Dokter Ardoni, You’ll Never Walk Alone

Penulis -

Jumat, 1 Mei 2020 - 21:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Rizal Marajo
(Wartawan Utama)

Saya terpana di tengah malam itu, ketika di medsos bersileweran info tentang 13 Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Kota Padang Panjang positif terinfeksi Covid-19. Untuk lebih meyakinkan dan memastikan, saya langsung hunting ke laman Kominfo Padang Padang.

Ternyata benar, lembaga jubir Pemko itu baru saja memposting hal yang sama. Di bawahnya ada tulisan kecil, 15 menit yang lalu. Di malam dingin itu, seketika warga Padang Panjang dan sekitarnya galebuik dengan berita itu.

Booom! pacah talue langsung menghantam 13 orang yang terjangkit. Padahal sebelumnya saya mengira, bahkan merasa lega saat kota kecil ini punya keseriusan dan konsep bagus mengantisipasi menyebarnya wabah. Namun, tetap agak mengherankan dan sedikit shock, sekali kecolongan tiba-tiba langsung dengan jumlah besar.

Kehebohan ini sebenarnya hanyalah klimaks dari kasus positif pertama yang ditemukan di RSUD menimpa seorang pasien Warga Nagari Panyalaian, Tanah Datar. Banyak sisi-sisi lain yang menyeruak setelahnya, dan menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran publik.

Ada testimony seorang bidan yang beredar di berbagai WAG tentang kronologis perjalanan medis si pasien positif. Ada pula pihak RSUD yang merasa perlu menggelar jumpa pers menjelaskan dan meluruskan soal prosedural penanganan pasien dimaksud saat kunjungan ke RSUD. Termasuk langkah-langkah yang akan diambil pasca kasus positif pertama itu.

Dalam kehebohan ini tiba-tiba saya teringat dokter Direktur Utama RSUD itu. Dia sepertinya benar-benar sedang diuji saat ini. 13 orang terjangkit bukan kasus yang sedikit, sangat luar biasa untuk ukuran kota sekecil Padang panjang. Ironisnya yang terinfeksi adalah staff dan bawahannya.

dr. Ardoni, teman saya semasa menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Andalas, tahun 1995 silam. 25 tahun lalu saya sudah mengenal anak Kedokteran satu ini sebagai sosok yang sangat kharismatik, cerdas, seorang yang sangat berbakat sebagai leader, dan saya menilainya orang baik.

Kami KKN di Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam, dia koordinator tim KKN Unand di Kecamatan itu, walau penempatannya dengan saya beda nagari. Namun, setelah KKN berakhir komunikasipun terputus total.

Setelah itu mungkin dia telah sibuk menjalani Sumpah Hippokrates, sebagai tenaga medis yang mengabdi untuk dunia kesehatan dan kemanusiaan. Sedangkan saya bergelut dengan dunia jurnalistik.

Dia mungkin sudah lupa saya, tapi saya tak lupa sosok pria flamboyant yang tak pernah membedakan rekan-rekan sesama peserta KKN, apapun fakultasnya. Dia tak merasa lebih tinggi, bergengsi, dan hebat sebagai anak kedokteran. Dia tetap respect dengan saya yang dari Fakultas Sastra, begitupun terhadap kawan-kawan yang lain.

Terakhir bertemu, saya terkesima melihatnya saat mengisi khotbah Shalat Ied di Mesjid kampung saya tahun 2018 lalu. Sosok yang benar-benar komplit, semakin matang, ketika dia bisa melengkapi sisi sains dan keilmuan di bidang medis dalam dirinya dengan sisi sebagai pendakwah bagi umat.

Kini sosok hebat itu sedang diuji, karena dia sekarang adalah titik fokus perhatian publik ketika badai Covid menghantam institusinya. Ketika 13 staf-nya terjangkit dalam satu moment, membuat segala konsep dan protokol yang disiapkan RSUD mengantisipasi penyebaran wabah seperti runtuh seketika.

Apakah ada faktor kelalaian? apakah prosedur penanganan pasien sudah berjalan sebagaimana mestinya? apakah petugas medis tak siap dan tidak peka dengan kondisi pasien? Bagaimana antisipasi ke depannya?

Dan, begitu banyak pertanyaan publik yang mengemuka setelah booming 13 kasus, dan tidak tertutup kemungkinan akan terus bertambah. Semua itu harus dijawab oleh sang dokter dengan pas dan tepat.

Tapi, saya percaya dokter Doni akan berhasil melewati situasi sulit yang saya yakini sebagai badai terbesar yang dialaminya sepanjang karirnya di bidang medis. You’ll never walk alone, doc. (*)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
IKHLAS itu MUDAH
Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional
Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak
Munajat Cinta di Sepenggal Tanah Surga
Muktamar NU ke-35, Menentukan Arah Khidmah NU dan Masa Depan Umat
Di Tanah Kelahiran, Harapan Kami Menggantung di Ujung Pena Regulasi

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Minggu, 13 September 2026 - 05:44 WIB

IKHLAS itu MUDAH

Rabu, 2 September 2026 - 13:57 WIB

Menata Ulang Lanskap Kebijakan Kesejahteraan: Dari Ilusi Desil Menuju Taksonomi Pendapatan Berbasis Keadilan Konstitusional

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:36 WIB

Sekolah Berbasis Potensi, Minat dan Bakat Anak

Berita Terbaru

Daerah

Tidak Semua Anak Pulang ke Rumah yang Sama 

Rabu, 7 Okt 2026 - 12:01 WIB

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB