, berdoalah untuk mereka agar mereka kuat, agar mata rantai wabah segera terpotong. Tidak menular lagi.
Lebih dari itu, jika memang mampu himpunlah kekuatan sosial, bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan, infaq sedeqah, kepada mereka yang terdampak begitu berat. Jangan ada tetangga kita yang kelaparan, itu begitu buruk dan besar dosanya bagi orang-orang beriman. Ramadan kali ini telah memberikan pengajaran yang lebih dari Ramadan tahun lalu, kita harus memaknainya dengan kebajikan yang lebih pula. Tidak sekadar melawan hawa nafsu tetapi harus berjibaku berjuang dan berkorban untuk lepas dari ancaman wabah.
Satu lagi, tetaplah bersyukur, berzikir, berdoa, inilah sandaran paling kokoh dari segala tantangan kehidupan ini. Tak perlu takut putusnya rezeki karena PSBB ini, sebab sudah dijamin Allah Swt. Termasuk semut hitam di dalam batu hitam. “Mintalah kepadaku, akan kuberikan” (QS.40:60) Bahkan “dari jalan yang tak disangka. (QS.65: 2-3). Kuncinya, kata Imam Al Ghazali, menyandarkan kepada Allah Swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepadaNya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana disertai jiwa yang tenang dan hati yang tenteram. Itulah
bertawakkal. Wallahu’alambishshawab.
“Amin ya rabb. Masya Allah, terima kasih. Saya terharu.” Balas teman saya. Pun saya, telah sejak awal terharu karena melihat foto dirinya memakai baju azmat dengan dua kertas bertulis tangan itu. Salam hormat, kawan! *
















