Padang, Prokabar – Penampilan Kalista Iskandar sebagai wakil Sumatera Barat di ajang Putri Indonesia 2020 yang tidak bisa membacakan butir pancasila yang ditanyakan oleh Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo menjadi perbincangan di Ranah Minang. Alhasil, banyak kiritikan yang di tujukan kepada Kalista dan Pemprov Sumbar.
Anggota DPRD Kota Padang Budi Syahrial memberikan kritikan langsung kepada pemerintah. Menurut Budi, ketidak mampuan wakil Sumbar dalam melafalkan Pancasila merupakan imbas dari kurangnya kualitas membangun pendidikan karakter yang sedang digalak-galakkan pemerintah.
“Kejadian ini merupakan dampak dari dikurangi jam membangun pendidikan karakter di bangku perkuliahan. Dampaknya, untuk melafalkan pancasila saja tidak bisa, apalagi ditanya tentang rasa kebangsaan,” tegasnya.
Lebih lanjut Budi mempertanyakan asal muasal Kalista Iskandar terpilih sebagai wakil Sumbar dalam pemilihan Putri Indonesia 2020.
“Apakah Kalista pernah mengenyam bangku pendidikan SMP, SMA, di Sumbar? Atau hanya kelahiran Sumbar saja, sehingga di orbitkan untuk mewakili Sumbar, karena di Sumbar tidak ada wakil yang bisa di ikut sertakan? Pihak yang mengirim wakil di Putri Indonesia jangan hanya mengejar aspek bisnis dan ambisi saja, sehingga mencari perwakilan di luar Sumbar,” kecamnya.
Sementara Ketua DPW Gebu Minang Sumbar, H Boy Lestari Dt Palindih menuding pemerintah kurang aktif mengawal konsep-konsep dari Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.
“Empat pilar tersebut adalah Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Empat pilar ini wajib di ketahui masyarakat, dan wajib di ajarkan secara berulang di sekolah dan perguruan tinggi. Ketidak mampuan wakil sumbar dalam menglafalkan Pancasila sangat memalukan masyarakat Sumbar yang banyak melahirkan pahlawan nasional. Kesalahan ini tidak boleh terulang lagi, dan semua pihak harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Selanjutnya, Boy Lestari mengkritisi pakaian yang di gunakan oleh wakil Sumbar di ajang Putri Indonesia.
“Tidak dapat di percaya, pakaianan yang digunakan wakil Sumbar, tidak mencerminkan budaya Minangkabau. Tidak ada pakaian wanita Minangkabau yang membuka aurat,. Harus ada yang bertanggung jawab tentang pakaian wakil Sumbar ini,” kecamnya.
Di lansir dari halaman Wikipedia Kalista Iskandar lahir di Bukittinggi, 15 Juli 1998. Warga keturunan Tiongha -Amerika ini merupakan seorang peragawati, dan entrepreneur tercatat menamatkan kuliah bidang hukum di Universitas Pelita Harapan. Selanjutnya pendidikan gelar Magister dibidang Komunikasi Managemen di Universitas Trisakti Jakarta.(mbb)
















