Masa Pandemi Covid-19 dan PSBB, Moment Pertanian Untuk Bangkit dan Lebih Mandiri di Negaranya Sendiri

Penulis -

Rabu, 29 April 2020 - 15:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Silvia Permata Sari, Dosen Fakultas Pertanian, Universitas Andalas

 

Padang, Prokabar — Tak terasa masa pandemic Covid-19 sudah memasuki bulan kedua di Indonesia, termasuk Provinsi Sumatera Barat. Total warga yang terinfeksi Covid-19 hingga Rabu  29 April 2020 dari Kepala Biro Humas Setda Provinsi Sumbar, Penanganan Covid-19 Sumbar adalah 145 orang.

Dampak masa pandemi Covid-19 ini makin dirasakan pada berbagai sektor kehidupan, terutama Sektor Pertanian. Masa pandemi Covid-19 tersebut mempunyai implikasi dalam mata rantai jaringan produksi barang dan jasa pertanian.

Ketersediaan bahan baku dan distribusi barang dan jasa pertanian antar  negara pun terganggu, bahkan terhenti. Keadaan ini makin diperparah sejak adanya aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).


Terganggunya siklus produksi tersebut dapat menyebabkan harga bahan pangan di pasaran tidak stabil. Contohnya gula pasir, beras, minyak goreng, telur, bawang merah, bawang putih dan bahan pangan lainnya. Hal itu disebabkan permintaan lokal yang akan melonjak tajam di masa pandemi Covid-19 dan PSBB ini, apalagi saat ini bulan Ramadhan dan lebaran Idul Fitri nanti.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Negara kita dikenal dengan sebutan negara Agraris, namun SDA dan SDM nya belum banyak dimanfaatkan dengan baik. Kini saatnya, pertanian kita bangkit. Berbicara Pertanian berarti berbicara hidup dan mati, seperti ungkatan: “no food, no life”. Itu karena berhubungan dengan perut.  

Masa pandemi Covid-19 ini seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, musibah Covid-19 ini bisa dijadikan momentum bagi sektor pertanian kita untuk mandiri dan maju di negerinya sendiri. Impor komoditas pertanian dariChina ditutup atau dihentikan, maka saaatnya pertanian dan petani kita berdaulat di negerinya sendiri.

Dengan kata lain, masa Pandemi Covid-19 bisa menjadi faktor pendorong peningkatan produktivitas pertanian di dalam negeri. Pemerintah kita dapat meningkatkan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) terutama petani.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Banyak usaha yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian kita baik dari segi SDA maupun SDM, antara lain: teknologi pemupukanyang tepat, pemilihan benih unggul, serta tahan hama dan penyakit, penggunaan teknologi online dalam pemasaran produk hasil pertanian.

Selain bantuan sarana produksi tani (saprotan), salah satu hal yang tak kalah penting dilakukaan adalah kegiatan sosialisasi dan pelatihan bagi petani.

Pada masa pandemi Covid-19 ini, pemerintah dapat melakukan kegiatan sosialisasi atau pelatihan bisa dilakukan secara daring. Adapun tujuan sosialisasi atau pelatihan tersebut adalah sebagai sarana men-chargerulang dan mentransfer informasi temuan-temuan terbaru hasil penelitian di Perguruan Tinggi sebagai update ilmuke petani, sehingga petani kita bisa lebih maju dan kreatif dalam bertani.

Baca Juga :  Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Kegiatan sosialisasi tersebut juga mencakup bagaimana pemasaran. Petani kita perlu diajarkan bagaimana memanfaatkan teknologi online untuk pemasaran hasil pertaniannya. Kegiatan tersebut bisa dilakukan secara mandiri maupun berkelompok, baik dalam tanaman pangan maupun tanaman hortikultura. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali kelompok tani dan koperasi tani di setiap wilayah.

Intinya pertanian kita harus dihandle dari hulu hingga hilir, dari proses budidaya (penanamannya) hingga pemasarannya.Pemerintah kita tidak hanya memberi bantuan dana atau saprotan saja, tetapi juga harus memikirkan bagaimana pemasaran hasil pertanian tersebut layak dari segi harga hingga ke tangan konsumen.

Perubahan itu semua tentu perlu kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga pelaku pertanian itu sendiri (petani). Sehingga cita-cita bangsa kita seperti yang diutarakan Presiden Soekarno dulu bisa terwujud. Salam Pertanian. (***)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman
Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi
Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur
Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?
Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali
Uluwatu dan Pelajaran Tentang Kesadaran Manusia Sebagai Pemimpin di Muka Bumi
IKHLAS itu MUDAH
Syekh Burhanuddin Ulakan (Ulama yang Mengubah Surau Menjadi Pusat Peradaban Islam Minangkabau)

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:33 WIB

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 29 September 2026 - 11:11 WIB

Penanganan Karhutla Indonesia Berbasis Teknologi

Selasa, 29 September 2026 - 10:10 WIB

Pendidikan Gratis, Jalan Menuju Indonesia yang Cerdas, Adil dan Makmur

Jumat, 25 September 2026 - 11:22 WIB

Mengapa Manusia Membutuhkan Oksigen di Udara?

Senin, 21 September 2026 - 11:49 WIB

Pura Luwur Gunung Kukus Gwa Gong, Jejak Keindahan Seni dan Kearifan Leluhur Bali

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB