Muaro Sungai Lolo, Nagari di Atas Awan Penyimpan Segudang Sejarah

Penulis -

Minggu, 8 Maret 2020 - 13:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasaman, Prokabar — Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapattunggul Selatan cukup ramai akhir-akhir ini. Silih berganti orang-orang berkunjung merealisasikan bantuan, pasca diterjang galodo beberapa pekan lalu. Di balik itu semua, tersimpan beberapa keindahan dan sejarah yang menarik untuk ditelisik.

Nagari Muaro Sungai Lolo, pantas disebut nagari di atas awan. Jalan ke sana banyak bukit yang teramat tinggi untuk dilalui. Terkadang, kalau lah berjalan subuh, jalanan tertutup kawanan kabut awan.

Perihal kemajuan dan fasilitas yang ada, nagari ini jauh dari kata cukup. Bahkan, untuk sebuah sinyal telekomunikasi pun, susah didapat. Ada pula titik tertentu baru bisa dapat sinyal.

Hal inilah yang dirasakan dan disampaikan Pendamping Desa Pemberdayaan Kecamatan Mapattunggul Selatan, Mulyadi Putra, Minggu (8/3).

“Teramat banyak hal menarik di Muaro Sungai lolo. Masyarakatnya yang jauh dari beradapan kota, hidup dalam kedamaian, dan perlu perjuangan keras untuk bertahan hidup di sini,” kata Mulyadi.

Baca Juga :  Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Paling menarik yang diketahui Mulyadi ialah, adanya pahlawan Nasional yang pernah tinggal di Muaro Sungai Lolo. Pahlawan ini,  Mr. Syafruddin Prawiranegara. Mulyadi sekaligus pemerhati sejarah dan budaya ini menuturkan, dari berbagai sumber yang ia telisik, pahlawan Mr. Syafruddun Prawiranegara pernah berdiam diri di Rotan Gotah, Nagari Muaro Sungai Lolo, kurang lebih tiga bulan lamanya.

“Mr. Syafruddin Prawiranegara adalah tokoh yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional pada masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Tepatnya pada tanggal 8 November 2011 silam, di Istana Negara. Alasannya, beliau pernah menjabat Pimpinan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Terhitung dari tanggal 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949,” kata Mulyadi.

“Ini saya simpulkan setelah berdialoq dengan salah satu sesepuh Muaro Sungai Lolo, Pak Obak yang usianya 99 tahun,” lanjut Mulyadi.

Baca Juga :  Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Diakui Mulyadi, pengakuan Pak Obak, ia adalah salah satu dari sekian orang suruhan Syafruddin untuk pergi menjemput dan mengantarkan air ke kediaman beliau di Rotan Gotah, baik itu untuk keperluan makan dan minum maupun mandinya.

“Karena faktor umur, Pak Obak cukup terbatas dalam.memberikan informasi. Selanjutnya, apa dan mengapa kegiatan sehari-hari Syafruddin selama tinggal di Rotan Gotah, saya sendiri kurang tahu. Sebab pada masa itu ia sangat jarang terlihat berada di luar rumah. Begitu sangat hati-hatinya beliau saat berada di Rotan Gotah. Itu pengakuan Pak Obak,” jelas Mulyadi.

Dikatakan Mulyadi, semasa di Muaro Sungai Lolo, Syafruddin menempati rumah kaum dari suku Piliang, yang penghulu datuknya bergelar datuk Mangkudum.

Rumah itu sampai sekarang masih eksis, walaupun keadaan fisiknya sudah reot dimakan rayap dan ditelan masa. Tetapi rumah tersebut masih difungsikan sekali dalam setahun  dalam acara naik ka Rumah Gadang setelah melaksanakan shalat Idul Fitri dari kaum Datuk Mangkudum.

Baca Juga :  KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selain itu lanjut Mulyadi, bukti keberadaan Syafruddin yang bisa dilihat sampai detik ini ialah Bukit Kuning. Bukit di mana tiang pancang pemancar radio Syafruddin tidak saja menghujam bumi Rotan Gotah, melainkan suaranya juga pernah bergema dari sana.

“Memang, temuan sementara saya ini tidak tersurat dalam buku sejarah atau semacamnya. Dalam buku kajian sejarah Indonesia pun belum pernah ditemukan. Maka sekali lagi, kami mewakili warga Rotan Getah khususnya dan Nagari Muaro Sungai Lolo, Kecamatan Mapattunggul Selatan, mohon perhatian dari pemerintah untuk Muaro Sungai Lolo lebih baik dan bisa dikenal di dalam sejarahnya Pasaman,” tukas Mulyadi. (Ola)

Follow WhatsApp Channel prokabar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan
Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026
Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar
Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar
HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering
Keputusan Tim Keabsahan PORPROV Dipertanyakan, KONI Padang Pariaman Sebut Kasus Atlet Tentrem Pangestuti Belum Tuntas
Dibalut Tradisi Makan Bajamba, Malam Resepsi HUT ke-81 Sumbar Perkuat Kebersamaan dan Kolaborasi
KAI dan Polda Sumbar Perkuat Kolaborasi Hadapi Potensi Ancaman Terorisme di Moda Transportasi Kereta Api

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:55 WIB

KAI Divre II Sumbar Kembali Imbau Penumpang Jaga Ketertiban dan Kenyamanan Selama Perjalanan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:53 WIB

Pelanggan WNA KAI Divre II Sumbar Tumbuh Positif, Capai 5.427 Pelanggan hingga Agustus 2026

Selasa, 6 Oktober 2026 - 13:50 WIB

Stasiun Duku Penghubung Perjalanan Masyarakat, Layani Seluruh KA Penumpang Divre II Sumbar

Senin, 5 Oktober 2026 - 07:30 WIB

Gebyar Pajak 2026, Gubernur Ajak Masyarakat Taat Pajak untuk Pembangunan Sumbar

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:13 WIB

HUT Pasaman Belasan SMA Sederajat Ikuti Lomba Pionering

Berita Terbaru

Artikel

Pukul 23.00 WIB, Uang Tak Laku Lagi di Pasaman

Selasa, 6 Okt 2026 - 20:33 WIB