Batusangkar, Prokabar – Nagari tua Pariangan di Sumatera Barat, ternyata merupakan sumber utama dan pertama batik di Minangkabau. Setidaknya di sini rakyat sudah membuatnya sejak abad 18.
Tak ada yang menyangka, jika Nagari tempat asal-usul masyarakat Minangkabau itu adalah awal pola batik di Minangkabau. Nagari ini juga dinobatkan sebagai desa terindah di dunia. Asal-usul batik Sumatera Barat terungkap tahun 2017.

Adalah Irwan Malin Basa, akademisi di salah satu perguruan tinggi di Sumbar, berhasil menggali isi dari beberapa manuskrip yang telah dilakukan sejak 2006 . Dalam penelitian Irwan, masyarakat Minangkabau sudah mengenal teknik memindahkan warna pada kain sejak 1730. Tidak hanya batik, masyarakat Minangkabau pada tahun yang sama juga sudah mengenal teknik menenun dan songket.
“Ada 127 buah manuskrip yang tersimpan di surau tarekat satariyah milik ayah saya. Nika saat ini kita lazim menyebut dengan batik, namun dalam naskah kuno tersebut ditulis tidak batik, dulunya disebut dengan Makau,” kata Irwan.
Selain mengkaji sejarah batik, dalam hasil manuskrip juga disebutkan jika ada proses design atau corak dan pewarnaan yang dilakukan masyarakat Minangkabau. Pada 1730 tersebut, terdapat 15 macam tumbuhan yang digunakan sebagai pewarna batik oleh masyarakat.

“Ada 15 macam tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai pewarna batik, seperti pohon surian, jambu biji, mangga, mengkudu, ilalang, pohon jengkol dan beberapa tumbuhan lainnya. Selain itu, juga tertulis 25 corak batik asli Pariangan,” tutur Irwan.
Meski Pandai Sikek merupakan salah satu sentral tenun di Sumatera Barat, namun menurut Irwan Malin Basa, pengrajin tenun di daerah tersebut tidak menampik jika tenun yang mereka produksi berasal dari Nagari Pariangan. Kini, untuk melestarikan hasil kajian tersebut, di Nagari itu telah banyak pengrajin batik yang corak maupun warna batiknya sesuai dengan manuskrip tersebut.

Pelaku usaha atau pengrajin batik Pariangan sangat berharap adanya peran pemerintah daerah dalam pengembangan dan pemasaran batik pariangan kedepannya. Ketiadaan sarana dan prasarana yang lengkap juga menjadi kendala utama produksi batik pariangan saat ini. (eym)
















